Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bude Binda

Langkah kecil kita mengubah dunia. Berpuisi di Http://jendelakatatiti.wordpress.com.

Hari Pendidikan Nasional, Antara UN dan Kurikulum 2013

OPINI | 01 May 2013 | 19:28 Dibaca: 310   Komentar: 3   3

Oleh Bude Binda

Besok 2 Mei kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tanggal 2 Mei diambil dari hari lahirnya Ki Hajar Dewantara tokoh pendidikan Indonesia. Beliau merintis pendidikan untuk rakyat Indonesia dengan perguruan Taman Siswanya. Sesanti atau pedoman pendidikannya masih relevan hingga kini : ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi contoh, di tengah membangun motivasi, di belakang mengikuti. Itulah pedoman untuk guru sejati yang menjadi teladan, motivator, dan pengasuh/pengemong siswa.

Ki Hajar Dewantara menjadi guru dengan fasilitas sederhana yang tak sehebat di era ini (ada internet, multi media, whiteboard, dll) namun toh hasilnya luar biasa. Mereka menjadi siswa yang tangguh dan cinta tanah air. Karakternya tak diragukan lagi. Nah sekarang seperti apakah dunia pendidikan Indonesia setelah kita merdeka selama  78 tahun?

Jawabnya barangkali akan tak secemerlang semestinya: UN yang pelaksanaannya dianggap terburuk, pergantian kurikulum yang masih menjadi polemik menuai pro dan kontra, siswa yang suka tawuran, siswi yang hamil  sebelum menikah, guru yang melakukan pelecehan seksual terhadap siswanya dan sederet kasus di dunia pendidikan yang tak mencerminkan wajah pendidikan.

Tentu saja tak semua citra pendidikan negatif. Ada siswa berprestasi baik tingkat nasional maupun internasional. Guru berprestasi dengan penemuan metode atau media mengajar yang kreatif. Siswa yang semnangat belajarnya tinggi walau sekolahnya jauh dari rumah tinggal bahkan kadang harus menempuh bahaya dalam menempuhnya.

Ujian Nasional masih menjadi momok atau hantu yang menakutkan baik bagi siswa mau pun guru dan kepala sekolah mau pun pejabat di atasnya. Apakah memang UN sedemikian menakutkan? Sebenarnya jika  pembelajaran berjalan dengan baik dan bermutu mestinya UN bukanlah sesuatu yang pantas ditakuti. Soal-soal yang ke luar pada UN semua sudah diajarkan dan masuk di kurikulum. Tak ad asoal yang meleset tiba-tiba saja melenceng dari kurikulum. Jadi apa sih sebenarnya yang ditakuti? Mungkin ketakutan itu akibat tidak percaya diri pada proses belajar mengajar di sekolah.

Lain halnya jika UN tak serentak seperti yang terjadi saat UN SMA/SMK. Entah siapa yang salah, menteri beranggapan percetakan yang salah, percetakan menuding pembuat soal yang terlambat menyerahkan soal ke percetakan. Kata Ebiet G. Ade tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Masalah lain pada Hardiknas tahun ini, pergantian kurikulum. Dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan  (KTSP) ke Kurikulum 2013. Apakah pergantian kurikulum harus tiap 5 tahun? Menurut saya pribadi pergantian ini terlalu cepat. Bayangkan pemerintah telah membeli hak cipta pada pengarang buku BSE/ buku elektronik. Ketika pemakaian buku ini belum  maksimal eh sudah harus ganti buku lagi. Ada pengadaan buku lagi, membeli hak cipta, mencetak, menditribusikan,  entah berapa rupiah akan diperlukan. Mungkin milyaran atau trilyunan.  Demikian juga biaya sosialisasi kurikulum 2013 ini.

Ah, sudahlah daripada pusing memikirkan rencana dan pekerjaan pemerintah, lebih baik kita merenung. Semoga esok lebih baik dari kemarin dan hari ini. Sebagai guru yang bisa saya lakukan adalah mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya. Semoga mereka kelak menjadi manusia yang jujur, bertakwa, dan bertanggung jawab. Kelak ketika  tiba saatnya memimpin negeri ini mereka menjadi pemimpin yang jujur, yang layak diteladani rakyatnya, mau bekerja keras demi kemajuan bangsa  yang berkeadilan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Bude Binda

Banjarnegara, Rabu 1 Mei 2013

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Perjuangan PPP & PPP Perjuangan …

Ribut Lupiyanto | | 31 October 2014 | 14:24

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 6 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 10 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 10 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kompasiana-Tanoto Foundation Blog …

Kompasiana | 7 jam lalu

Sang Pawang Jati …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Meningkatkan Kesadaran Tentang Korupsi …

Andrew Ebeneizer Se... | 8 jam lalu

Moratorium CPNS 5 Tahun? Slow aja! …

Niztchan | 8 jam lalu

Vergiss-mein-nicht (Gema di Lautan Sunyi …

Monika Chandra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: