Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Harold Heydemans

hanya seorang biasa dari bumi nyiur melambai yang ingin share tentang "cara pandang melihat dunia"

Mengintip Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia: Finlandia

REP | 02 May 2013 | 16:35 Dibaca: 2549   Komentar: 5   1

Saat ini sepertinya SAMSUNG dan Blacberry sedang Berjaya di dunia HP Indonesia, tetapi beberapa tahun lalu yang paling populer tidak lain dan tidak bukan adalah NOKIA. Finlandia adalah negara produsen NOKIA dengan kantor Pusat di Kota Espoo. Tetapi ternyata Finlandia bukan hanya terkenal karena “NOKIA” saja, tetapi berbagai survey menyatakan kalau Finlandia adalah Negara yang memiliki Sistem Pendidikan Terbaik sedunia. Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS), ada baiknya kita mengintip sedikit metode sistem pendidikan mereka (dirangkum dari berbagai sumber), yang penulis harapkan ada pemangku kepentingan “Stockholders” pendidikan yang tidak sengaja nyangkut membaca tulisan ini  dan  mulai berpikir dan akan bertindak   untuk dapat kita adopsi kepada negara kita tercinta yang menurut survey berada di area “degradasi” kalau meminjam istilah liga Seria A Italia. X_X

Hampir Semua adalah Sekolah Negeri

Sekolah Independen sangat sedikit di Finlandia, dan semuanya merupakan biaya pemerintah. Tidak diperbolehkan sekolah membebankan biaya sekolah. Di tingkat Universitaspun demikian.

Tidak Ada Ujian Standar

Finlandia tidak menganut sistem ujian nasional pada tiap jenjang pendidikan. Yang ada hanyalah Ujian Matrikulasi Nasional yang diambil pada jenjang sekolah menengah atas yang bersifat ’sukarela’. Wajib belajar di Finlandia sendiri adalah antara usia 7 - 16 tahun. SD 6 tahun, SMP 3 tahun. Setelah lulus SMP, siswa memiliki pilihan: 1. boleh langsung masuk dunia kerja atau 2. masuk sekolah persiapan profesi atau gimnasium (sekolah menengah atas). Sekolah menengah atas ini setara dengan jenjang SMA di Indonesia. Lulusan sekolah menengah atas ini nantinya bisa lanjut lagi ke politeknik ataupun universitas.

Kompensi berkualitas dan Tanggung Jawab Guru sangat Besar

Guru-guru di Finlandia mendapatkan pelatihan khusus untuk dapat menilai siswa satu kelas. menggunakan tes independen yang diciptakan sendiri. Semua anak mendapatkan kartu raport tiap akhir semester, akantetapi rapor ini berdasarkan penilaian individu oleh tiap guru. Secara berkala, Menteri Pendidikan memantau kemajuan nasional dengan menguji beberapa sampel kelompok dari sekolah yang berbeda. Sistem ini memungkinkan dihasilkannya penilaian yang sangat spesifik ke kemampuan tiap individu siswa. Bukan sistem penilaian umum yang mungkin kurang dapat menjangkau kemampuan spesifik tiap siswanya. Guru dapat berkreasi untuk memberikan perhatian khusus ke tiap siswa. Guru jadinya punya tanggung jawab dan peran yang lebih besar. Guru dan staf administrasi sekolah di Finlandia mempunyai martabat dan gengsi yang tinggi, dan gaji yang layak. Gelar Master (S2) diperlukan untuk menjadi guru.

Guru tidak mengajar dengan menggunakan metode ceramah. Suasana sekolah  santai dan fleksibel. Siswa yang lambat mendapat dukungan secara intensif baik oleh guru maupun siswa lain. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaannya antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk. Ujian ulang atau Remedial tidak dianggap sebagai tanda sebuah kegagalan tetapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dll. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha. Guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan  membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Sistem ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.

Kurikulum Fleksibel

Konsep pendidikan Finlandia tidak menegakkan kurikulum pendidikan di mana setiap sekolah “harus mengajarkan kurikulum yang sama dengan metode yang sama pada jadwal yang sama.” Kementerian Pendidikan meluncurkan “Kurikulum Dasar” yang fleksibel, semacam panduan umum mengenai mata pelajaran apa yang harus diajarkan dan tujuan yang harus dicapai di setiap tingkat kelas. Kurikulum Dasar ini berlaku sebagai dasar untuk setiap sekolah saat mereka mempersiapkan kurikulum sendiri, di mana mereka dapat berkreasi menekankan pada pedagogi tertentu, pendidikan nilai tertentu (misalnya, sekolah hijau), keterampilan (seni, olahraga, bahasa), atau isu-isu lokal (misalnya, sekolah multikultural).

Setiap kelas difasilitasi hingga 3 orang guru. Apa yang guru pendidikan pelajari dari universitas memberi mereka berbagai macam metode pengajaran yang dapat digunakan sesuka mereka. Keanekaragaman dipandang sebagai kekuatan yang nyata dengan tidak mengisolasi siswa yang berbakat (dan/atau yang kaya) ke sekolah swasta seperti yang terjadi di Amerika atau di Indonesia, di mana kebanyakan siswa pintar dan kaya akan lebih cenderung masuk sekolah swasta bergengsi.

Para pelajar di Finlandia sangat menikmati belajar, selalu rindu sekolah, tidak rela tidak sekolah hanya karena libur ekstra atau sakit. Bisa dikatakan guru lah kunci keberhasilan dari sistem sekolah Finlandia, dan individualitas yang diperbolehkan dalam kelas. Para guru melihat siswanya sebagai individu dengan kebutuhan yang berbeda: fokus pada masing-masing anak dan kekuatan serta problem tiap anak.

Tidak Ada Kompetisi

Tidak ada sistem peringkat atau ranking kelas. Tidak ada daftar sekolah terbaik atau guru terbaik. Pendorong utama dari kebijakan pendidikan bukanlah persaingan antar guru dan antar sekolah, tapi KERJA SAMA. Tidak adanya persaingan menyebabkan guru yang terbaik tidak dapat ‘di turnover’ untuk bekerja bagi sektor swasta. Finlandia memandang kompetisi dalam dunia pendidikan merupakan konsep yang destruktif. Mental anak-anak dapat dihancurkan oleh evaluasi terus-menerus dan membuat anak-anak ini sendiri percaya bahwa mereka tidak cukup baik. Ketika anak-anak dapat unggul pada apa yang mereka dapat lakukan dengan baik, bukan diukur untuk memenuhi standar, mereka dapat menghasilkan performa yang terbaik. Anak-anak harus diberikan pendidikan sehingga mereka dapat berkembang terlepas dari bakat mereka.

PR yang Sedikit

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu.

Ayo Indonesiaku Bangkit… Mudah-mudahan pada tahun-tahun mendatang, sistem pendidikan kita berada di level atas dunia… Selamat Hari Pendidikan Nasional.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | 9 jam lalu

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 11 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 11 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 12 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: