Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Panggih Septa Perwira

Saya seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Karawang, Jawa Barat. Selain kuliah, selengkapnya

Mengenal Ruwatan Bumi Tradisi Masyarakat di Desa-desa

OPINI | 28 April 2013 | 09:53 Dibaca: 534   Komentar: 0   2

Hingga saat ini masyarakat diberbagai desa di wilayah Karawang, Subang dan Purwakarta ada yang masih menjalankan tradisi peninggalan nenek moyangnya yang telah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu. Tradisi di maksud adalah berupa upacara Ruwatan Bumi, yaitu ritual manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala yang telah diperoleh dari hasil bumi.

Ruwatan berasal dari kata Ruwat atau ngarawat (bahasa Sunda) yang artinya memelihara atau mengumpulkan. Makna dari mengumpulkan adalah mengajak masyarakat seluruh kampong berkut hasil buminya untuk dikumpulkan, baik yang masih mentah maupun yang sudah jadi atau dalam taraf pengolahan. Tujuannya selain rasa syukur tadi sekaligus sebagai tindakan tolak bala dan penghormatan terhadap para leluhurnya.

Pelaksanaan ruwatan bumi biasanya berlangsung di tanah lapang. Meski masing-masing daerah memiliki ciri sendiri-sendiri, namun pada intinya mereka melakukan ritual keagamaan yang kental dengan peristiwa budaya. Pelaksanaan ruatan bumi ini biasanya akibat terjadinya bencana alam yang menimpa wilayah atau tempat tinggal mereka. Setelah bencana lewat, mereka kemudian melaksanakan ruwatan bumi agar bencana tidak terjadi lagi.

Di daerah Banceuy, Kecamatan Ciater dan sekitarnya, ruwatan bumi masih dipelihara dan dijalankan dengan sangat khidmat oleh masyarakat setempat susai yang diwariskan orang-orang tua dahulu. Bahkan oleh Pemerintah Kabupaten Subang dijadikan agenda buadaya dan parawisata. Ruwatan bumi di daerah ini memang sangat unik dan menarik karena kekuatan tradisi di masa lalu yang terus terpelihara dengan baik.

Ditengah modernisasi dan arus globalisasi yang sulit untuk dibendung, ruwatan bumi tentu saja menghadapi ancaman menuju kepunahan. Di beberapa tempat sudah mulai hilang, contoh di Desa Tambak Mekar, tepatnya di Kampung Rancabogo, ruwatan bumi sudah hilang sama Sekali.

Padahal sekitar 20 tahun yang lalu, setiap menjelang bulan Maulud selalu diselengarakan ruwatan bumi. Dengan dipimpin tetua kampong, warga setempat berkumpul di tanah lapang dekat pohoin Binong sambil membawa tumpeng. Forum itu skaligus digunakan untuk bersilaturahmi diantara warga, karena setelah ritual kagamaan selesai seluruh warga bergembiria ria murak tumpeng sambil ngobrol dan bersenda gurau. Kini tak ada lagi peristiwa seperti itu di Rancabogo.

Selain akibat modernisasi dan arus globalisasi, dibeberapa tempat disebabkan oleh larangan dan pemahaman agama yang semakin tinggi. Ada diantara daerah yang sama sekali menghentikannya karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Bisa jadi begitu mengingat upacara ruwatan bumi sangat kental dengan dupa dan kemenyan yang oleh sebagian kalangan dinilai berasal dari ajaran Hindu atau Budha.

Apa saja rangkaian pelaksanaan pertistiwa ruwatan bumi ini? Pertama dadahut, yaitu persiapan yang dilakukan masyarakat mulai dari pembentukan panitia, musyawarah pelaksanaaan ruwatan bumi, pengumpulan biaya, membuat makanan, membuat pintu hek (pintu gerbang), membuat sawen atau daun janur dari daun kawung. Kegiatan dadahut ini biasanya dilakuan sebulan sebelum pelaksanaan.

Kedua Ngadieukeun, yaitu ritual khusus bertempat di goah yang dilakuan ketua adat dengan menyajikan banyak sesajen. Tujuannya meminta ijin kepada Tuhan YME supaya seluruh penduduk dan kampungnya dijauhkan dari musibah. Ketiga Ijab kabul motong munding, yaitu berdoa sekaligus sambutan tetua adat sebelum menyembelih kerbau. Keempat Ngalawar, yaitu nyuguh atau menyimpan sesaji di stiap sudut kampung. Ngalawar dimaksudkan untuk menghormati para leluhur masyarakat di daerah itu.

Ngalawar dimulai dengan menyimpan sesaji di tengah-tengah kampung. Kemudian dilanjutkan di keempat sudut kampung. Sesaji atau sesajen untuk ngalawar ini dibungkus dalam ukuran kecil yang di dalamnya terdapat aneka makanan yang terbuat dari beras.

Kelima Salawatan, yaitu mengucap puji-pujian kepada Allah SWT dan Rosulnya di mesjid-mesjid. Sholawatan dimulai setelah maghrib sampai menjelang Isya. Keenam pertunjukan seni gembyung yang dilaksanakan pada malam hari. Ketujuh Numbal, yairtu upacara sakral dengan mengubur sesaji dan makanan yang terbuat dari beras. Tujuan numbal adalah mangurip bumi munar leuwih, artinya hasil bumi dan segala hal yang dilakukan penduduk kampung bisa bermanfaat.

Bahan untuk numbal antara lain kelapa hijau, seupahun, telur, gula merah, rempah-rempah, ayam kampung, pisang, tebu, jawer kotok. Prosesinya, setelah ritual kagamaan dilanjutkan dengan menyembelih ayam kampung. Ayam tersebut dipotong-potong untuk disimpan dalam lubang tertentu yang telah digali. Berikutnya adalah menanam pohon pisang, tebu, jawer kotok dan hanjuang yang disiram air beras.

Kedelapan Helaran, yaitu iring-iringan masyarakat dimulai dari tempat pelaksanaan ruwatan menuju situs makam leluhur. Dalam helaran ini ikut memeriahkan seni beluk, pembawa parukuyan, kuda kosong, pini sepuh, usungan dongdang, seni dogdog, saung sangar, usung tumpeng, dongdang makanan, seni Rengkong dan tari-tarian pembawa kerajinan.

Kesembilan Sawer, yaitu melantunkan syair buhun. Sawer berisi puji-pujian terhadap sang pncipta, para leluhur dan Nyai Pohaci atau Dwi Sri. Kesepuluh Ijab Rosul, yaitu ritual untuk menutup pelaksanaan ruwatan bumi yang dipimpin tetua adat. Setelah acara sacral biasanya dilanjutan hiburan wayang golek atau kesenian lain yang bernuansa Islam.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 9 jam lalu

Psikologi Freud dalam Penarikan Diri Prabowo …

Sono Rumekso | 11 jam lalu

Ke Mana Sebaiknya PKS Pascapilpres? …

Aceng Imam | 11 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: