Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Abdul Rohdi

mahasiswa sms6, yg sedang mempersiapkan Tugas Akhir

Pengaruh Orang Tua Otoriter terhadap Remaja

OPINI | 19 April 2013 | 23:05 Dibaca: 454   Komentar: 0   0

Orang tua mempunyai peranan yang sangat besar sekali terhadap perkembangan diri seorang remaja. Hal ini disebabkan karena orang tua memiliki banyak waktu untuk mengenal perilaku anaknya dan orang tua yang paling dekat dengan remaja. Hampir sebagian besar waktu remaja dengan orang tua, sebab waktu disekolah sebatas jam belajar, selain itu waktunya banyak dihabiskan dirumah bersama orang tuanya.

Sikap orang tua terhadap remaja akan sangat mempengaruhi bagaimana seorang remaja itu bersikap dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Orang tua yang bersikap otoriter menyukai hal-hal yang jelas dan tidak ambiguous. Jadi setiap hukuman atau disiplin tidak dicairkan dengan kelembutan, penerimaan,dan alasan. Tingkah laku orang tua ini dapat menciptakan suatu konsep diri yang menekankan bagi anak tunagrahita, bahwa dia sangat kurang diterima, berperilaku dan bertampang buruk, dan tindakannya tidak disetujui oleh orang tua atau juga oleh orang lain.

Respon-respon dari anak yang orang tuanya otoriter adalah lebih intens dibandingkan dengan respon-respon dari anak yang orang tuanya tidak otoriter. Karena rasa frustasi dari konsep dirinya yang sedang berkembang,bingung dan umumnya berorientasi negative ditambahkan kepada tingkat dorongan yang biasa. Remaja seperti ini biasanya mengembangkan pengharapkan terhadap hukuman yang digeneralisasikan secara meluas dalam situasi yang baru. Akibatnya pada diri remaja akan timbul suatu kecemasan dan kegelisahan. Jika dibiarkan berlarut tentu akan mempengaruhi hasil belajar, daya konsentrasi, dan emosi yang mungkin mengarah pada penyerangan. Perilaku yang akan muncul dapat menjadikan remaja egois, mengurung diri dalam pergaulan dan memiliki rasa percaya diri yang rendah. Hal yang semacam ini terjadi pada remaja tunagrahita maka akan membuat ia tidak mampu berkembang, mandiri tanpa campur tangan orang lain. Dengan demikian dalam memperlakukan remaja tunagrahita perlu diperhatikan karakteristik individu dan dengan dengan pendekatan yang benar-benar dirasakan sesuai dengan keinginan kedua belah pihak

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 12 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 14 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Tiga Rekor Sekaligus Mampu Ditorehkan …

Idlaw | 7 jam lalu

Demokrasi Sesungguhnya adalah “One …

Feri Setiawan | 7 jam lalu

PM Vanuatu Desak PBB Tuntaskan Dekolonisasi …

Arkilaus Baho | 8 jam lalu

Plus Minus Pilkada Langsung dan Melalui DPRD …

Ahmad Soleh | 8 jam lalu

Bantaran …

Tasch Taufan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: