Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Agung Pribadi

Orang bodoh yang tak kunjung pintar, bisanya hanya membanggakan nusantara lama.

Arti Penting Orangtua Bagi Kebaikan Negara

REP | 01 May 2013 | 10:29 Dibaca: 119   Komentar: 0   0

Penulis mendapatkan data dan fakta banyak dari anggota Dewan Perwakilan , Gubernur, Walikota dan Bupati serta pejabat pemerintahan yang banyak menelantarkan orang tuanya. Maksudnya adalah banyak dari mereka menitipkan orang tuanya ke Panti Jompo. Bisa di tebak salah satu alasannya adalah mereka terlalu sibuk hingga tidak sempat mengurus orang tuanya. Atau bahkan kalau di titipi orang tunya mereka akan keberatan dan banyak merepotkan. Padahal di wilayah pinggiran yang masih tradisional dan kukuh dalam tradisi banyak dari mereka yang berebutan untuk di tinggali orang tuanya karena mengharapkan berkah dari Tuhannya. Bagi mereka Tuhan akan memberi kelebihan tertentu kepada mereka-mereka yang mau merawat dan tinggal bersama dengan orang tuanya.

Bagaimana negara bisa becus mengurus dan menyelesaikan masalahnya jika para pelaksana negaranya mengurusi orang tuanya yang notabene melahirkan dan mengurusnya sejak kecil hingga dewasa dan mampu menghidupinya sendiri saja tidak mau bahkan cenderung membuangnya. Bagaimana mereka bisa mengurus rakyatnya padahal dengan orang tua nya mereka enggan sowan dan berbincang – bincang. Ada suatu kisah yang sangat banyak hikmahnya dari Umar Bin Khattab RA dan Abdullah Bin Umar RA, kisah bapak – anak yang lepas dari pembelajaran banyak orang.

Suatu ketika di akhir hayatnya Umar Bin Khatab RA ketika di tusuk oleh Ibnu Muljam, orang Persia dan kemudian beliau meninggal. Sebelum meninggal beliau yang terkenal akan kepemimpinannya yang adil dan bijaksana masih juga memikirkan tentang keadaan negara sepeninggalan beliau dan kekhalifah setelah beliau, padahal beliau dalam keadaan yang sangat lemah dan penuh penderitaan. Beliau mengumpulkan para sahabat-sahabat utama yang tersisa yaitu Sahabat Usman Bin Affan, Sahabat Ali Bin Abu Thalib, Sahabat Abdurahman bin auf, Sahabat Saad Bin Abi Waqqas, Sahabat Thallah Bin Thallah dan Sahabat Zubbair Bin Awaam. Mereka berunding dan semua sepakat untuk mengangkat putra beliau yaitu Abdullah Bin Umar RA sebagai pengganti beliau.

Para sahabat itu beralasan tidak ada sahabat yang mirip dengan Rasullullah Muhammad SAW . Mulai dari cara berjalan, cara berpakaian, cara berbicara, intonasi suara, cara berpakaian dan hampir semua perilaku adalah mirip Rasullullah Muhammad SAW. Sikap kehati-hatian serta perilaku yang adil merupakan juga ciri dari Sahabat Abdullah Bin Umar. Namun apa daya sikap Umar Bin Khattab yang begitu keras dalam prinsip menyangkal dan menolak pengangkatan Abdullah Bin Umar. Bukan sebab apa-apa namun Umar Bin Khattab memiliki catatan buruk atas diri putra beliau yaitu suatu kali pernah mengabaikan kehendak dan perintah beliau untuk menceraikan istri Abdullah Bin Umar karena beberapa sebab. Hanya karena satu sebab tidak mematuhi perintah seorang ayah, seorang Sahabat Nabi yang tidak diragukan lagi tingkat ke Wara annya, keulamaannya dan keadilannya harus tidak patut dijadikan pemimpin sebab tidak memperlakukan orang tua dengan sebagaimana mestinya.

Memang semua manusia pernah bersalah dan pernah khilaf dalam hidup, namun dalam benak Khalifah Umar Bin Khattab sebab tidak tunduk dan patuh karena orang tua adalah sebuah kesalahan yang besar dalam perilaku manusia dan tidak sepatutnya manusia yang menyia-nyiakan orang tua di jadikan seorang pemimpin, seorang imam dan seorang yang patut untuk memberi komando. Ada sebuah kaidah yang patut di perhatikan sebagai seorang anak yaitu “ sesalah-salahnya orang tua adalah sebenar-benarnya perilaku anak”. Maka sangat menyedihkan bahwa di bangsa ini sangat banyak para pemimpin dan penentu kebijakan yang harus menyia-nyiakan para orang tua mereka bahkan di akhir hayatnya harus di singkirkan dalam lingkungan keluarga. Dan juga patut menjadi catatan bahwa kesuksesan seseorang dalam meraih popularitas maupun jabatan di Negeri ini sedikit banyak itu adalah karena doa dari orang tua mereka. Maka sangat dhalim sekali jika dalam kenyataan ketika sudah mencapai popularitas dan kedudukan yang tinggi lantas kita melupakan jasa-jasa mereka. Dengan gambaran ini apa Tuhan tidak marah atas perilaku mereka yang nyata-nyata Nabi pun menegaskan “ bahwa ridhonya orang tua adalah ridhonya Allah, marahnya orang tua berarti pula marahnya Allah”.

Kita juga patut belajar sifat dan perilaku pada seorang yang pernah dikabarkan Nabi SAW kepada Umar Bin Khattab dan para Sahabat yaitu ada seseorang yang dari Negeri Syam yang melaksanakan Haji dengan menggendong ibundanya menuju ke Kota Mekkah padahal Ibundanya tersebut cerewet dan banyak permintaan. Pesan Nabi jika kau bertemu dengan orang tersebut engkau memintalah doa karena doanya mustajabah, tidak tertolak dan dikabulkan Allah. Ketika orang terebut dan ibundanya melaksanakan Haji yang beruntung menemuinya adalah sahabat Umar Bin Khttab dan beliau pun meminta doa untuk di masukkan surga. Kita semua juga patut belajar sifat dan perilaku pada KH Mustofa Bisri yang mana dalam sejarah kehidupan beliau tidak pernah shalat Istikharah selama Ibunda beliau masih hidup namun cukup di ganti dengan meminta pendapat Ibundanya dalam menentukan pilihan-pilihan hidup dan beliaupun tidak pernah menanyakan sebabnya, beliau hanya mematuhinya tanpa menanyakan sebab maupun akibatnya. Beliau berkeyakinan bahwa suara Ibunda beliau adalah suara Tuhan dan patut diyakini kebenaran perkataannya dan keputusannya dan yakin Tuhan pun ridho akan hal tersebut.

Maka keterpurukan negeri ini bisa jadi salah satu sebabnya adalah para pemimpin dan mungkin juga para sebagian rakyat negeri ini adalah karena mereka lupa membalas jasa-jasa orang tua, mereka lupa bahwa orang tua adalah sumber kebenaran dan berkah Allah SWT. Sudah waktunya para penduduk negeri ini kembali untuk memuliakan orang tua sebagai mana mestinya. Sudah waktunya orang tua mereka di berikan kedudukan yang sangat terhormat di dalam kehidupan mereka. Sudah waktunya pendidikan dan kurikulum negeri ini di isi dengan pelajaran moral menghormati dan memuliakan kedudukan orang tua agar peserta didik mampu dan berperilaku menghormati orang tua yang ujung-ujungnya adalah penghambaan kepada Allah SWT. Mungkin dengan ini Allah berkenan dan mau menyelesaikan permasalahan negeri ini yang sudah penuh dengan kebobrokan akhlak dan moral, mau menyelesaikan permasalahan ekonomi yang terus menerus terpuruk dan mau menjadikan negeri ini sehat, sejahtera dan bahagia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 12 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 13 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 14 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: