Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Belajar Asyik (Berasyik) dengan Gareng Dalang Paduka

REP | 29 April 2013 | 19:02 Dibaca: 210   Komentar: 1   0

“Yah…. belajar sejarah lagi”, itu perkataan yang kadangkala terucap dari beberapa siswi dikelas VII saat aku masuk ke kelas mereka untuk menyampaikan materi.Itulah realita yang ditemukan dalam pembelajaran sejarah. Momok yang umum dirasakan setiap guru yang mengajar pelajaran sejarah. Dalam benak siswa-siswi, belajar sejarah itu sulit dan membosankan. Sulit karena banyak hapalannya, membosankan karena disampaikan dengan tidak menarik.

Sebagai guru yang perduli terhadap pendidikan karakter dengan penyampaian pembelajaran sejarah, tentu penulis tidak pasrah terhadap realita yang ada. Bahkan, menjadi tantangan bagaimana mengajarkan sejarah yang memudahkan siswa menyerap materi dan menjadikan siswa-siswi tertarik belajar sejarah?. Aku selalu berpikir dan berpikir untuk membuat media yang menarik dan membantu siswa-siswi dalam memahami materi yang diajarkan olehku.

Pada semester ini penulis mengajar sejarah pada pokok bahasan perkembangan agama Hindu-Buddha di Nusantara. Materi ini sangat menarik, karena siswa-siswi diperkenalkan dengan kisah asal-muasal agama Hindu-Buddha, ajarannya dan yang lebih menarik adalah kisah atau cerita sejarah tentang kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Pada awalnya penulis menyampaikannya dengan metode menjelaskan materi-materi tersebut. Ada kejenuhan dan kebosanan yang terlihat diwajah-wajah siswa-siswiku itu. Sampailah kutemukan ide kreatif, setelah melihat Backdrop atau spanduk bekas kegiatan yang teronggok di bak sampah. Pikirku, mengapa tidak kumanfaatkan saja backdrop bekas itu untuk pembelajaran?. Maka ku kumpulkan backdrop atau spanduk bekas tersebut untuk kujadikan media pembelajaran. Tetapi masih bingung media apa yang bisa dibuat dari backdrop bekas ini?.

Dari ingatan yang ada dibenakku, aku teringat tentang teknik mengingat serta memahami materi atau bahan pelajaran. Istilahnya bernama Graphic recording. Makna dari graphic recording sendiri adalah proses yang digunakan untuk merekam materi dengan kata-kata dan gambar pada tampilan visual yang besar.Kata-kata dan gambar pada visual besar bermanfaat untuk merangsang kreatifitas, produktifitas dalam belajar.jelas terlihat, media ini membantu sekali untuk menuliskan semua materi yang diajarkan, dalam paparan atau beberan besar sehingga siswa-siswi memahaminya dengan menyeluruh. Karena graphic recording ini ditulis dilatar putih bekas spanduk (backdrop bekas), maka penulis namakan media ini menjadi media Gareng Dalang Paduka atau graphic recording dari daur ulanmg spanduk bekas.

Bagaimana cara membuatnya?. Mudah saja. Kita siapkan spanduk bekas yang berasal dari plastik. Guntinglah sesuai ukuran. Lalu siapkan pola gambar dan tulisan untuk dituangkan kedalam spanduk bekas itu. Kemudian pindahkan pola gambar tersebut di spanduk belas dengan menggambar sesuai dengan pola lalu warnai seperlunya. Graphic recording siap untuk digunakan.

Dalam mengajar menggunakan graphic recording, penulis membagi 5 sequel atau babak yakni : materi penyebaran agama Hindu, penyebaran agama Buddha, Himalaya dan sejarah asal-muasal agama Hindu-Buddha, 8 ruas jalan keselamatan, dan Kingdom of Majapahit, serta terakhir adalah : Abdi Sang Raja.

Mengajarkannya sejarah menggunakan gareng dalang paduka adalah dengan berbagai trik dan variasi. Hal ini memberikan banyak dampak sehingga siswa-siswi benar-benar memahami materi yang disampaikan. Dengan Graphic recording, guru dan siswa terbantukan untuk memahami materi pelajaran serta mampu untuk menuangkan materi-materi yang dipelajari. Penulis menggunakan trik dan variasi sebanyak : empat buah. Adapun trik dan variasi keempat itu, penulis jelaskan sebagai berikut :

1. Guru menjelaskan materi dengan graphic recording

2. Siswa-siswi secara berkelompok belajar satu persatu secara bergilir graphic recording yang dibuat guru, untuk selanjutnya dicatat hal-hal terpenting untuk dipahami dan diingat. Juga membuat pertanyaan dan jawabannya untuk lombha cepat-tepat.

3. Siswa-siswi dikelompok membuat graphic recording atas bimbingan guru dan,

4. Siswa-siswi berkempompok mempresentasikan atau menjelaskan graphic recording yang dibuatnya didepan kelas satu-persatu sesuai urutan tampilannya.

Dari pengalaman mengajar dengan menggunakan gareng dalang paduka pada materi sejarah penyebaran agama Hindu-Buddha di Nusantara secara pengamatan yang dilakukan oleh tekan guru pengampu mata pelajaran lainnya (seorang guru Sejarah SMA), didapatkan informasi sebagai berikut :

1. Antusias belajar siswa-siswi menggunakan media gareng dalang paduka pada materi penyebaran agama Hindu-Buddha di Nusantara cukup baik. Siswa-siswi bersemangat dalam memahami dan mengingat informasi-informasi yang ada dalam media tersebut.

2. Kualitas graphic recording yang dihasilkan cukup bagus, hanya saja perlu pembimbingan kembali agar hasilnya lebih bagus lagi.

3. Saat menjawab pertanyaan yang disampaikan, siswa-siswi sudah baik sekali. Pertanyaan dijawab dengan jawaban yang benar.

4. Dalam menjelaskan graphic recording yang dibuat sudah cukup baik. Inti-inti dari materi telah dibuatkan.

Dari pengamatan secara umum dapat ditarik kesimpulan, bahwa gareng dalang paduka memberikan ketertarikan belajar dan meningkatkan semangat belajar. Penggunaan media gareng dalang paduka dapat memberikan motivasi belajar siswa-siswi kelas VII SMP Internat Al-kausar.

Penulis bersyukur mendapatkan media gareng dalang paduka ini. Media sederhana tetapi memiliki kegunaan yang besar. Siswa jadi senang belajar sejarah, siswa jadi terasah kreatifitas dan imajinasinya dengan membuat graphic recording (gareng) dan siswa-siswi mendapatkan peningkatan hasil belajar sejarah. Sehingga kreatifitas mengajar dengan media gareng dalang paduka akan penulis kembangkan menjadi lebih baik lagi dimasa mendatang. Semoga hal ini menjadi terwujudkan. Amin..

Penulis adalah Guru Sejarah di

SMP Internat Al-kausar Sukabumi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Petrus Lengkong, Seniman Dayak, Pensiunan …

Emanuel Dapa Loka | | 20 September 2014 | 08:56

Menilik Kasus Eddies Adelia, Istri Memang …

Sahroha Lumbanraja | | 20 September 2014 | 11:51

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 10:24

Wow… Peringkat FIFA Indonesia Melorot Lagi …

Hery | | 20 September 2014 | 09:35

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 6 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 7 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 7 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Gas Elpiji 12 Kg dan Elpiji non subsidi …

Asep Wildan Firdaus | 8 jam lalu

Wow! Demi Cinta, Wanita Ini Tinggalkan …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Sempol, Desa Eropa di Kaki Gunung Ijen …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Memangnya di Sorga Ada Apa?? …

Fenusa As | 8 jam lalu

Menikmati Penyakit Hati …

Orang Bijak Palsu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: