Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Diana Manzila

Mahasiswa UIN Maliki Malang, menikmati wacana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) al-Farabi, Santri Pesantren Global

Kreativitas Sekolah Komunitas

REP | 23 April 2013 | 18:07 Dibaca: 135   Komentar: 0   0

Ditengah maraknya issue yang berkembang terkait kurikulum 2013 yang varian pendapat pro dan kontra. Pro dengan menerapkan hal-hal baru dalam kancah dunia pendidikan, dan kontra dengan sesuatu yang dianggap main-main terhadap anak-anak didik yang tengah belajar.

Di Dusun Bajulmati, Desa Gajahrejoo, Kecamatan Gedangan Malang menerapkan system sekolah komunitas pada anak-aak didik sedari dini.

Komunitas disini menumbuhkan rasa kepemilikan bersama dan pengenalan potensi alam terhadap anak-anak, sekolah itu bernama sekolah “Harapan”. Sekolah tanpa kepemilikan pribadi atau lembaga, yakni dimiliki oleh warga secara bersama, beberapa kebutuhan dan pendanaan sekolah selama ini ditanggung secara bersama oleh warga secara gotong royong.

Dalam belajar, anak-anak kecil ini lebih ditekankan parda praktik secara langsung, satu contoh ketika sang guru menjelaskan perihal kelautan. Maka guru akan menghadirkan nelayan serta mengajak para siswa didik melihat pantai. Nelayan yang sejatinya dari warga setempatpun akan menerangkan ini dan itu pada murid-murid yang menilai dalam hal ini bukan guru lagi tapi Nelayan. Ujian terkait hal-hal yang berkenaan dengan laut akan menjadi otoritas Nelayan itu untuk memberi nilai pada murid-murid. Hal itu berjalan dalam matapelajaran yang lain pula.

Rasa kepemilikan warga yang tinggi kepada sekolah, menjadikan jiwa-jiwa muda yang mumpuni Ilmunya untuk mengajar tanpa dibayar. Keadaan sekolah yang belum tersentuh oleh pemerintah ini membuat pengelolah sekolah tidak mempunyai pilihan lain selain keikhlasan guru tanpa upah untuk terus megajar anak-anak di Sekolah.

Namun, tidak adanya dana bukan menjadi kendala. Bahkan, dari empat sekolah “Harapan” yang sudah berdiri memiliki 26 guru yang terus bertambah, aku dan beberapa sahabat yang berjunjung kesana, Jum’at (29/03) berdecak kagum. Ditengah banyak kebingungan system sekolah, dan beberapa guru yang ingin segera dinaikkan pangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS), masih ada guru yang mau mengajar tanpa dibayar dengan beragam kreatifitas.13667151741149365078

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lolo Sianipar, Sukses Menjalankan Bisnis …

Erri Subakti | | 23 October 2014 | 19:54

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Gesture …

Pm Susbandono | | 23 October 2014 | 19:05

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | | 23 October 2014 | 20:42


TRENDING ARTICLES

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 6 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 8 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 8 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Wih, Sekarang Abdi Rakyat Bakalan Keteteran …

Ridha Harwan | 9 jam lalu

Antara Aku, Kompasiana dan Keindahan …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu

Sejarah Qatar, Juara Piala Asia U-19! …

Giri Lumakto | 9 jam lalu

Makna Kegagalan …

Hanif Amin | 10 jam lalu

Ketika Islam Dianaktirikan Penganutnya …

Anni Muhammad | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: