Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bukit Lurus

Pencinta pendidikan, sejarah, dan sosial politik. Belajar membuka wawasan dengan pikiran yang objektif.

Guru Bangsa

OPINI | 25 April 2013 | 15:53 Dibaca: 99   Komentar: 0   0

Guru Sang Penakluk

Adalah Muhammad Al Fatih, pemuda berusia 23 tahun yang berhasil memenuhi takdirnya sebagai seseorang yang disebut Rasulullah Saw di dalam nubuwat/ramalannya: “Konstantinopel akan dibebaskan di tangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang membebaskan kota itu. Dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya” (HR. Ahmad). Sungguh, para khalifah telah berlomba-lomba untuk membebaskan konstantinopel, berusaha menjadi penyandang gelar “sebaik-baiknya pemimpin” yang dijanjikan baginda nabi, namun mereka tak ‘seberuntung’ Muhammad Al Fatih.

Ketika membahas tentang Muhammad Al Fatih sang penakluk, tak banyak dari kita yang menyadari sosok-sosok paling berpengaruh yang berada di belakang kecemerlangannya. Janissaries, pasukan elit beranggotakan 40.000 orang pilihan langsung di bawah pimpinan sang Sultan yang saat itu masih berusia 21 tahun, tak kunjung berhasil membobol Konstantinopel. Kota ini memiliki benteng-benteng berlapis dengan ketebalan 9 meter dan tinggi 30 meter, sebuah sistem pertahanan paling maju saat itu. Lebih sebulan sudah Konstatinopel dikepung, tak ada tanda-tanda ia akan takluk. Al Fatih pun ragu, benarkan dirinya adalah sosok yang dimaksud Rasulullah Saw dalam sabdanya?

Di dalam salah satu tenda pasukan, seorang guru khusyuk berdo’a, rukuk dan sujud memohon petunjuk Allah, penguasa semesta. Janggutnya telah basah oleh air matanya yang mengalir deras, larut dalam pertaubatan diri: apakah maksiat dan dosa telah membuat kami menjadi kaum yang hina dan tak pantas menjadi sang pembebas? Sang Sultan telah mengutus prajuritnya untuk menjemput sang guru, namun ia menolak. “Aku adalah gurunya atasanmu, katakan padanya bahwa aku sedang tidak dapat menemuinya,” begitu ucap sang guru.

Aaq Syamsuddin, itulah nama sang guru, dialah aktor besar dibalik kejayaan nama Al Fatih. Ketika Muhammad Al Fatih gundah gulana luar biasa, sang guru menolak perintahnya untuk hadir di sisinya, terbersitlah di hatinya setitik kekecewaan pada sang guru. Namun kekecewaan pun berubah menjadi taubat, sebab sang guru ternyata tak kalah bimbang dibanding dirinya. Sang guru justru lebih dulu merasakan kebimbangan itu: apakah benar Konstantinopel akan bebas di tangan muridnya? Kegundahan sang guru baru terungkap oleh Muhammad Al Fatih ketika ia menyaksikan sendiri genangan air mata sang guru di dalam tenda tempat ia berdo’a.

Guruku Pahlawanku

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya,” begitu pesan Soekarno, salah satu pendiri bangsa ini. Lalu siapa sajakah pahlawan yang harus kita hargai agar kita dapat menjadi penerus yang membesarkan nama bangsa ini? Sebuah ungkapan menarik yang dapat kita jadikan jawaban adalah: “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.” Bangsa yang besar adalah bangsa yang sangat memperhatikan pendidikan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang meletakkan guru-guru mereka dalam posisi yang lebih tinggi dari para penguasa atau pengusaha. Bangsa yang besar adalah bangsa yang dibimbing oleh para guru: pahlawan tanpa tanda jasa yang hadir secara nyata dalam kehidupan keseharian mereka. Guru: pahlawan bertabur jasa yang sesungguhnya!

Imam Syafi’i telah menjadi guru dan mengajarkan tentang shaum meskipun usianya saat itu belum baligh. Di suatu siang di bulan Ramadhan ia berucap, “puasa adalah menahan diri dari makan-minum dan hal-hal yang membatalkannya mulai terbit fajar (shubuh) hingga tenggelamnya matahari (maghrib),” kemudian beliau meminum seteguk air persis setelah menyampaikan kata-kata tersebut. Sungguh, keluasan ilmunya telah mengalahkan usia belianya.

Mori Arinori adalah Menteri Pendidikan Jepang pada Era Meiji. Waktu kecil, ia melihat kotanya, Kagoshima, hancur dibombardir oleh meriam-meriam kapal perang Inggris. Ia ‘balas dendam’ dengan cara keliling Amerika dan Eropa untuk mempelajari peradaban mereka. Sebelumya, Jepang adalah negeri para samurai yang memiliki jiwa ksatria, namun politik isolasi di Era Tokugawa membuat para samurai menjadi kaum yang tertinggal. Mori Arinori kemudian melakukan revolusi pendidikan, dan bangsa Jepang bangkit menjadi bangsa pembelajar yang super efektif dan efisien hingga saat ini. Sejarah mencatat bahwa Mori Arinori juga adalah seorang guru. Sejak pengabdiannya di Era Meiji hingga kini, struktur masyarakat Jepang berubah, orang-orang yang paling dihormati dan dihargai di Jepang kini adalah kaum intelektual, guru-guru, dan cendekiawan. Orang-orang yang secara umum dikenal di Jepang dengan sebutan sensei: guru!

Guru: Pengendali Peradaban

Lebih dari seratus tahun yang lalu, salah satu tokoh Sosiologi klasik, Emile Durkheim, menyatakan bahwa pendidikan “is only the image and reflection of society. It imitates and reproduces the latter … it does not create it.” Menurut Durkheim, pendidikan hanyalah gambaran cerminan dari ‘wajah’ masyarakat. Pendidikan hanya menjiplak dan menampilkan ulang kondisi nyata masyarakat saat ini, bukan menciptakannya. Oleh karena itu, gambaran paling polos dari kekuatan sebuah bangsa akan tercermin dari kondisi pendidikannya. Lalu, bagaimanakah kondisi pendidikan bangsa kita tercinta, Indonesia?

Finlandia adalah sebuah negara yang telah diteliti dan diaukui sebagai negara dengan pendidikan paling maju di atas muka bumi ini, mereka juga salah satu negara maju di daratan Eropa. Pendidikan mereka disaingi oleh negara seperti Jepang dan Korea Selatan. Apa persamaan di antara ketiga negara ini? Mereka sama-sama memiliki sistem perekrutan guru yang sangat selektif. Di Finlandia, seseorang tidak dapat melamar menjadi guru tanpa ijazah S2, dan hanya 10% dari lulusan-lulusan dengan nilai tertinggi yang dapat diterima sebagai tenaga pendidikan. Lebih dari itu, perbandingan jumlah guru dengan jumlah murid di Finlandia adalah 1 : 12, jauh berbeda dengan Amerika (New York) yang perbandingannya 1 : 24.

Perbedaannya, jam belajar di Finlandia lebihpendek, sedangkan Jepang dan Korsel memiliki sistem pendidikan dengan jam belajar yang panjang. Hal ini mirip dengan kondisi di Indonesia. Murid-murid belajar di sekolah sampai sore atau menjelang sore, kemudian biasanya dilanjutkan lagi dengan belajar di lembaga bimbingan belajar sepulang sekolah. Inilah yang menjelaskan mengapa panjang jam belajar tidak terlalu berpengaruh terhadap penyebab permasalahan pelajar seperti tawuran/bullying, narkoba, dan seks bebas/pornografi. Ada pelajar yang sengaja melanggar aturan sebagai pelampiasan mereka atas tekanan jam sekolah yang  padat, namun ada pula siswa yang menyimpang karena mereka butuh aktivitas tambahan akibat jam belajar di sekolah mereka terlalu singkat.

Bangsa Indonesia tidak boleh membanting cermin hanya karena ia memantulkan buruknya bayangan wajah diri sendiri. Kondisi sekolah/sistem pendidikan adalah simbol kesiapan bangsa ini untuk mengarungi gelombang persaingan dengan bangsa-bangsa lain di sebuah era baru yang kita kenal dengan nama modernisasi dan globalisasi. Mengelola pendidikan sama seperti mengelola bangsa ini secara keseluruhan. Maka bangkitkanlah negeri ini dengan menjadi guru bangsa, sebagaimana Aaq Syamsuddin yang mendidik Sultan Al Fatih Sang Penakluk Eropa (Timur), seperti Mori Arinori yang mendidik para samurai Jepang menjadi insinyur-insinyur masa depan, sebagaimana Ahmad Yasin yang lumpuh dan separuh tuli mendidik murid-murid TPA-nya menjadi cikal bakal Hamas: organisasi perlawanan Israel terbesar di Palestina!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: