Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Swan Anditya

mahasiswi psikologi, Southern Federal university, Russian Federation. "writing seems so easy until you start writing"

Pro Dengan Sistem Pendidikan?

OPINI | 22 April 2013 | 03:57 Dibaca: 288   Komentar: 18   2

Belakangan ini saya banyak membaca orang yang komplain tentang sistem pendidikan di Indonesia. Saya setuju kalau sistem pendidikan kita tidak sempurna, saya pun pernah punya masalah dengan itu, tapi ada beberapa poin tentang sistem pendidikan yang bisa kita lihat dari perspektif lain.

  • Contohnya, saya tidak akan pernah tahu kalau saya akan lebih tertarik dengan pelajaran sosial daripada ilmu pasti jika saya tidak mendapat pelajaran sejarah dan geografi. Mendapat kelas-kelas itu membuat kita tahu akan minat dan bakat kita sendiri.

  • Alasan lain mengapa kita mendapat pelajaran “a”, “b” dan “c” itu karena kita perlu mendapat dasar-dasar berbagai ilmu pengetahuan, seperti matematika, bahasa, politik, etika, bagian tubuh manusia, graviti, sejarah negara kita.  Mengapa? agar kita bisa terjun langsung di masyarakat, agar kita ber”kultur”, agar kita memiliki basic skills seperti kemampuan membaca situasi atau bersosial.

  • Saya  membaca banyak siswa dengan gangguan kecemasan dan ketakutan di paksa untuk pergi ke sekolah dan membuat mereka lebih stress. Saya setuju, karena saya juga mempunyai masalah tersebut, namun mau tidak mau dan bagaimanapun caranya semua orang harus bisa berfungsi dalam masyarakat. Dengan pergi ke sekolah setiap hari,  kita bisa belajar banyak, tidak hanya ilmu pengetahuan tapi juga bagaimana kita menghadapi orang yang tidak sopan, orang yang tidak peduli, bagaimana kita menyelesaikan suatu masalah, bagaimana menemukan semangat dari sendiri dan lain-lain. Saya berkata seperti ini, bukan berarti sekolah tidak harus menolong siswa dengan gangguan itu, dan saya tidak berkata kalau guru dan murid lain boleh menghiraukan siswa-siswa tersebut. I’m just saying,  kalau dengan menghindar kita tidak akan bisa berfungsi di masyarakat.

  • Sekolah adalah tempat untuk mempelajari keterampilan-keterampilan selain intelejensi. kita belajar bagaimana menghargai orang lain, kita belajar bagaimana di hargai orang lain, bagaimana bertoleransi  terhadap sesama, bagaimana kita mengatur waktu dan lain-lain.

I’m not saying that our education system is perfect and flawless.  Saya juga pernah mendapat pelajaran yang saya pikir sukar dan tidak berguna dan saya mengalami masa-masa sulit saat  di sekolah.  Saya cuma ingin berkata kalau sistem pendidikan yang ada saat ini tidak bentuk asal-asalan berdasarkan mental dan prinsip yang lemah.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 3 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 13 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 13 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Mati Karena Oplosan dan Bola …

Didi Eko Ristanto | 7 jam lalu

Ketika Lonceng Kematian Ponsel Nokia …

Irawan | 7 jam lalu

Catatan Terbuka Buat Mendiknas Baru …

Irwan Thahir Mangga... | 7 jam lalu

Diary vs Dinding Maya - Serupa tapi Tak Sama …

Dita Widodo | 7 jam lalu

Nama Kementerian Kabinet Jokowi yang Rancu …

Francius Matu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: