Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Rizka Bayu Wirawan

Pendidikan : -TK Mexindo Bogor (1983-1985) -SD Regina Pacis Bogor (1985-1991) -SMP Regina Pacis Bogor (1991-1994) -SMU Negeri 1 selengkapnya

Dari Tapak Suci Sampai Krav Maga

OPINI | 18 April 2013 | 16:15 Dibaca: 1494   Komentar: 2   0

Ketika melepas saya yang pergi menggunakan bis umum (kalau tidak salah nama bisnya Aladin) dari Terminal Banjar Patroman menuju Purwokerto sepulang liburan keluarga di Pangandaran saat liburan kenaikan kelas 1 SMP tahun 1992, bapak mewanti-wanti saya untuk menjaga diri baik selama dalam perjalanan di bis, maupun selama berlibur di Purwokerto dan Banjarnegara. Pesan bapak waktu itu “jangan sok jagoan, simpan uang di beberapa tempat, kalau sampai dizalimi baru boleh membela diri, tapi kalau tidak mampu melawan dan masih bisa meminta tolong dan lari, maka larilah sekencang-kencangnya dan sejauh-jauhnya”.

Nasehat yang kurang lebih sama tetapi lebih “keras” pernah saya dengar dari bapaknya teman saya, seorang petinggi organisasi kepemudaan di Bogor. Saking seringnya beliau mendapati anaknya berkelahi, pada suatu waktu ketika menunggui anaknya yang tengah terkapar di rumah sakit karena dikeroyok orang, saya mendengar sendiri beliau setengah mengancam berkata “Sekali lagi kamu berkelahi atau petentang petenteng jadi jagoan, papa belikan becak biar kamu sekalian jadi tukang becak”. Lepas dari sahabat saya yang serius mempelajari Silat Cimande ini gayanya memang seperti jagoan (tetapi orangnya baik), tetapi apa hubungannya antara tukang becak dengan jagoan he he he.

Meskipun tidak pernah menunjukkan keahlian bela diri silatnya di hadapan anak-anaknya, bahkan bapak menganjurkan kami untuk berlatih karate yang menurut beliau sarat dengan keindahan, setahu saya bapak dan kakek adalah murid Perguruan Silat Tapak Suci yang merupakan seni bela diri Ormas Muhammadiyah yang didirikan pada tahun 1963 di daerah Kauman, Yogyakarta. Tapak Suci sendiri memiliki akar yang kuat di Banjarnegara karena KH Busyro Syuhada, guru besar Tapak Suci merupakan pimpinan Pondok Pesantren Binorong, Banjarnegara yang aktif mengembangkan Silat Banjaran di akhir abad ke-19 sebelum akhirnya dinamakan Tapak Suci.

Seumur hidup saya, baru lima kali saya membela diri secara fisik. Yang pertama ketika seorang homoseksual mencoba mengerjai saya di angkot 01 jurusan Baranangsiang-Ciawi saat kelas 2 SMP. Kedua saat saya menolong almarhum kakak saya yang nyaris dikeroyok sekitar 8 orang siswa STM di depan Bogor Internusa Plaza (sekarang ex-Pangrango Plaza). Ketiga dan keempat saat mengikuti kejuaraan karate Walikota Cup nomor kumite (pertarungan bebas) yang dua-duanya terhenti di babak perempat final. Dan terakhir ketika dikerjai pencopet di metromini 20 jurusan Senen-Lebak Bulus.

Saat mengikuti kejuaraan karate, lawan yang mengalahkan saya adalah artis Sultan Djorghie yang berasal dari Perguruan Lemkari, kalau tidak salah dojonya (tempat berlatih) dulu di SMP Mardi Yuana Bogor. Meskipun dulu badannya tergolong kurus, tetapi tendangannya keras sekali sampai-sampai pergelangan tangan saya sempat mati rasa karena kesakitan menangkisnya berkali-kali. Beruntung dia tidak menggunakan senjata pamungkasnya berupa back spin/tendangan memutar (usiro geri). Saya dapat mengatakan disini bahwa “jurus bangau” ala Ralph Macchio di film Karate Kid 2 adalah mustahil untuk diterapkan pada pertandingan karate sesungguhnya, baik pada aliran shotokan, apalagi pada aliran kyokushin yang bersifat full body contact dan beritme cepat mirip Tarung Derajat (Boxer).

Bela diri seperti Merpati Putih (Yogyakarta), Silat Cimande (Jawa Barat), Silat Harimau (Sumatera Barat) dan Tarung Derajat (Jawa Barat), menurut saya adalah jenis bela diri lokal yang “meyakinkan” dan sangat layak disejajarkan (bahkan melebihi) dengan bela diri impor seperti kungfu, karate, taekwondo, aikido, judo, jujitsu dan capoeira. Tetapi secara subyektif saya mengatakan bahwa peragaan rangkaian jurus terindah tetap dimiliki oleh karate dengan kata-nya, terutama Unsu yang merupakan kata lanjutan bagi yang telah bersabuk hitam, yang biasanya dilanjutkan dengan Bunkai (aplikasi jurus untuk demonstrasi). Adegan jurus Silat Harimau yang diperagakan oleh Iko Uwais di adegan pembuka film Merantau di mata saya tidak seindah kata-nya karate.

Self defense yang sedang trend di kalangan eksekutif di kota-kota besar sedikit banyak merupakan “penghalusan” dari seni bela diri Krav Maga agar orang tidak keburu antipati dengan asal negaranya, Isr4el. Negara Yahudi ini mengembangkan seni bela diri yang merupakan gabungan dari beberapa seni bela diri terbaik dunia, dan dijadikan sebagai bela diri wajib personil angkatan bersenjatanya, bahkan diadopsi pula oleh Paspampresnya Amerika Serikat, US Secret Service, saking aplikatif dan praktisnya. Di dalam Krav Maga nyaris tidak ada unsur keindahan, hampir seluruh gerakannya bersifat mematikan dan diarahkan pada bagian-bagian tubuh terlemah manusia sesuai dengan sifat Isr4el yang agresif.

Bagi saya, menguasai ilmu bela diri tertentu itu penting untuk melindungi diri kita ketika menghadapi bahaya. Tetapi jauh lebih penting mengedepankan sikap bersahabat dan bermanfaat bagi sesama sebagai penjabaran konsep rahmatan lil alamin, sekaligus sebagai wujud rasa syukur kita yang dikaruniai kesehatan oleh Allah SWT. Itu semua kan hanya hipotesa saya saja, benar tidaknya masih harus dibuktikan…………………

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengupas Sisi Kemanusiaan Pasar Santa …

Olive Bendon | | 21 October 2014 | 05:56

Di Balik Pidato Jokowi: Stop Menuding Pihak …

Eddy Mesakh | | 21 October 2014 | 16:05

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Foto Gue Dicuri Lagi Bro, Gembok Foto Itu …

Kevinalegion | | 21 October 2014 | 07:41

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 4 jam lalu

Makna Potongan Tumpeng Presiden Jokowi bagi …

Kanis Wk | 6 jam lalu

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 7 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 10 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Ujung Galuh Bukan Surabaya?? …

Lintang Chandra | 7 jam lalu

Surat Terbuka untuk Bapak Presiden Joko …

Ading Sutisna | 7 jam lalu

Ketika Sungai Menjadi Tempat Pembuangan …

Hendra Mulyadi | 7 jam lalu

Berkurangnya Fungsi Pendidikan dalam Media …

Faizal Satrio | 7 jam lalu

Jangan Tantang Rambu Dilarang! …

Johanes Krisnomo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: