Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Fajarbaru

menulis untuk melawan proses amnesia sejarah

Hardiknas 2013: Hari Perkabungan Nasional

HL | 01 May 2013 | 19:18 Dibaca: 2746   Komentar: 27   5

13674218821638120486

Ilustrasi/Admin (Bowo Bagus)

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Perayaan ini sering diwarnai dengan seremoni apel bendera bersama bagi semua anak sekolah, guru, dan pegawai di pusat kecamatan. Terkadang diisi dengan aneka perlombaan antarsekolah, dinas, dan jawatan pemerintahan di daerah-daerah. Ketika masih SD, Hardiknas paling ditunggu-tunggu karena momen berlaga sepak bola melawan rekan-rekan dari sekolah-sekolah lain di satu kecamatan pada siang hari. Sedangkan pada malam hari, masing-masing sekolah boleh mengunjukan kebolehannya dalam membawakan puisi, drama, atau aneka atraksi budaya. Kebiasaan ini sangat positif dan semoga saja masih diteruskan.

Di balik aneka kegiatan yang berbau seremonial ini terkandung tujuan terdalam dari perayaan Hardiknas yakni: momen berhenti sejenak dari rutinitas pendidikan untuk mengenangkan jasa para pendidik-pahlawan tanpa tanda jasa baik pada tempo doeloe, maupun para pendidik masa kini. Selain itu, momen ini merupakan saat untuk mengevaluasi kembali “potret pendidikan” bangsa di masa lalu dan masa kini sembari membuat resolusi-resolusi kecil untuk perjalanan pendidikan di masa depan.

Terkait Hardiknas sebagai “momen refleksi” terhadap potret pendidikan, bangsa ini baru mengalami “potret terburuk” dalam bidang pendidikan. UN 2013 yang berantakan oleh karena lemahnya “manajemen” para pengambil kebijakkan dalam dunia pendidikan menjadi salah satu potret terburam dalam sejarah pendidikan Indonesia. Aneka kecurangan yang tetap muncul terkait UN 2013 juga menjadi salah satu potret buram pendidikan kita. Juga kurikulum 2013 yang oleh banyak pihak diminta penangguhan perealisasiannya oleh karena aneka pertimbangan telah turut menambah kusamnya wajah edukasi di bumi persada tercinta ini.

Oleh karena itu, Hardiknas 2013 sepertinya perlu dimaknai sebagai “hari perkabungan nasional” bagi dunia pendidikan Indonesia. Jika dianggap perlu, bendera dinaikan setengah tiang ketika apel di lapangan kecamatan seperti ketika mengenangkan gugurnya seorang pahlawan. Kita pantas berkabung oleh potret kusam dunia edukasi pada tahun ini. Dengan cara ini, semua pihak bisa menjadi lebih reflektif agar bisa memberikan yang terbaik untuk kemajuan pendidikan anak bangsa di tahun-tahun yang akan datang.

Selamat merayakan Hardiknas 2013 sebagai momen hari berkabung nasional!

Salam Berkabung Bersama

Terkait: Utopia Pendidikan Sebagai Vaksin dan Elevator?


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keluarga Pejabat dan Visa Haji Non Kuota …

Rumahkayu | | 30 September 2014 | 19:11

Me-“Judicial Review” Buku Kurikulum …

Khoeri Abdul Muid | | 29 September 2014 | 22:27

Spongebob dalam Benak Saya …

Ire Rosana Ullail | | 30 September 2014 | 16:48

Sepak Bola Indonesia Kini Jadi Lumbung Gol …

Arief Firhanusa | | 30 September 2014 | 15:58

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 9 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 11 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 14 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Smartphone dan Pribadi Boros Energi …

Dian Savitri | 8 jam lalu

Gerakan Indonesia Menulis; Mencari Nilai …

Rendra Manaba | 8 jam lalu

Pegawai BRI Beraksi Bak Debt Collector …

Rusmin Sopian | 8 jam lalu

Tradisi dan Teknologi …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Pisah Sambut Kejari Singaparna …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: