Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Yodha Haryadi

Jakarta citizen that concerns on development for prosperity and better life: "I love you when selengkapnya

Kegagalan UN Hanya Masalah Teknis?!

OPINI | 20 April 2013 | 15:38 Dibaca: 301   Komentar: 1   0

Sebagai orang tua yang punya anak kelas 6 SD, kelas IX SMP, atau kelas XII SMA, pasti merasakan ketar-ketir mempersiapkan anaknya mengikuti UN ! Mulai dari jauh-jauh hari memasukkan anak ke bimbingan test untuk membiasakan pola belajar yang lebih tertib; menahan emosi untuk menjaga stabilitas kebatinan anak supaya nyaman belajar, meskipun marah juga apabila anak kumat bandelnya; mengupayakan makanan bergizi untuk menjaga kesehatan anak; berkomunikasi dengan para guru untuk memantau perkembangan anak di sekolah; membawa ke psikolog untuk memahami bakat dan potensi anak sehingga tidak salah mengarahkan bidang atau jurusan pilihan; menabung untuk persiapan mendaftarkan anak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi; sembunyi-sembunyi memeriksa gadget anak untuk memastikan tidak ada pergaulan yang salah; sampai setia mengantar dan menjemput anak sekolah atau les supaya anak tidak kecapekan menjalankan aktifitasnya. Apakah upaya-upaya tersebut sebanding dengan anggapan sekedar masalah teknis untuk gagalnya pelaksanaan UN secara serentak?

Tentu saja tidak ! Cobalah berempati sebagai siswa yang ditunda atau gagal mengikuti UN; atau sebagai orang tua yang pontang-panting mengupayakan persiapan anaknya semaksimal mungkin. Jelas UN peristiwa istimewa yang dipersiapkan tidak hanya secara teknis menyediakan pensil, penghapus, dan papan landasan untuk menulis. Namun persiapan fisik, psikis, finansial, spiritual, dan lainnya untuk waktu yang lama. Siswa sejak awal ditekankan bahwa ada nilai kelulusan yang harus dicapai dalam UN untuk bisa lulus. Sementara perlu dipertanyakan apakah ada perbaikan dari sisi sekolah, dinas pendidikan, atau instansi yang berwenang, untuk membantu pencapaian nilai kelulusan tersebut. Kalau upaya sekolah dengan menambah jam pelajaran usai jam sekolah, jelas menguras fisik dan psikis anak. Upaya memotivasi semangat belajar anak mungkin lebih diperlukan daripada sekedar menambah beban. Sementara orang tua berharap anaknya lulus dan mendapatkan sekolah pilihan yang nantinya dapat menentukan masa depan. Maka orang tua berupaya mengikutkan bimbingan test, menabung untuk mendaftarkan sekolah, menjaga kesehatan fisik dan mental anak, mendoakan setiap saat untuk keberhasilan anak, dan lainnya.

Sayang untuk tahun 2013, benar-benar mengecewakan. Soal belum sampai di 11 propinsi pada saat ujian harus dilakukan. Kok bisa? Soal mengalami keterlambatan penyampaian kepada perusahaan percetakan untuk dicetak. Kok bisa? Soal memiliki 20 jenis untuk antisipasi kecurangan, belum selesai di-packing karena kurangnya SDM. Kok bisa? Soal yang sudah sampai di tempat kurang sehingga pelu fotokopi untuk menutup kekurangan. Kok bisa? Lembar jawab tipis yang seharusnya berbahan kertas 70 gram namun hanya 40 gram, sehingga kertas akan sobek apabila jawaban dihapus untuk perbaikan. Kok bisa? Siswa drop fisik dan psikis menunggu datangnya soal; siswa yang tertunda ujiannya tertekan saat menyaksikan sekolah lain telah bergembira selesai melaksanakan ujian. Teganya. Rapor merah untuk pelayanan pendidikan terutama pelaksanaan UN. Sangat tidak sebanding dengan jerih payah siswa dan orang tua terutama. Sampai saat ini belum jelas siapa yang bertanggungjawab dengan gagalnya pelaksanaan UN, yang direncanakan serentak. Apakah pembuat soal yang mungkin melibatkan para guru sehingga terlambat untuk dicetak, apakah pihak Kemdiknas yang tidak punya assurance team, yang memastikan terlaksananya UN sehingga mengawasi ketat persiapan UN sampai antisipasi permasalahan untuk dapat diatasi secara dini, apakah kesalahan proses pengadaan perusahaan percetakan sehingga memenangkan perusahaan yang tidak kredibel dan tidak layak, atau lainnya.

Pendidikan yang menentukan apakah negara ini bisa menjadi negara maju untuk 10 tahun kedepan, ataukan cukup begini-begini saja. Memang pendidikan formal bukan segalanya, masih ada keluarga dan non-formal. Namun tetap saja pendidikan formal berpengaruh besar terhadap kemajuan bangsa dan negara, karena ter-struktur dalam penyelenggaraan bernegara.  Alokasi 20% APBN sebenarnya jumlah rupiah yang bukan main-main. Namun hasil yang diterima masyarakat masih jauh dari harapan. Untuk program yang jelas dilakukan setiap tahun seperti UN saja masih tidak jelas pengaturan pelaksanaannya; lantas bagaimana dengan program-program yang memerlukan inovasi dan pemikiran jauh kedepan untuk kemajuan bangsa dan negara?

Salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 4 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 5 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 8 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: