Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Amf. Apriyanti

Saya salah seorang staff pengajar di SMA Sint Louis Semarang

Ketika Sumber Kesalahan Dipertanyakan (Perjalanan Un 2013)

OPINI | 20 April 2013 | 08:26 Dibaca: 362   Komentar: 0   0

Ujian Nasional tingkat SMA/SMK untuk sebagian besar daerah di Indonesia telah berlalu, dan di berbagai media, baik cetak maupun elektronika, diberitakan semuanya berjalan dengan lancar dan tanpa kendala. Namun  tidak sedikit yang memberitakan adanya ketidaklancaran proses perjalanan Ujian Nasional (UN) yang telah berakhir pada hari Kamis, 18 April 2013 dan dalam hitungan hari akan dilakukan ujian susulan. Sebagai salah satu staf pengajar di sebuah SMA di Semarang, sebagian waktu yang tersisa saya habiskan untuk mengikuti (update) berita tentang perjalanan UN di berbagai daerah,  yang ternyata masih menyisakan lebih dari 10 propinsi di Indonesia tidak melaksanakan UN untuk kedua kalinya. Bapak M. Nuh  menyatakan (baca: memastikan) bahwa pada hari Kamis, 18 April 2013 adalah saat di mana tidak akan terjadi penundaan lagi UN bagi siswa SMA/SMK di seluruh wilayah Indonesia, yang artinya semua akan merasakan Ujian Nasional. Dan pada kenyataannya?

Ketakutan (sebagian) siswa akan UN  cukup beralasan, sebelum UN benar-benar dilaksanakan barangkali “voltase” ketakutan mereka sudah cukup tinggi, dan hal ini yang menjadikan munculnya berbagai “spekulasi” di antara para siswa di  belahan bumi Indonesia. Bagaimana  ”voltase” akan menurun, sedangkan waktu pelaksanaan UN seperti yang dijanjikan Bapak Menteri Pendidikan pun tidak pas seperti yang mereka harapkan. Pemandangan yang terjadi adalah situasi yang makin tak menentu di antara para siswa dan guru termasuk kepala sekolah.

Penulis tak memungkiri, bahwa ketika ananda Gloria si penulis tentang curahan hati seorang pelajar SMA kelas XII dalam menghadapi UN mengatakan adanya “sepak terjang” sebagian siswa dengan bergerilya mencari “suplemen” untuk memperlancar UN memang ada. Tidak sedikit masyarakat menjumpai gejala tersebut, baik lewat tayangan  televisi, media cetak maupun secara langsung bagi masyarakat yang bertugas sebagai pengawas silang.

Penulis menyakini bagaimana guru di sekolah sudah berjuang sedemikian keras dan dengan berbagai upaya memberikan “suntikan” pendidikan moral tentang nilai kejujuran dalam hidup termasuk dalam hal mengerjakan “ujian penentu masa depan” selanjutnya. Pendidikan karakter tentang kejujuran, percaya diri, kemandirian dan tanggungjawab bagi siswa, baik di sekolah, rumah maupun di lingkungan masyarakat mulai gencar ditanamkan sejak dini, namun harapan akan hasil dari pendidikan karakter masih jauh dari yang diinginkan, termasuk pada saat UN berlangsung.

Pertanyaan yang sering mengusik saya selaku pendidik adalah :

Ketika kalimat saya dan seluruh teman seprofesi di sekolah sering diucapkan dan ditanamkan pada para siswa adalah bagaimana mereka harus mandiri, percaya diri, jujur, bertanggungjawab dalam segala hal, teristimewa pun saat mereka menghadapi UN, namun di sisi berbeda saya mendengar bagaimana (sebagian) siswa memiliki “suplemen” untuk memperlancar dan memperindah hasil UN.  Saya tidak melihat langsung, tapi lewat media cetak dan televisi ditunjukkan deretan huruf dengan kode tertentu sebanyak 20 tipe. dan bagaimana hal ini bisa terjadi sedangkan konon dalam 1 kelas tidak ada soal yang sama dengan pengaman model barcode.

Penulis pernah berlega hati, ketika munculnya wacana 20 tipe soal akan memutus mata rantai ketidakjujuran, namun kelegaan sesaat menjadi terpatahkan, ketika realita menunjukkan adanya wajah-wajah ceria (sebagian) siswa, setelah keluar dari ruang UN. “Nilai” apa yang patut diberikan pada mereka yang berwajah ceria, tentunya para pengawas saat itu dan guru di sekolah memiliki standar “nilai” sendiri-sendiri untuk mereka.

Hanya pertanyaan refleksi yang barangkali bisa digali :

Jika sudah demikian situasinya, lalu siapakah yang menjadi sumber kesalahan terkait dengan perjalanan dan pelaksanaan UN 2013?

Mari kita resapi dengan kedalaman hati yang paling luhur, setidaknya di antara mereka yang memiliki “suplemen” masih banyak generasi muda yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, dan kejujuran akan menempati posisi indah tepat pada waktunya.

Salam kompasiana,

AMF. Apriyanti, SMA Sint Louis


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 10 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 13 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 14 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Sakitnya Tuh di Sini” versus …

Wahyudi Kaha | 7 jam lalu

Foto Foto Ini Bukti Kompasianival Ujud Nyata …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cerpen : Pak Guru dan Bros Bunga November …

Didik Sedyadi | 8 jam lalu

Kompasianer dan Tantangannya (ke Depan) …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Dimanakah Guru Tanpa Tanda Jasa Itu Kini? …

Trisni Atmawati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: