Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ahmad Hilmi

Saya saat ini mengabdi di sebuah pensanten modern di bilangan Prambanan, Yokyakarta. Bagi teman-teman yang selengkapnya

Ssssssttt, Kamu Diam Saja!

OPINI | 23 April 2013 | 12:06 Dibaca: 195   Komentar: 0   0

Seorang guru disebuah sekolah yang bernaung dibawah organisasi masyarakat A, mendapatkan cibiran dan celaan dari  sebagian rekan-rekan gurunya. Dia dicibir bukan karena melakukan kesalahan, tetapi justru ketika dia melakukan sesuatu yang benar.

Dalam pertemuan guru yang diadakan oleh penanggung jawab (PJ) pendidikan pada organisasi tersebut, sang guru ini mencoba menyampakan hasil analisanya terkait ketidakdisiplinan para murid. Menurut analisanya, penyebab ketidakdisiplinan tersebut adalah kelalaian pihak sekolah  dan pihak-pihak lain yang terkait. Seakan ada unsur pembiaran, cuek dan menganggap kondisi seperti itu sudah biasa terjadi.

Ditempat yang lain, disebuah instansi pemerintah, seorang pegawai terancam dimutasi bahkan dipecat lantaran dia mengungkap kasus korupsi yang melibatkan atasannya.

Dua prolog diatas merupakan dua cerita dengan dua tokoh yang berbeda, akan tetapi keduanya memiliki ending (akhir cerita) yang sama. keduanya dimainta untuk diam dan bungkam oleh orang-orang disekitarnya ketika menayaksikan kejahatan dan keburukan. Tidak boleh berkomentar apalagi mencagah. Keburukan apa pun yang akan terjadi biarlah terjadi.

Nah, jika kita telusuri  lebih dalam lagi, kita akan menemukan beberapa alasan seseorang memilih diam ketika dihadapkan dengan keburukan dan kejahatan.

Merasa kerdil

Merasa kerdil, bersikap rendah diri dan merasa tidak punya otoritas dan kekuasaan, merupakan alasan utama seseorang untuk diam dan mendiamkan keburukan. Dia menganggap kejahatan dan keburukan yang terjadi dihadapannya bukan tanggung jawabnya.

Padahal dalam sebuah haits  Rasulullah SAW  bersabda:

أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ رَجُلًا هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا عَلِمَهُ

“ketahuilah, jangan sekali-kali seseorang terhalangi menyampaikan kebeneran (Haq) yang dia ketahui karena takut dengan orang” (HR. Ibn Majah)

Dari hadits diatas sangat jelas bahwa siapapun kita, apaun profesi kita, dimanapun tingkat sosial kita, maka tidak ada seorang pun yang mampu membungkam mulut kita untuk menyampaikan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Biasanya orang Diam itu Mencari Aman Atau Karena Dia Juga Pelaku Kejahatannya

Kita sering menyaksikan kejahatan dan keburukan terjadi disekeliling kita. Sebenarnya hati kicil kita ingin mencegah dan membenahi apa yang terjadi, akan tetapi kita memelih diam mencari aman.

Ketika seorang karyawan melihat kejahatan yang dilakukan atasannya, dia memilih diam dan bungkam. Karena dengan diam dia bisa mengamankan posisinya sebagai karyawan. Tetapi jika dia berkomentar atau bahkan mencegah, boleh jadi dia dipecat.

Nah, yang lebih parah lagi motivasi seorang memilih diam ketika melihat keburukan adalah karena dia juga pelaku yang sama.

Dalam keadaan aman, seorang  tidak akan mebahas kasus korupsi kalau dia  juga koruptor yang sama.

Maka harus bijak dalam menempatkan sikap diam. Karena diam dan merasa nyaman ketika terjadinya keburukan mengindikasikan kita juga melakukan keburukan yang sama.

Perintah untuk Bertindak

Rosulullah bersabda:

مَن رَأىٰ منكم منكرًا فليغيّرْه بيدِه، فإن لم يستطع فبلسانِه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذٰلك أضعف الإيمان


“siapapun diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya (ucapannya), jika tidak bisa maka denagn hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Sebenarnya dalam hadits diatas ada tiga cara dalam mencegah kemungkaran dan merubahnya. Dari tiga cara tersebut kita bisa memelih salah satu cara yang kita anggap paling efektif.

Jika kita bisa merubah dengan ucapan lisan, kenapa  harus dengan kekerasan. Akan tetapi jika dengan ucapan tidak efektif, maka bisa dirubah denagn tangan.

Penginkaran dengan hati adalah cara yang paling mudah ketika tidak mampu dengan lisan dan tangan. Dan ini bagian dari tingkatan iman yang paling lemah.

Jika pengingkaran dengan hati disebut sebagai tingkatan iman yang paling rendah, lantas bagaimana dengan hati yang yang tidak tergugah sama sekali dengan keburukan yang terjadi atau bahkan malah merasa nyaman-nyaman saja.?

Mendiamkan keburukan berati siap mendapatkan malapetaka yang lebih besar

Allah berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً

“peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu”. (QS. Al-Anfal: 25)

Dalam sebuah hadits juga Rasulullah membuat gambaran  yang sangat jelas tentang sikap diam ketika melihat keburukan. Akibat yang ditimbulkan ketika mendiamkan keburukan terjadi bisa berimbas kepada semua orang, bukan hanya pelaku keburukan itu sendiri.

Rasulullah bersabda:

“Perumpamaan orang-orang yang melanggar larangan-larangan Allah dan orang-orang yang menaatinya adalah ibarat satu kaum yang bersama-sama naik ke sebuah bahtera. Sebagian mereka berada di atas dan sebagian lagi berada di bawah (dek). Bila orang-orang yang berada di bagian bawah ingin mengambil air, maka mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu orang-orang yang berada di bagian bawah mengatakan,”Kita lubangi saja lambung kapal ini agar kita memperoleh air tanpa harus menyusahkan orang-orang yang di atas kita”. Jika mereka dibiarkan melakukan niat mereka, maka semua orang yang berada di kapal tersebut pasti celaka. Tetapi jika mereka dicegah, maka orang-orang itu bisa selamat dan selamat pula seluruh penumpang kapal itu!” (HR. Bukhari)

Allah SWT memuji orang yang mengajak kepada kebaikan dan mencegak keburukan

Allah berfrman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan Sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 110)

Dalam ayat diatas Allah memuji kita dengan sebutan “sebaik-baik ummat” lantaran kita menegakkan tradisi mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan.

Sunggung indah pujian yang Allah berikan kepada kita.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Menelusuri Budaya Toleransi di Komplek …

Arif L Hakim | | 01 August 2014 | 18:18

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

“Tak Sempurna Hanya Tanpa …

Jarjis Fadri | | 31 July 2014 | 08:41

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Koalisi Merah Putih Tetaplah Merah Putih, …

Hanny Setiawan | 9 jam lalu

Jokowi Belum Dilantik, PKB Sudah Nagih Jatah …

Ikhlash Hasan | 9 jam lalu

Libur Lebaran, Bertemu Bule dan Supir Isteri …

Hendry Sianturi | 14 jam lalu

Membuat Tanda Salib di Pusara Ir. Soekarno …

Kosmas Lawa Bagho | 14 jam lalu

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: