Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Yohanes Wempi

Aktifis bermasyarakat, fokus bergerak dibidang budaya minangkabau

Krisis Moral Agama Melanda Remaja

OPINI | 30 April 2013 | 14:32 Dibaca: 1310   Komentar: 5   1

Moral para remaja saat ini sudah berada di bawah titik mengkawatirkan. Ini merata di setiap daerah dalam Republik Indonesia. Bahkan, warga seperti sudah merasa “biasa” dengan tingkah laku seperti tawuran, narkoba, perncurian, dan pergaulan bebas yang menyebabkan kehamilan.

Teranyar, kasus remaja tidak lagi sebatas itu. Mereka sudah mengarah pada ranah pelecehan dan penistaan agama. Salah satu kasus yang masih hangat terjadi di daerah Toli Toli. Penistaan agama yang dilakukan remaja dengan menggabungkan gerakan praktik sholat berjamaah dengan goyang disko vulgar oleh siswi sekolah SMA 2 Toli Toli saat kegiatan les bagi kelas calon peserta Ujian Nasional (UN).

Perbuatan yang dilakukan oleh remaja SMA 2 Tolitoli ini diluar akal sehat. Jika dilihat dalam videonya, 5 orang siswi berpakaian baju olah raga. Tiga orang berbaju olah raga berwarna kuning, satu orang berpakaian baju olah raga warna biru dan satu lagi tidak mengenakan seragam sekolah sudah berganti dengan mengenakan baju bebas. Yang miris, di antara anak-anak itu ada yang pakai jilbab warna hitam.

Dalam video di situs www.youtube.com berdurasi 5 menit 33 detik, mereka melakukan gerakan shaolat seraya mengucapkan beberapa bacaan Allahu Akbar dan ayat-ayat al Quran (surat al-Fatihah). Lalu gerakan tersebut dilanjutkan oleh iringan salah satu lagu disko musik barat “One More Night” dan gerakan mereka mengikuti iringan lagu tersebut seraya berjoget-joget dengan liarnya.

Ketika Musik disko berhenti, mereka berbaris rapi layaknya barisan saf salat dengan berucap, “Allahu Akbar.” Diteruskan dengan membaca surah Al Fatihah yang masih dengan nada mengejek. Ketika akan rukuk, musik disko terdengar kembali dan mereka joget sepuas hati. Musik disko berhenti, mereka lanjut dengan gerakan sujud. Saat sujud, terdengar beberapa orang tertawa melihat mereka. Mungkin ada teman-teman mereka yang duduk di bangku sekolah melihat mereka. Perlu kita ketahui bahwa SMA 2 Tolitoli tersebut siswa-siswinya bergama Islam 98 persen, termasuk kelima pelaku.

Kasus yang terjadi pada ramaja sekolah seperti di datas merupakan puncak gunung es permasalah remaja yang ada akhir-akhir ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penistaan agama, baru kali ini terjadi di Indonesia yang dilakukan oleh remaja sekolah yang beragama Islam. Sehingga, kasus di atas menyentak kita. Permasalahan tersebut tidak bisa dianggap remeh.

Bahkan, kasus itu tidak bisa dianggap bentuk ekspresi puberitas/psikologis labil, karena mereka masih anak sekolah. Sehingga ditanggapi dengan sikap pembiaran dan pemakluman, tapa mencari akar pokok-pokok permasalahan yang terjadi.

Kasus remaja sekolah Toli Toli tersebut belum pernah terjadi di daerah Sumatra Barat, kita berharap kondisi itu jangan terjadi di Ranah Bundo. namun reponsif kita terhadap kasus SMA 2 Toli Toli harus dicarikan antisipasi dan solusi agar tidak terjadi. Secara statistik kenakalan remaja di Sumbar saat ini masih sebatas penyalahgunan norkoba, kasus siswi hamil diluar nikah, perkelahian antar remaja dan pencurian, dan lainya.

Walaupun hanya sebatas kasus tersebut, gejala kerusakan moral dan perilaku menyimpang remaja Sumbar sudah dikatagorikan yang mengkawatirkan juga, yang perlu dicarikan solusi-solusinya.

Tanggung jawab penyelesaian dan antisipasi kenakalan remaja harus dimulai dari orang tua. Di sini peran orang tua dan keluarga sangat menentukan dalam perbaikan tingkah laku dan perbuatan anak. Maka anak kita harus diarahkan dan dibina dengan ilmu Agama Islam. Di samping itu, orang tua harus menjadi teladan dan mengontrol anak di rumah. Jika hal itu dilakukan, ada optimisme anak remaja akan memiliki moral dan tingkah laku yang baik.

Dunia pendidikan di Sumatera Barat melalui kebijakan dan sistem pendidikan formal harus menekankan ilmu pengetahuan yang memuat nilai-nilai agama, ilmu pengetahuan yang diajarkan harus disertai dengan keterkaitan dengan nilai-nilai agama. Sehingga dari ilmu pengetahuan yang didapat akan diiringi dengan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti yang baik.

Para remaja yang masih duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi diberi ilmu agama dan ilmu pengetahuan yang dikolaborasikan dengan sistematis, seperti konsepnya pendidikan yang sudah diaplikasikan oleh Wali Kota Payakumbuh Riza Falefi dengan menggabungkan gerakan menghafal Al Quran dengan sistem pendidikan formal.

Di samping itu lingkungan masyarakat dan tempata pergaulan diciptakan budaya yang kondusif untuk para remaja, lingkungan masyarakat ini ditumbuhkan kehidupan yang religius dan Islami. Daerah Sumbar pada dasarnya sudah dikungkung dengan konsep Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabbullah, sangat muda nilai-nilai itu berkembang di masyarkat.

Ada keyakinan, ketika anak remaja berada di lingkungan masyarakat religius, maka bisa dipastikan anak remaja terebut akan religius. Ditambah dengan lingkungan yang memberi sanksi sosial kepada remaja yang melakukan kesalahan dengan hukuman ringan dan berat.

Kenakalan dan kerusakan moral remaja saat ini, harus secepatnya diatisipasi terutama di Sumatra Barat. Sebelum kehidupan remaja yang hedonis dan jauh dari nilai-nilai agama berkembang membudaya, maka sangat tepat uraian diatas dilakukan orang tua, pemerintaah dan masyarakat yang saling sinergis membina remaja sekolah. Sehingga, ada keyakinan kasus penistaan agama yang dilakukan oleh siswi SMA 2 Toli Toli tidak terjadi di Sumatra Barat. (*)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 5 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 5 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 9 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 12 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Gojlokan Dian Kelana, Membuatku Kecanduan …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Tentang Aktivis Mahasiswa …

Ardiabara Ihsan | 8 jam lalu

Mendahului Perubahan …

Ardiabara Ihsan | 9 jam lalu

Emak, Izinkan Aku Ikut Demo …

Fitria Yusrifa | 9 jam lalu

Insiden Heroik 19 September 1945 …

Www.parikanedansuro... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: