Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pm Susbandono

Berpikir kritis, berkata jujur, bertindak praktis

Arifin

OPINI | 29 April 2013 | 10:35 Dibaca: 340   Komentar: 1   1

13672064461866720625

http://moeflich.files.wordpress.com

Nama panggilannya Arifin. Lengkapnya, Muhammad Arifin Dobson. Masih remaja. Masih muda belia. Wajahnya polos, lugu, tanpa mampu menyembunyikan kesan sebagai anak yang cerdas, kreatif dan suka tantangan. Remaja kelahiran Palangkaraya, 17 tahun lalu itu, saat ini tercatat sebagai pelajar SMA Negeri 3 Bandung. Kami bertemu minggu lalu di Bali.

Sabtu, 20 April 2013, senja menjelang malam, di aula Agung Room, hotel Inna Beach Sanur, Bali. Nama saya dipanggil pembawa acara, untuk mewakili “Star Energy”, perusahaan tempat saya bekerja, menyerahkan “Star Energy Award” kepada salah seorang peraih medali, pemenang ajang kompetisi di International Conference of Young Scientist (ICYS). Kali ini giliran pengumuman pemenang bidang “Applied Physics”.

Saya bergegas menuju panggung. Tetapi emosi tak terkuasai. Langkah gemetar, menahan haru. Tetapi rasa bangga mencuat dari dalam dada. Sulit untuk disembunyikan. Di depan sana berderet anak-anak muda yang bergelar “peneliti muda” tingkat dunia. Tidak hanya itu, mereka adalah pememang lomba yang mengalahkan entah puluhan, ratusan atau bahkan ribuan hasil penelitian dari seluruh dunia. Salah satu diantaranya adalah Arifin.

Semula saya tidak kenal Arifin. Yang saya tahu, dia berasal dari Bandung. Bapaknya seorang Arsitek. Konon, semula Arifin tinggal di Lembang, daerah sejuk di kaki pegunungan, sebelah utara kota Bandung. Menyadari bahwa suhu Lembang selalu membuat orang “takut” mandi - apalagi di pagi hari - Arifin mulai berpikir keras. Memutar otak, menimba kreasi, mengaduk teori. Bagaimana bisa mengubah air untuk mandi yang dingin, menusuk kulit, terutama di pagi hari, menjadi hangat tanpa harus susah payah merebusnya.

Itulah yang membuat Arifin penasaran. Air harus menjadi panas. Membuat orang mandi tidak takut kedinginan. Dicobanya beberapa macam bahan. Dipasangnya beberapa kombinasi. Ditukarnya beberapa bahan material. Sampailah tercipta sebuah pengumpul panas, dengan energi “panas matahari”. Nama kerennya, “Ecosol Solar Thermal Collector – Sun Harvester”.

Di awal makalah, Arifin menulis kata pengantar dalam bahasa Inggris yang membuat banyak orang tertegun. Termasuk anggota dewan juri yang berasal dari universitas-universitas ternama di seluruh dunia. “…….The Solar Thermal Collector (STC) must be easily made from existing materials and also affordable by everyone. Finally, I found polycarbonate that was usually used for canopies. It fulfilled the main criteria to make a solar collector such as water channels. In addition, the polycarbonate is long lasting and not expensive. However, the problem was the design of such a collector”.

Ketika saya menyalami tangan kanannya seraya menyerahkan plaket penghargaan, terlihat senyum tipis di kedua ujung bibirnya. Meski ada nuansa cu’ek, rasa bangga terbersit di sudut mukanya yang masih sangat belia. Terasa aliran strom seorang peneliti sudah mengalir dari jemari tangannya yang saya genggam. Saya hanya mampu berujar lirih : “Selamat Arifin, karyamu membanggakan saya, membanggakan seluruh bangsa Indonesia”. Hanya itu yang sempat saya katakan padanya. Selebihnya tenggorokan saya tersekat, tak tahu harus mengatakan apa lagi. Tepuk tangan meriah di bawah panggung tak begitu terdengar lagi. Perhatian saya hanya kepada anak muda ini, namanya Arifin.

Rasanya saya tak berlebihan mengucapkan hal itu. Coba baca bagian lain makalahnya. Arifin menulis bahwa Ecosol Thermal Collector merupakan alat pemanas multi-guna. Alat yang terbuat dari bahan-bahan sederhana, seperti pipa PVC, polikarbonat, lempeng tembaga dan perekat besi biasa. Tetapi bisa menyerap dan menyimpan panas matahari dengan sangat efektif dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Harap dicatat, selain sebagai pemanas air, ia juga dipakai sebagai crop dryers, industrial pre heating, pool heater, desalination, dan …..masya Allah…… power generator, untuk memutar turbin gas.

Ternyata Arifin tidak sendirian. Dari 23 negara yang mengirim 133 peserta ICYS tahun ini, Indonesia menyabet 2 medali emas, 1 perak, 2 perunggu dan 3 penghargaan khusus (special awards).

Ketika upacara penganugerahan medali ditutup ketua panitia, lagu Indonesia Raya yang terdengar di awal upacara, mengiang-iang kembali di kedua telinga saya. Para peneliti Indonesia telah membuktikan bahwa lagu itu layak dikumandangkan dengan keras. “Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka”. Ilmuwan-ilmuwan belia Indonesia memberikan kesaksian bahwa kehebatan bangsanya pantas dicatat dengan tinta emas. Kali ini di ranah ilmu pengetahuan tingkat dunia.

Di tengah-tengah iklim dan tradisi penelitian yang masih kering-kerontang. Ketika berita tentang karut-marutnya ujian nasional yang belum reda. Saat tawuran pelajar semakin marak. Menyimak ruang kelas yang harus pindah ke lapangan bola karena digusur pemilik lahan. Anak-anak Indonesia telah kembali membuat kiprah internasional. Dengan diam mereka berpikir, meneliti, dan mencoba. Mungkin dihadang banyak kegagalan. Tetapi tekadnya tak pernah patah arang. Iterasi itu diulang dan diulang, sampai kemudian berhasil dan menyabet medali di kancah kompetisi dunia.

Sampai di kamar hotel, tiba-tiba saya tersadar. Ternyata upacara sepenting itu, sama sekali tidak tampak campur tangan pemerintah. Keterlibatan Kemendikbud tidak terlihat dan terdengar. Pemerintah pusat, daerah tingkat I, daerah tingkat II, sama sekali absen. “Surya Institute”, yang didukung “Surya University” sebagai penyelenggara acara ini benar-benar single fighter. Mereka dibantu beberapa perusahan swasta yang bertindak sebagai sponsor.

Baru 2 hari kemudian, Presiden Republik Indonesia mengirim ucapan selamat kepada para pemenang ICYS melalui akun twitter-nya @SBYudhoyono. Agak basi memang, dan jauh dari cukup. Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan? Satu hal telah dibuktikan bahwa tanpa campur tangan pemerintah, sesuatu toh berhasil dengan gilang gemilang.

Sayang, malam itu saya tidak bisa menemui pendiri dan pimpinan “Surya Institute”, Profesor Yohanes Surya. Dia sedang menikmati kesibukannya yang luar biasa di “mainan” barunya, “Surya University”. Malam itu dia tidak hadir. Tetapi, Prof. Surya kembali membuktikan bahwa anak Indonesia adalah anak-anak yang hebat, berpotensi tinggi dan berotak encer. Saya masih ingat pesannya, sekian tahun lampau, ketika pertama kali saya berjumpa dengannya. “Pak Sus, tidak ada anak yang bodoh. Yang ada adalah anak yang tidak mendapatkan guru yang tepat dan kesempatan yang baik, untuk mengembangkan kemampuannya”. Diam-diam saya menganggukkan kepala dalam-dalam, mengakui pendapat guru besar ini. “Congratulation Professor Surya, Thank you so much, I admire you”.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Stanley, Keindahan Sisi Selatan Hongkong …

Moris Hk | | 29 August 2014 | 14:46

Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 4 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 7 jam lalu

Jokowi Mengkhianati Rakyat Jika Tidak …

Felix | 8 jam lalu

Ganteng-Ganteng Hakim MK …

Balya Nur | 9 jam lalu

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Basuki Tjahaja Purnama …

Mila Vanila | 8 jam lalu

Hilang, Gedung Bersejarah di Makassar …

Nur Terbit | 8 jam lalu

Indonesia -Australia Tandatangani …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 8 jam lalu

Mengupas Lawan Elja di 16 Besar …

Agustinus Yunastiaw... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: