Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Posma Siahaan

Bapak Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan.

Bila Kurikulum 2013 Begitu Membingungkan, ‘Skip’ Saja seperti Mika Angelo

OPINI | 02 May 2013 | 05:33 Dibaca: 1314   Komentar: 16   1

1367411342888786264

sumber: http://makelar-berita.blogspot.com/2013/02/biodata-Mikha-Angelo.html

Mika Angelo,15 tahun saat ini menjadi satu dari 4 finalis yang tersisa di ‘X Factor Indonesia’ yang ditayangkan tiap hari Jumat malam pukul 21.00 WIB.

Menarik sosok Mika bukan karena ketampanan dan kesan imutnya, tetapi juga karena kemampuannya bermusik yang sangat baik di usianya yang baru 15 tahun. Dia bisa bermain piano, gitar, mengaransemen lagu dan tentu saja bernyanyi.

Kemampuan bermusik inilah yang membuat Mika Angelo diterima langsung kuliah di SSR (School of Sound Recording) sebuah institusi pendidikan musik (audio engineering, music production and creative media).Berpusat di London dan memiliki cabang di Jakarta, Singapore, Manchester dan Kohcang (Thailand).

Tadinya saya mengira Mika ikut kelas akselerasi misalnya SD hanya 4 tahun, SMP 2 tahun dan SMA 2 tahun, tetapi ternyata tidak. Dia ’skip’ alias melangkahi SMA, sesudah SMP langsung kuliah dan ternyata tempat kuliahnya menerimanya karena kemampuan yang dimilikinya cukup untuk mengikuti perkuliahan mereka.

Jadi, untuk apa si Mika menghabiskan waktu 3 tahun mengikuti kurikulum SMA yang ‘njelimet’ padahal untuk kuliah yang dia inginkan ternyata itu tidak perlu?

Mungkin ini karena perkuliahan berbasis seni dan keterampilan seperti SSR lebih menilai kemampuan bermusik dibandingkan segala syarat-syarat administrasi, ilmu formal dan teoritis yang jarang terpakai di terapan, tetapi bukan tidak mungkin yang lain pun akan memikirkan hal yang sama: PERLUKAH IJAZAH SMP atau SMA untuk kuliah?

Bila seseorang pintar bermain bola dengan bakat alam dan mampu melewati 4-5 pemain yang 5 tahun lebih tua, apakah dia harus lulus pelajaran kwadrat, akar, hukum pitagoras sebelum masuk akademi bola?

Ataukah seorang yang tidak pernah sekolah formal karena harus berdagang asongan membantu orang tuanya tetapi senang baca biologi, anatomi, kimia dan fisika, dapatkah dia ’skip’ langsung ujian di fakultas kedokteran?

Sebaiknya semua universitas memberi peluang adanya tes masuk pola seperti ini, karena mungkin banyak anak-anak berbakat terpaksa jadi ‘kusut’ bakatnya karena harus dicekoki pelajaran yang tidak terlalu perlu selama bertahun-tahun yang membenamkan keistimewaan mereka.

Jadi, yang penting si anak bisa baca,menulis, membuat esay, berhitung dan selanjutnya testingnya adalah skill. Bila kemampuannya cukup berpotensi dan peluang berkembangnya tinggi, maka mereka dapat kuliah di sana.

Dan bagi yang tidak setuju isi kurikulum 2013 bisa buat tempat belajar ‘khusus’ yang berorientasi langsung ke kuliah tertentu yang tidak mementingkan ijazah, yang penting lulus tes masuk dan si anak bekal dasar-dasar skill-nya cukup.

Dan bukan tidak mungkin dengan cara begini ada dokter spesialis usia 21 tahun dengan skill yang tidak kalah dengan dokter yang baru selesai spesialis di usia 40 tahun. Karena bisa ’skip’ mengunyah,menelan dan mencerna kurikulum selama 12 tahun yang nota bene tiap 5 tahun cenderung berganti-ganti sesuai kebijakan mentri saat itu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan di Bandara Sydney Ekstra Ketat …

Tjiptadinata Effend... | | 20 November 2014 | 18:49

Divisi News Anteve Diamputasi! …

Syaifuddin Sayuti | | 20 November 2014 | 22:45

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08

Kenapa Wisatawan Asing Suka Datang ke …

Elly Maria Silalahi | | 21 November 2014 | 00:18

Panduan Mengikuti Kompasianival 2014 …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19


TRENDING ARTICLES

Islah DPR, Pramono Anung, Ahok, Adian …

Ninoy N Karundeng | 14 jam lalu

Putra Kandias, Kini Ramai Dibully Karena …

Djarwopapua | 15 jam lalu

Ahok, Gubernur Istimewa Jakarta …

Rusmin Sopian | 15 jam lalu

Keberanian Seseorang Bernama Jokowi …

Y Banu | 15 jam lalu

Kesalahan Jokowi Menaikan BBM …

Gunawan | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Dari Negeri Petro Dollar Menuju Panggung …

Muhammad Samin | 8 jam lalu

Pagi-pagi Kena Tilang …

Ridlo Syamsul | 8 jam lalu

Ayo Sukseskan Hari Ikan Nasional (Harkanas) …

Ratna Amaliania | 9 jam lalu

Calon Polwan (Tidak) Harus Perawan …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

Inspirasi dari Seorang “Penjual …

Fathan Muhammad Tau... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: