Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Okahfight

praktisi pendidikan di sebuah sekolah terpencil di Banjarnegara.

Untuk Urusan Pendidikan, Orde Baru Nyaris Lebih Baik

HL | 27 April 2013 | 12:33 Dibaca: 1599   Komentar: 40   6

13670485831255364394

Admin/Ilustrasi(KOMPAScom)

Eiittss jangan marah dulu.  Orde baru seperti hantu.  Selalu menghantui pikiran masyarakat.  Baik yang suka maupunyang tidak suka.  Untuk urusan dekorasi eh demokrasi, orde baru pasti kalah telak dibanding orde reformasi.  Kebebasan berpendapat, juga tertinggal dari zaman sekarang.  Bahkan untuk urusan jumlah orang - orang yang kredit kendaraan bermotor,  orde baru tak bisa berkutik.

Bagaimana dengan urusan PENDIDIKAN ?

Orde baru sedikit lebih baik daripada orde reformasi.  Pertama untuk urusan Ujian Nasional (UN).  Orde baru tak pernah membuat ujian penentu kelulusan.  Hanya ada EBTANAS, ujian yang hanya bertujuan mengevaluasi kemajuan pendidikan.  Soal EBTANAS pun tidak perlu dibocorkan,  tidak perlu pengawalan ketat dengan laras panjang,  dan jarang terjadi kekurangan/tertukar.  Menghadapi EBTANAS,  siswa tidak perlu terlalu tegang sampai menangis.

Kedua,  masalah kurikulum.  Orde baru mengganti kurikulum sebanyak 3 kali (1974, 1984, dan 1994).  Reformasi telah mengganti kurikulum sebanyak 2 kali (2004 dan 2006) dan akan kembali mengegolkan kurikulum baru tahun ini.  Sehingga untuk urusan kurikulum skornya akan sama, 3 - 3.

Ketiga, buku pelajaran.  Zaman orde baru,  buku paket siswa dapat dipinjam dari sekolah.  Buku standar pun hanya satu versi.  Pada zaman ini,  buku pelajaran diterbitkan oleh banyak sekali penerbit.  Dari mulai buku plat merah (Buku Sekolah Elektronik/BSE) sampai plat hitam.  BSE sendiri satu mapelnya bisa ada dua atau tiga versi.  Jika zaman orba hanya ada 1 buku PMP (Sekarang PKn) sekarang 3 - 10 versi.  Reformasi telah menyalip dengan skor 10 -1.  Karena bebasnya menyusun buku,  tak heran jika ada kasus buku yang isinya tidak relevan atau bahkan rada porno.  (oh ya jika teman - teman mengatakan yang aneh-aneh itu LKS,  sebenarnya LKS yang ada sekarang tidak pantas disebut LKS,  lebih tepat jika disebut buku rangkuman materi pelajaran).

Keempat,  pendidik.  Guru zaman orde baru alias Oemar Bakri hidup sederhana.  Guru zaman sekarang (sebagian) yang telah mendapatkan tunjangan sertifikasi,  memiliki mobil mulus dan rumah gedong.  Untuk pendapatan guru,  zaman reformasi lebih baik daripada zaman orde baru.

Kelima, pendidikan tinggi.  Masuk kuliah hanya perlu merogok kocek maksimum satu juta.  Zaman reformasi,  uang masuk universitas negeri sudah mencapai puluhan juta.  Bahkan satu jurusan dengan jurusan lain berbeda harga.  Belum lagi SPP yang luar biasa besar.  Jelas banget, orang tua saya saat ini tak bakal kuat membiayai kuliah.  Inilah kehebatan reformasi,  hebat dalam menggelembungkan biaya kuliah.

Mungkin masih ada banyak kelebihan pendidikan sekarang.  Seperti adanya sekolah berstandar internasional, beasiswa miskin, KTSP, pembangunan sekolah di daerah terpencil, pengangkatan guru honorer (bukan guru HORORer lho) dst.

Rekan - rekan tolong tunjukkan kelemahan pendidikan era orba dan kelebihan pendidikan era reformasi.  saya sangat menghargai pendapat Anda guna memperkaya wawasan pembaca sekaligus memberikan ruang bagi pemikiran yang berimbang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 2 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 3 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 4 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 7 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kesaksian Terakhir …

Arimbi Bimoseno | 8 jam lalu

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | 8 jam lalu

Topik 121 : Persalinan Pervaginam Pd Bekas …

Budiman Japar | 9 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Transjakarta: Busnya Karatan, Mental …

Gunawan Eswe | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: