Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Fachri Firdaus

Academic Staff - Universitas Paramadina

Telaah Kisruh UN SMA/SMK Sederajat Tahun 2013

OPINI | 23 April 2013 | 15:58 Dibaca: 1220   Komentar: 1   0

Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004, pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.

Di negara Indonesia ini pengukuran tingkat keberhasilan pendidikan siswa digunakan metode yaitu ujian bersama atau dikenal saat ini Ujian Nasional (UN) yang dilaksanakan secara serempak dalam satu waktu di seluruh provinsi yang ada di Indonesia (34 Provinsi). Namun dalam pelaksanaannya ujian nasional yang sejak dulu berganti nama mulai dari Ujian Negara sampai Ujian Nasional, ketika memasuki periode 2001-2004, Ebtanas berubah nama menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN). Kemudian, mulai 2005 terjadi perubahan sistem yaitu pada target wajib belajar pendidikan (SD/MI/SD-LB/MTs/SMP/SMP-LB/SMA/MA/SMK/SMA-LB) sehingga nilai kelulusan ada target minimal. Pada tahun 2010, barulah nama UN muncul.

Sejak lama UN ini terjadi pro dan kontra di kalangan pakar pendidikan, pendidik atau guru, siswa dan masyarakat terhadap penerapan ujian semacam ini. Permasalahan yang pertama adalah masalah standar nilai yang ditetapkan sama diseluruh provinsi Indonesia dan yang kedua, mengenai proses pelaksanaan ujian tersebut yang dinilai masih ada kekurangan dan kesalahanan kecil maupun besar yang berakibat pada siswa juga mutu pendidikan di negara Indonesia ini. Namun hal tersebut tidak begitu besar menjadi perbincangan di masyarakat. Di Tahun 2013 ini barulah dalam sejarah pendidikan Indonesia muncul permasalahan UN yang dinilai cukup besar dan menjadi perbincangan dibeberapa media cetak dan elektronik.

Pada tanggal 15 April 2013 yang lalu baru saja diselenggarakannya Ujian Nasional (UN) untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pelaksanaan UN SMA/SMK ini lebih terasa heboh dibandingkan pelaksanaan UN untuk tingkatan SMP dan SD. Dalam beberapa jejaring sosial, media cetak dan elektronik banyak sekali siswa SMA yang membahas UN, mulai dari resah dengan belajar, deg-degan, contekan, strategi dan sebagaimana. Bukan hanya siswa SMA yang membicarakan hal ini, juga berbagai kalangan dikarenakan terjadinya permasalahan yang cukup menghebohkan dalam sejarah pendidikan di Indonesia ini.

kegagalan disebabkan banyak faktor, selain itu dibeberapa media cetak juga mengatakan hal tersebut seperti dikutip pada koran kompas hari selasa, 16 April 2013 tertulis bahwa pelaksanaan ujian nasional untuk SMA/SMK sederajat sungguh kacau. Dalam Liputan6.com yang ditulis oleh Edward Panggabean mengatakan Ujian Nasional (UN) dinilai lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya.

Dalam hal ini Pemerintah harus melakukan intervensi dan pengawasan terhadap pencetakan soal supaya cepat dan tidak mendadak dalam pendistribusiannya, juga untuk menghindari terhadap penggunaan kertas berkualitas rendah yang bisa merugikan para pelajar, Ini menunjukkan begitu kecewanya semua kalangan masyarakat dari tingkat atas sampai kebawah terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun ini yang begitu kompleks permasalahan didalamnya yang bisa berdampak pada psikologi siswa bahkan juga terhadap mutu pendidikan Indonesia.

Penyebab Kisruhnya UN SMA/SMK sederajat 2013

Banyak pemberitaan mengenai kacaunya pelaksanaan UN 2013 ini pada hari pertama pelaksanaannya senin, 15 April 2013. Media cetak dan elektronik sibuk memperbincangkan masalah pelaksanaan UN yang dinilai kisruh. Menurut fakta dan data dilapangan penyebab terjadinya kekisruhan dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  • Distribusi Naskah Per Wilayah Terunda

  • Kesalahan Teknis Pembagian Soal per Sekolah

  • Adanya kesalahan dan keterlambatan percetakan

Impikasi atau Dampak dari Kekisruhan UN tahun ini

Dari identifikasi penyebab terjadinya kisruh UN ini, dapat disimpulkan dampak yang akan terjadi :

  • UN yang bersifat kerahasiaan dan penuh dengan kehati-hatian terkotori dengan kerusakan pada segel paket soal dan beberapa sekolah juga ada yang kekurangan soal akhirnya menggandakan sendiri.
  • Anggaran untuk UN 2013 ini akan membengkak karena terjadi penundaan.
  • Citra dan mutu pendidikan Indonesia terancam buruk
  • Menurunnya motivasi dan konsentrasi siswa

Saran Terhadap Pemerintah dan Para Pendidik

Ada beberapa solusi yang dapat di berikan melalui saran di bawah ini:

1. Bagi Pemerintah

  • Pemerintah harus mengkaji ulang sistem Ujian Nasional di negara Indonesia.

Jika mengamati negara Finlandia, diakui oleh semua negara sistem pendidikan Finlandia adalah terbaik dunia. Padahal di negara tersebut ditiadakannya sistem UN. Sumber yang diketahui, disana diterapkannya budaya membaca sejak kecil, juga kebijakan-kebijakan dari pemerintah Finlandia untuk membuat suasana belajar senyaman mungkin.

  • Pemerintah sudah harus menetapkan satu institusi untuk mencetak soal-soal ujian dan lembar jawaban

Cara ini bermanfaat agar tidak banyak kepentingan-kepentingan, misalkan percetakan negara (PusGraFin). Jika dibuat tender-tender apalagi sampai permainan pemenangan tender tidak dipungkiri pasti terjadi unsur suap yang berujuk tindak korupsi.

  • Pemerintah harus melakukan intervensi dan pengawasan terhadap pencetakan soal supaya cepat dan tidak mendadak dalam pendistribusiannya, juga untuk menghindari terhadap penggunaan kertas berkualitas rendah yang bisa merugikan para pelajar.

2. Bagi Pendidik (guru)

  • Secara psikologis akibat terjadinya kisruh UN ini siswa dapat merasakan frustasi yang berujung pada penurunan kualitas semangat belajar siswa, maka tugas pendidik mengembalikan semangat tersebut dengan memberikan motivasi, pemahaman untuk mengubah pola pikir siswa.
  • Memberikan pengajaran dengan metode PAILKEM (Pembelajaran, Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik)
  • Metode pembelajaran ini disesuaikan dengan kondisi siswa dikelas, dengan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan akan tumbuh motivasi semangat belajar siswa.

Harapan Penulis: Semoga Kejadian UN ini tidak terulang kembali pada UN SD & SMP

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 15 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 15 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 15 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 15 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: