Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhammad Armand

Lahir di Polmas-Sulbar. Penulis Buku: "Remaja & Seks". ILUNI. Mengajar di Universitas Sultan Hasanuddin, Makassar-Sulsel. selengkapnya

Penulisan Gelar Akademik di Seputar Kita

OPINI | 28 April 2013 | 09:12 Dibaca: 5508   Komentar: 59   9

13671117831179970653

Gambar penulisan gelar yang salah ini banyak ditemukan di kantor-kantor dan sekolah-sekolah

Susilo Bambang Yudhoyono memperoleh gelar akademik Bidang Ekonomi Pertanian di Institut Pertanian Bogor, 3 Oktober 2004, beliau juga menyabet gelar honoris causa di berbagai perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri. Pastinya gelar DR di atas maksudnya adalah ‘doktor akademik’ seperti pada Ir.Soekarno dan bukan honoris causa.

* * *

Ini perkara sepele banget. Namun berpotensi menjerumuskan komunikasi verbal, salah kaprah dan salah alamat. Adalah seorang sahabat, dosen Hukum Kesehatan, tertulis di name card-nya: Prof.Dr. (Profesor Doktor). Seketika, seorang peserta seminar memanggilnya ‘Dok’. Berkatalah sahabat saya ini: “Sori, saya bukan dokter”. Buat saya, ini sebuah kebutaan aksara terhadap pembacaan gelar. Jangankan di luar area akademik, interen perguruan tinggi saja, kerap salah dalam pelabelan gelar akademik seseorang

Acuan mana yang digunakan?

Penulisan gelar akademik mau berkiblat ke mana?. KBBI?, Kamus internasional? Aturan akademik?. Sesungguhhnya acuan-acuan ini juga kerap rancu. Contoh: DR dan DR (Hc). Keduanya digunakan secara spartan. Terjadi inkonsistensi dalam penulisan gelar ‘penghargaan’ tersebut. Uniknya, tiada sanksi akademik atau sanksi hukum atas kesalahan dan pelanggaran penulisan gelar sampai kini.

Antara PROF, Profesor (H.c), Doktor (H.c), Doktor, Dokter dan Dari

Kawan saya tertawa saat penganugerahan dan pengukuhan profesornya, saya bercanda padanya: “Kok kamu bangga sekali dengan pengukuhan gelar profesormu!”. Ia tergelitik karena saya katakan bahwa itu hanyalah penghargaan, bukan gelar ‘akademik’.

Ketika saya sibuk mencari penulisan gelar yang benar, sayapun linglung jadinya, sebab demikian kisruhnya penulisan gelar-gelar dalam dunia akademik, yang ikut bingung adalah masyarakat. Bahkan tak sedikit masyarakat lebih pandai dan lebih tepat dalam menuliskan gelar-gelar itu.

PROF, Prof, dan Prof (H.c)

PROF, ini penulisan yang tepat kepada seseorang atau penerima gelar kehormatan dari sebuah perguruan tinggi, gelar ini diberikan atas jasa-jasa luar biasa seseorang kepada dunia, tanah air atas nama kemanusiaan, budaya, teknologi, ekonomi, kedokteran, kesehatan, lingkungan dan seterusnya. Selanjutnya, Prof adalah seseorang yang dikukuhkan atas sebuah riset ilmiah yang memberinya keahlian tertentu dan dikukuhkan pada sebuah rapat senat universitas. Kemudian, Prof (H.c) adalah cara penulisan alternatif dari gelar PROF (ke-empat hurufnya, kapital)

DR, Dr, dan Dr (Hc)

Terjadi lagi inkonsistensi di sini, penamaan ganda pada doktor honoris causa: DR dan Dr (H.c), keduanya adalah benar, jika tertulis DR (keduanya huruf kapital) maka itu pasti doktor penghargaan. Dan jika tertulis Dr (H.c), penulis tak penting lagi menjelaskannya, karena sudah jelas arti penulisan ini. Sedangkan penulisan gelar akademik tertinggi yakni Doktor, maka penulisan yang benar dan membudaya adalah Dr.

Penerima gelar akademik ini penuh perjuangan, sarat dengan pikiran-pikiran pembuatan konsep, berjibaku dengan riset, prelium, dan ujian promosi.

dokter

Tak perlulah penulis mengemukakan secara gamblang penulisan singkatan dari dokter, sebab kita tahu pasti bahwa penulisan dokter yang melekat pada seseorang, itu menggunakan huruf kecil yakni dr. Namun disayangkan masih banyak papan nama menggunakan huruf besar dan kecil seperti gambar di bawah ini:

13671102191579783293

red white blogspot

Ir.Sutami, Ph.D

Ini penulisan gelar diplesetkan oleh seseorang, Ir.Sutami, Ph.D (Ini rumah Sutami, Peternak Hewan Danlain-lain). Selanjutnya, di tanah air inilah paling populer gelar-gelar akademik di-bully, nama perguruan tinggi disentil. Kita bisa simak beberpa perlakuan ‘bully’ seperti berikut:

Amk = Ahli Mendorong Kereta
S.P= Sarjana Pocong
U.S.U= Universitas Samping Unhas
S.T= Sarjana Tengkulak
S.E= Sarjana Ekopatrio
S.KM=Sarjana Kurang Mandi
Sp.OG=Spesialis Orang Gila
S.Psi= Sarjana Psikopat
S.Kep=Sarjana Keperihan
drg=Dokter Gigit
M.P.H=Mau Pergi Haji

Dan inilah bukti bahwa dunia pendidikan kita, memanglah zona lelucon, hingga gelar-gelar itu pantas dileluconkan dari sebuah penyelenggaraan pendidikan yang memang telah lama lucu, memalukan sekaligus memilukan^^^

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

PĂ©rouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Sang Penabuh Kabar …

Muhammad Armand | | 19 December 2014 | 10:18

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Mau Lihat Orang Jepang Panik Antri Bensin? …

Weedy Koshino | 4 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 5 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 6 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 7 jam lalu

Media Online, “Pelahap Isu Hoax” …

Ajinatha | 8 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: