Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Umar Bakri Masih Naik Sepeda?

OPINI | 26 April 2013 | 00:05 Dibaca: 210   Komentar: 0   0

Pegawai negeri
Umar Bakri Umar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
(Umar Bakri, Iwan Fals)

Umar Bakri adalah tokoh rekaan Iwan Fals saja, meskipun mungkin pula ada spesies manusia yang memiliki nama dan profesi yang sama dengan tokoh itu. Tentu saja, kesamaan itu bukan kesengajaan. Akan tetapi, Umar Bakri adalah suatu simbol yang merepresentasi ribuan orang yang berprofesi sebagai guru. Gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” adalah bonus yang tak berkorelasi dengan kondisi sosial ekonomi mereka yang berprofesi guru. Profesi ini kalah mentereng dari profesi lain semacam dokter, pengacara atau akuntan. Padahal, dokter, pengacara atau akuntan dididik oleh guru. Dan, Iwan Fals menyadari betul apa yang dikerjakan oleh guru di dalam kelas. Lihat saja lirik lagunya.

Umar Bakri Umar Bakri

Banyak ciptakan menteri

Umar Bakri

Profesor dokter insinyurpun jadi

(Bikin otak orang seperti otak Habibie)

Tapi mengapa gaji guru Umar Bakri

Seperti dikebiri

Biasanya, ketika tanggal 2 Mei, banyak siswa yang memberikan kado untuk gurunya. Lalu, lagu “himne guru” dinyanyikan dengan sangat merdu dan syahdu. Ditambah sedikit bonus tetesan air mata akan menambah haru dan hikmatnya suasana “Hari Pendidikan Nasional”. Hal ini rutin dilakukan setiap tahun. Namun, pengakuan terhadap pentingnya peran guru hanya sehari itu saja, ketika Hardiknas dirayakan dengan meriah atau dengan hikmat. Setelah itu, masih banyak terlihat Umar Bakri yang naik sepeda ontel dengan membawa tas hitam dari kulit buaya. Padahal, anak didiknya ada yang menjadi menteri, dokter, insinyur, yang berangkat kerja dengan mobil ber-AC dan mengenakan sepatu dan tas import. Sungguh sebuah ironi.

Tapi, Iwan Fals keliru jika mengatakan Jadi guru jujur berbakti memang makan hati. Faktanya, guru-guru yang mendidik dan membekali saya dengan pengetahuan jarang mengeluh kalau gajinya tak sebesar anak didiknya yang jadi menteri atau insinyur. Mereka tetap mengajar dan mendidik anak para siswa dengan tulus dan ikhlas. Mereka Tidak pernah kikir dalam memberikan ilmu dan didikan, bahkan meskipun anak didiknya yang jadi menteri atau pejabat seringkali kikir dalam memberikan jaminan ekonomi yang mapan bagi gurunya. Bahkan, gaji yang ada pun sering dikebiri untuk alasan yang tak jelas.

Sulit mengharapkan pendidikan yang berkualitas jika pelaku utamanya (guru) masih dianggap pahlawan yang tak perlu diberikan tanda jasa. Padahal, masa depan peradaban bangsa ini terletak pada keikhlasan dan ketulusannya mengajar dan mendidikan anak-anak yang menjadi harapan bangsa. Apakah hanya dengan mengukir jasa guru dalam sanubari adalah cara berterima kasih yang paling baik terhadap guru? Lagu hymne guru, mungkin perlu direvisi.

Profesi guru harus mendapat tempat terhormat dalam status sosial maupun ekonomi. Bukan hanya sekuntum bunga di saat Hari Pendidikan Nasional. Pada gurulah kita memercayakan anak-anak masa depan bangsa. Pada gurulah kita menggantungkan nasib bangsa.

Selamat Menyongsong Hari Pendidikan Nasional


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | | 26 November 2014 | 04:19

Menuju Jakarta, Merayakan Pestanya …

Hendra Wardhana | | 26 November 2014 | 07:59

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Minum Air Lemon di Pagi Hari dan Manfaatnya …

Gitanyali Ratitia | | 26 November 2014 | 01:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Teror Putih Pemecah Partai Politik …

Andi Taufan Tiro | 3 jam lalu

Pak JK Kerja Saja, Jangan Ikutan Main di …

Hanny Setiawan | 4 jam lalu

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 10 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi Membutuhkan Algojo Daripada Jaksa …

Mohamadfi Khusaeni | 8 jam lalu

Ciremei 3078mdpl bersama Aprak Jaya …

Padlun Fauzi | 8 jam lalu

Bahasa Tarzan Di Pasar Perbatasan …

Firdaus Umar | 8 jam lalu

Keroyokan Bangun Pasar Rakyat …

Ahmad Syam | 8 jam lalu

Berhentilah Bermimpi untuk Merdeka …

Eka Putra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: