Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Restu Bumi

Merah Putih Harga Mati

@SBYudhoyono dan Drama Tasripin

OPINI | 19 April 2013 | 19:06 Dibaca: 496   Komentar: 1   0

Tasripin. Tubuhnya lencir. Usianya baru menginjak 12 tahun. Mukanya agak legam berkat sinar matahari. Tapi siapa sangka, dari sosok seperti ini, tersimpan cerita patriotik yang berhasil menyihir seluruh bangsa Indonesia.

Ya. Tasripin memang bisa dikategori sebagai pahlawan. Jika bukan pahlawan nasional, ia merupakan super hero bagi tiga adiknya yang masih kecil dan lugu. Mungkin Dandi yang berusia tujuh tahun, Riyanti yang berusia enam tahun dan Daryo yang berusia empat tahun, yang merupakan adik-adik Tasripin, belum tahu apa itu arti pahlawan. Mereka pun saya yakin belum memahami apa yang sedang terjadi dalam kehidupan mereka. Namun kelak, mereka bakal tahu siapa sosok Tasripin sebenarnya, kakak yang rela putus sekolah demi tersambungnya kehidupan ketiganya.

Namun kalau ditelusuri, drama Tasripin ini hanya akan menjadi cerita biasa saja seandainya Presiden SBY tidak membuka account pribadi dijejaring social, twitter. Berkat peluncuran @SBYudhoyono, cerita tasripin ini bisa langsung kepangkuan orang pertama dinegeri ini tersebut. Karena tak perlu memakai “ribetnya” jalur birokrasi, Presiden SBY bisa langsung merespon dengan cepat dan bertindak dengan sigap.

Sebagaimana diketahui, cerita haru Tasripin ini bisa sampai ketelinga SBY berkat banyaknya mention pemberitaan bocah Banyumas ini ke account SBY. Beberapa mention yang kemudian di twit @SBYudhoyono antara lain, “@armandmaulana @kompascom @detikcom @shanty78 @ulinyusron terima kasih atas kepedulian & kemanusiaannya terhadap Tasripin *SBY*” begitu twit SBY.

Drama Tasripin menjadi-jadi, saat Presiden SBY memerintahkan TNI untuk merehab rumah memprihatinkan yang ditinggali empat bocah itu di Dusun Lurah. Selain merahabilitasi rumah, SBY juga menyerahkan bantuan melalui staf khususnya dibidang Pangan dan Energi, Hariyanto, berupa uang yang digambarkan sampai tak bisa digenggam oleh Tasripin. Yang lebih mengundang air mata, Tasripin ternyata lebih bahagia ketika menerima bantuan kambing. (mata saya juga berkaca-kaca :-()

Pertanyaanya, apa yang perlu kita maknai dari kisah haru ini?

Hemat saya, kita perlu apreseasi terhadap langkah sigap SBY dalam merespon masalah publik yang menyambangi twitternya. Sikap presiden yang terkesan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan selama ini, tak terlihat dalam kasus Tasripin.

Meski demikian, cerita ngilu kerasnya perjuangan hidup bukan hanya dimiliki oleh Tasripin di negeri kita tercinta ini. Sejatinya, masih banyak Tasripin-Tasripin lain yang juga bernasib serupa. Bedanya, mereka tak mampu menjangkau account @SBYudhoyono guna memperbaiki rute nasib mereka.

Itu sebabnya, langkah Presiden SBY ini hendaknya kita jadikan trigger. Untuk melakukan kebaikan, tidak harus kita selalu melulu menunggu langkah negara. kita hendaknya juga bisa menengok tetangga kiri-kanan kita. Adakah yang juga bernasib seperti Tasripin.

Kita tak perlu menunggu. Meski bantuan kita nantinya tak terekspose layaknya yang terjadi pada di Presiden SBY, namun setidak-tidaknya kita akan dicatat oleh yang Maha Kuasa.

Saatnya, kisah Tasripin ini bisa menjadi langkah awal kesadaran kita bahwa memang masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan. Janganlah kita abai. Melalui tulisan ini, karena hanya itu yang bisa saya lakukan, saya menyerukan, ayo kite perbaiki hubungan baik sesame manusia kita. Ulurkan tangan bagi orang-orang disekitar kita. Karena jika itu terjadi, beban hidup Tasripin-Tasripin lain tentunya bisa kita reduksi.

Untuk Presiden SBY, saya pribadi berterima kasih karena telah mengingatkan saya kembali tentang arti berbagi. Meski dalam posisi yang berbeda, reaksi SBY ini telah menyadarkan kembali fungsi sosial saya. Saya haru.

Kedepan, saya berharap kepada Presiden SBY untuk terus mendorong para kepala daerah guna memperhatikan masyarakatnya. Seandainya fungsi kepemimpinan daerah, mulai dari Gubernur, Bupati, Camat, Lurah/Kepala Desa, hingga RT mau dan tersentuh melihat masalah kemiskinan, mungkin drama Tasripin bisa diminimalisasi.

Buat kalian yang korup, sadarlah dengan nasib sesama. Jadikanlah nasib Tasripin sebagai penguji rasa jiwa kalian. Sikap maruk dan serakah mungkin akan hilang jika kalian merasakan apa yang dirasakan oleh Tasripin.

Saya menyumpahi kalian para koruptor, dengan nama Tuhan dan tasripin-tasripin di negeri ini, kalian tidak akan pernah bahagia dengan kekayaan yang kalian tumpuk diatas tangisan TASRIPIN..!!!!

Cukup sekian saja… Tasripin, semoga masa depanmu cerah. Jadilah pemimpin yang baik, sebaik kau berjuang dengan cucuran keringat dan ari mata membesarkan adik-adikmu…!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 2 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 3 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 5 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 7 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kesaksian Terakhir …

Arimbi Bimoseno | 8 jam lalu

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | 8 jam lalu

Topik 121 : Persalinan Pervaginam Pd Bekas …

Budiman Japar | 9 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Transjakarta: Busnya Karatan, Mental …

Gunawan Eswe | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: