Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Dhino Yunainto

Manusia dengan 10 jari dan otak yang serba ingin tahu.

Program Pembangunan dan Rencana Strategis Pendidikan Dasar dan Menengah

OPINI | 19 April 2013 | 05:45 Dibaca: 208   Komentar: 0   0

Jangan menjadi asap, yang semakin tinggi tapi kemudian tersamar oleh awan lalu hilang. Tapi jadilah bintang yang semakin malam semakin menerangi penghuni jagat raya.

Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Ketika saya sedang menikmati makan siang bersama teman-teman, salah seorang teman saya berceletuk, “Bagaimana cara lu masuk kampus ini?”. Pertanyaan yang kemudian mengingatkan flashback saya bagaimana sebenernya hingga saya dapat masuk salah satu universitas negeri di Indonesia. Ketika saya Ujian Nasional pada saat itu, saya teringat teman-teman saya mendapatkan kunci jawaban (yang entah benar atau salah) yang dijadikan acuan untuk menjawab soal.

Lalu, melihat betapa buruknya Ujian Nasional pada tahun ini, yang dapat dilihat dari statement Wakil Menteri Pendidikan dan Budaya pada salah satu televisi nasional yang (kalau saya tidak salah ingat) menyebutkan bahwa, “Bagi daerah yang belum mendapatkan soal Ujian Nasional 2013, dapat menggandakan soal tersebut”. Saya kemudian berpikir sejenak, entah akan dibawa kemana negara ini kelak seandainya kejadian ini terus-meneurs terulang.

Yang saya ketahui, ada Program Pembangunan dan Rencana Strategis Pendidikan Dasar dan Menengah yang mencakup tiga hal, pertama pemerataan dan perluasaan akses pendidikan, kedua peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, ketiga pemantapan good governance.

Pertama yaitu pemerataan dan perluasaan akses pendidikan. Di zaman yang sudah canggih, perlu adanya perkembangan ilmu dan teknologi yang didorong oleh SDM yang berkualitas, oleh sebab itu, pendidikan di Indonesia harus menyebar hingga ke pelosok negeri untuk memberikan edukasi bagi masyarakat menengah ke bawah.

Menurut Ono Purbo dalam salah satu catatannya, beliau menyebutkan bahwa di Indonesia yang paling membutuhkan pendidikan adalah mereka yang berada di daerah miskin dan terpencil. Bila dtengok pada keadaan sekarang, jurang pemisah antara “si kaya” dengan “si miskin” dapat dilihat dari dimana mereka bersekolah.

Kedua yaitu peningkatan mutu dan relevansi pendidikan. Bagian ini sangat erat kaitannya dengan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM). Yang saya ketahui, bagi seorang guru untuk dapat naik pangkat salah satu persyaratannya adalah terpenuhinya unsur profesionalisme guru yang diukur melalui jumlah angka kredit.

Tapi keadaan di lapangan menunjukkan bahwa terlalu banyak guru pembina / golongan IVa yang belum mau mengajukan usulan kenaikan pangkat/golongan, karena sebagian besar terbentur pada nilai unsur pengembangan profesi. Dalam hal ini perlu adanya bimbingan dari kepala sekolah terkait pengembangan guru agar profesionalisme guru dapat berkembang secara optimal.

Ketiga yaitu good governance atau kadaan pemerintah yang baik. Seperti pembuka tulisan saya kali ini, Ujian Nasional tahun ini mungkin adalah keadaan Ujian Nasional terburuk yang pernah saya ketahui, dimana Ujian Nasional tidak diadakan secara serentak, kesalah pemilihan pemenang tender pencetak soal Ujian Nasional dituding sebagai pemicunya. Bila kejadian ini terus-menerus terulang, maka perlu adanya reformasi terkait pendidikan di Indonesia.

Seandainya pendidikan, yang digunakan untuk melatih pemimpin bangsa kita kelak telah rusak, lalu bagaimana dengan keadaan pemimpin kita di kemudian hari?

Perlu adanya peningkatan hal-hal yang wajib dilakukan oleh Pemerintah agar bangsa kita dapat menjadi lebih baik dan memiliki daya saing yang tinggi. Selain itu, juga perlu ada pengawasan yang ketata terkait kegiatan belajar-mengajar dan pemberian sanksi yang tergas untuk semua pihak yang berusaha untuk menghancurkan pembangunan pendidikan bangsa Indonesia.

Hidup Mahasiswa!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Logika aneh PKS soal FPI dan Ahok …

Maijen Nurisitara | 9 jam lalu

Usai Sikat Malaysia, Kali ini Giliran Timor …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Warga Menolak Mantan Napi Korupsi Menjadi …

Opa Jappy | 13 jam lalu

Warisan Dapat Jadi Berkah untuk …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu

Jokowi Tak Pernah Janji Rampingkan Kabinet …

Felix | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Sebuah Persembahan untukmu Gus…. …

Puji Anto | 10 jam lalu

Omne Trium Perfectum dan Tri-PAR …

Sam Arnold | 10 jam lalu

Saat R-25 Menjawab Hasrat Pria …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 10 jam lalu

Sombong Kali Kau …

Ian Ninda | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: