Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Musa Hadibrata

mahasiswa idiot yang akan menjadi penakluk dunia! apakah bisa?

Percaya Diri Itu Lebih Baik

OPINI | 29 April 2013 | 19:19 Dibaca: 195   Komentar: 1   0

Pernahkan anda mendengar nama tokoh besar dunia seperti Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, atau Walt Disney? Pasti anda pernah mendengar bukan, tapi apakah anda tahu bahwa di masa kecilnya mereka kesulitan dalam membaca dan menulis? Albert Einstein dimasa kecilnya sangat sulit dalam belajarnya karena menulis dan membaca itu adalah musuh yang selalu menakuti dan menyiksa dirinya. Dia bahkan tidak ingat huruf X itu sebelum Y, kata-kata itu menari di otaknya yang sudah penuh dengan banyak huruf dan angka. Tapi suatu hari, dunia di buat terkejut dengan penemuan teori relativitasnya. Leonardo Da Vinci, dimasa kecilnya dia kesulitan membaca dan menulis, tapi dia dapat menemukan helikopter dan terbang, 400 tahun sebelum pesawat pertama ditemukan. Walt Disney, pencipta karakter Mickey Mouse. Dia juga kesulitan dalam membaca dan menulis, sehingga dia memutuskan untuk terjun ke dunia kartun. Lalu, bagaimana mereka bisa menjadi tokoh besar dunia?

Setiap orang memiliki keunikan dan bakat tersendiri yang kadang orang lain tidak megerti. Terkadang keunikan itu sendiri dianggap aneh sehingga tidak jarang mereka di tentang dan di asingkan dari banyak orang, mereka di bilang gila dan idiot. Tapi, apakah anda tahu mereka dapat melihat dunia yang berbeda dengan keunikannya itu sehingga mereka bisa melangkah keluar dan membuat sesuatu yang menakjubkan yang pada akhirnya mereka tetap menjadi pemenang yang membuat kagum dunia. Inilah yang membuat mereka berhasil menjadi tokoh besar dunia. Menemukan apapun yang bisa di buat menarik tanpa takut dengan kegagalan.

Namun, realitanya sekarang masih banyak orang yang lambat sadar bahkan tidak sadar dengan keunikan yang dimiliknya, sehingga ketika mereka mencoba mengexplore bakatnya timbul rasa tidak percaya diri. Hal ini disebabkan karena orang tua sudah mendoktrin kita semenjak kecil bahwa kita harus menjadi ahli mesin, insinyur dan sebagainya yang sebenarnya sangat bertentangan dengan bakat yang kita miliki. Mereka mencoba meneruskan ambisi yang tidak mereka dapatkan dulunya sehingga menjadikan anak sebagai kuda pacuan dan tolak ukur untuk mencapainya. Semakin tinggi sekolah dan  semakin tinggi gelar anaknya berarti mereka sudah semakin berhasil dalam mendidiknya. Tetapi, apakah orang tua sadar dengan ambisi anaknya sendiri? Ini yang masih menjadi kendala hingga saat ini, banyak anak yang menjadi buta bahkan mereka tidak bisa melihat apa yang ada di dalam dirinya. Sehingga timbul kecenderungan anak untuk meniru hal-hal baru yang dia sendiri belum mengerti tujuannya yang pada akhirnya kebiasaan itu terbawa ke sekolah. Contohnya saja ketika ujian, adanya anak yang mencontek temannya bahkan anak pintar sekalipun masih tidak yakin dengan jawabannya, sehingga ketika ujian telah usai rasa cemas itu masih ada. Takut akan mendapat nilaiyang jelek dan ujian yang gagal. Kalau saja seandainya kita tidak buta dengan diri sendiri, gagal dan nilai jelekitu tidak akan menjadi masalah yang serius malahan menjadi motivasi.

Tetapi, kenapa masih banyak dari kita yang takut dengan kegagalan? Itulah masalah seriusnya kenapa saat ini kita masih sangat lambat untuk berkembang dan sadar dengan keunikan tersebut. Kita merasa malu dengan kegagalan itu, karena kita takut di kucilkan dan di hinasehingga secara otomatis kita semakin buta dengan diri sendiri. Ini sudah menjadi kebiasaan yang buruk di lingkungan kita bahkan orang tua pun ikut memarahi kita, bukannya memberi semangat tetapi malah sebaliknya.Bisa di ibaratkan kita ini sebagai pohon yang tumbuh subur, tetapi setiap harinya pohon itu selalu di beri hinaan dan hujatan sehingga beberapa hari kemudian pohon itu mati. Apa bedanya kita dengan pohon itu jika setiap harinya kita selalu merasa terpuruk tanpa ada yang memberi kita motivasi pasti hidup ini terasa gelap dan tidak tentu arah yang membuat kita berada di bawah tekanan depresi. Apakah kita harus melawan orang tua agar impian kita tercapai? Tidak, bagaimanapun mereka itu adalah orang tua kita, Cuma ada kalanya orang tua itu lupa dengan apa yang dilakukannya pada kita. Disinilah peran orang tua dan anak itu berpegang penting untuk menjaga hubungan dan relasi di antara keduanya agar tidak terjadinya kecanggungan dan kesalah pahaman.

Mungkin itu adalah sebagian permasalahan yang kita alami saat ini mengapa dunia pendidikan di Indonesia masih sangat lambat berkembang dan kacau.Bisa dibilang bukan hanya di dalam pendidikan bahkan Indonesia pun sudah seperti kehilangan ciri khasnya. Tetapi, inilah saatnya kita untuk mulai sadar dan percaya dengan keunikan yang kita miliki, bangkit tanpa takut untuk maju dan menciptakan hal yang baru karena kita yakin pasti bisa.

Tulisan ini didedikasikan untuk Ki Hajar Dewantara atau yang lebih di kenal dengan sebutan bapak pendidikan sebagai rasa syukur dan terima kasih atas jasa dan perjuangannya selama ini. Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | | 28 November 2014 | 11:45

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Serunya Dalang Bocah di Museum BI Jakarta …

Azis Nizar | | 28 November 2014 | 08:50

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



HIGHLIGHT

Bos Arus Liar Bicara Bisnis Arung Jeram …

Tuan Yuda | 7 jam lalu

Fenomena Penipuan Berkedok Bisnis Online …

Alan Budiman | 7 jam lalu

5 Artis Ibukota Tes HIV Diam-diam di …

Syaiful W. Harahap | 7 jam lalu

Uji Kompetensi Keperawatan Nasional Luar …

Rinta Wulandari | 8 jam lalu

Hidup Sederhana, Gak Punya Apa-apa tapi …

Natalia Karyawati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: