Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Famajiid

INSYA ALLAH MENULISKAN YANG MENCERAHKAN, MENGINSPIRASI DAN MENGILHAMI BANYAK ORANG

Hardiknas 2013, Refleksi Pendidikan Indonesia Kini

OPINI | 03 May 2013 | 17:39 Dibaca: 232   Komentar: 0   0

Hari pendidikan nasional rutin diperingati setiap tahunnya di Indonesia. Hari yang diambil dari hari lahir tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara ini memiliki arti penting. Tidak hanya sebagai seremonia belaka, namun kita melihat pula penerapannya.

Pendidikan adalah kebutuhan dasar manusia. Pendidikan adalah jembatan untuk melihat cakrawala dunia. Dengan pendidikan, maka hidup seseorang akan selamat. Meski demikian, pendidikan di Indonesia masih banyak dirundung masalah. Karut marut UN yang baru terjadi, kurangnya guru, maraknya indispliner siswa, dan lain-lain. Masalah itu harus segera dituntaskan agar Indonesia bisa selamat di masa depan.

Anak-anak Indonesia harus merasakan pendidikan. Mulai dari yang tinggal di kota-kota besar hingga mereka yang tinggal di pedalaman. Mereka harus mendapatkan pendidikan serta mengembangkan bakat dan minatnya. Sejak dahulu, pemerintah Indonesia sudah mengusahakan suatu sistem pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun tak dapat dipungkiri, banyaknya anak Indonesia dan luasnya wilayah Indonesia menghambat ini. Tapi, ini bukanlah alasan untuk tidak mengakses mereka dengan pendidikan.

Kita bisa melihat kondisi kini. Ujian Nasional (UN) masih menimbulkan pro-kontra. Persebaran guru belum merata. Begitu mahalnya biaya untuk sekolah. Ini menjadikan Indonesia harus terus berbenah.

UN sebenarnya merupakan konsep baik mengenai syarat lulus seorang murid. Jangan kita berpikir “ Untuk apa UN? Kan tak semua siswa berkemampuan sama?”. Paradigma ini harus diubah. Mengapa? Belajar adalah suatu proses, dan UN adalah pembuktian hasil belajar itu. Bagaimanapun, seluruh hasil dari belajar harus diujikan. Karena hanya orang yang berkemampuan baiklah yang bisa lolos ke babak pendidikan selanjutnya. Di berbagai belahan dunia pun ditemukan sebuah ujian menyeluruh yang menentukan kelulusan siswa. Memang, harus ada pembenahan dimana-mana. Tapi, itu bukanlah alasan untuk menghapus UN sama sekali. Kita harus sadar bahwa UN dapat menentukan keseriusan belajar seorang siswa. Seserius apakah ia belajar? Jika serius maka lulus dan jika malas maka tak lulus.

Mungkin masih ada beberapa pelajar yang mengharapkan UN menghilang dari sistem pendidikan kita. Tapi untuk apa? Dengan UN, ada siswa yang dahulu sering berkelahi, perhatiannya teralihkan menuju belajar. Dengan UN, para siswa pun lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Dengan UN pula, kelulusan pun lebih berkualitas. Memang benar jika kasus menyontek masih saja terjadi, tapi itu bukan berarti UN dihilangkan, justru mental penyontek yang wajib dihilangkan.

Melalui tulisan ini pun, penulis mengimbau kepada seluruh pelajar di seluruh Indonesia agar menghapuskan kata “sontek” dan diganti dengan “jujur”. Karena terbukti, dengan menyontek ilmu yang selama ini dicari, tak berguna karena ketika ujian serta merta mendapat nilai bagus dari jawaban orang lain.

Dalam kurikulum 2013, kemendikbud berupaya untuk menambah jam belajar agama. Penulis sangat setuju dengan upaya ini. Mengapa? Agama harus dijadikan landasan setiap tindak tanduk manusia. Dengan agama, hidup manusia akan selamat dunia akhirat. Dengan agama pula, ilmu yang didapat akan menjadi lebih berguna.

Selain pendidikan agama, ada pula pendidikan yang berbudaya. Seperti apa? Yakni pendidikan yang mendidik didikan agar tetap rendah hati meskipun berilmu banyak. Siswa harus diajarkan ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Semakin cerdas, semakin rendah hati. Semakin pintar, semakin berbudi. Inilah yang diharapkan setelah melalui proses belajar yang panjang. Berguna bagi bangsa, negara, agama, dan membanggakan orang tua.

Kini, pendidikan di Indonesia terus membaik. Kita dukung program pemerintah dalam pendidikan. Wajib belajar 9 tahun harus tercapai, kalau bisa ditingkatkan menjadi 12 tahun. Beasiswa bagi siswa berprestasi harus semakin diperbanyak. Pendirian lembaga riset bagi siswa harus terus dilanjutkan. Siswa pun harus semakin terpacu untuk menjadi orang yang cerdas, berakhlak, dan berguna. Melalui Hardiknas 2013 ini, semoga kualitas pendidikan Indonesia semakin membaik. Moral pelajar semakin membaik pula. Selamat Hardiknas!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 4 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 5 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 6 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 11 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Halal atau Haramkah Obatku?? …

Nurul Amalia | 7 jam lalu

Sepakbola Indonesia Refleksi Sebagian Orang …

Razak Alafghany | 8 jam lalu

Bipolar Itu ‘Istimewa’ …

Nur Rahmah Masda | 8 jam lalu

Ketika Cacat Kusta Turun ke Jalan …

Dyah Indira | 9 jam lalu

Sayin’ “I Love to Die” …

Rahmi Selviani | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: