Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Teori Stimulus-Respons

REP | 03 May 2013 | 16:50 Dibaca: 233   Komentar: 0   0

TEORI-TEORI STIMULUS-RESPON

Ada beberapa teori stimulus-respons,dan disini saya akan menjelaskan salah satu dari teori-teori tersebut yaitu teori dari Ivan Petrovich Pavlov.

Teori Ivan Petrovich Pavlov, Stimulus Respons

Di sebut teori stimulus- respons karena teori ini memiliki dasar pandangan bahwa perilaku itu,termasuk perilaku berbahasa,bermula dengan adanya stimulus (rangsangan,aksi)yang segera menimbulkan respons ,(reaksi,gerak balas).teori ini berasal dari hasil eksperimen Ivan Paplov,seorang ahli fisiologi rusia,terhadap seekor anjing percobaannya.

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) adalah seorang behavioristik terkenal dengan teori pengkondisian asosiatif stimulus-respons dan hal ini yang dikenang darinya hingga kini. Ia tidak pernah memiliki hambatan serius dalam sepanjang kariernya meskipun terjadi kekacauan dalam revolusi rusia.

Pavlov lahir di kota kecil di Rusia tengah, anak seorang pendeta ortodoks pedesaan. Pada awalnya ia berniat mengikuti jejak ayahnya, namun mengurungkan dan pergi ke universitas di St. Petersburg untuk mengajar pada tahun 1870. Dari sinilah karir seorang pavlov mulai berjalan hingga ia memimpin institut Fisiologi Pavlovian di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.

Ia menemukan bahwa ia dapat menggunakan stimulus netral, seperti sebuah nada atau sinar untuk membentuk perilaku (respons). Dalam hal ini, eksperimen yang dilakukan oleh pavlov menggunakan anjing sebagai subyek penelitian.

Berikut adalah tahap-tahap eksperimen:

pertama. Dimana anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom anjing akan mengeluarkan air liur (UCR).

kedua. Jika anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau mengeluarkan air liur.

ketiga. Sehingga dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan.

keempat. Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).

Dalam ekperimen ini bagaimana cara untuk membentuk perilaku anjing agar ketika bunyi bel di berikan ia akan merespon dengan mengeluarkan air liur walapun tanpa diberikan makanan. Karena pada awalnya (gambar 2) anjing tidak merespon apapun ketika mendengar bunyi bel.

Jika anjing secara terus menerus diberikan stimulus berupa bunyi bel dan kemudian mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa makanan. Maka kemampuan stimulus terkondisi (bunyi bel) untuk menimbulkan respons (air liur) akan hilang. Hal ini disebut dengan extinction atau penghapusan.

Pavlov mengemukakan empat peristiwa eksperimental dalam proses akuisisi dan penghapusan sebagai berikut:

1. Stimulus tidak terkondisi (UCS), suatu peristiwa lingkungan yang melalui kemampuan bawaan dapat menimbulkan refleks organismik. Contoh: makanan

2. Stimulus terkondisi (CS), Suatu peristiwa lingkungan yang bersifat netral dipasangkan dengan stimulus tak terkondisi (UCS). Contoh: Bunyi bel adalah stimulus netral yang di pasangkan dengan stimulus tidak terkondisi berupa makanan.

3. Respons tidak terkondisi (UCR), refleks alami yang ditimbulkan secara otonom atau dengan sendirinya. Contoh: mengeluarkan air liur

4. Respos terkondisi (CR), refleks yang dipelajari dan muncul akibat dari penggabungan CS dan US. Contoh: keluarnya air liur akibat penggabungan bunyi bel dengan makanan.

Dari Teori Ivan Petrovich Pavlov,tentang Stimulus Respons,saya mengambil kesimpulan bahwa teori stimulus-respons adalah suatu teori dimana apabila terdapat suatu rangsangan atau tindakan maka akan mendapatkan suatu respons,dimana respons tersebut berupa reaksi serta suatu gerakan untuk membalasnya,jika hasil eksperimen Ivan Paplov,seorang ahli fisiologi rusia,terhadap seekor anjing percobaannya.maka sya akan mengambil contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya:awalnya saya tidak bisa atau tidak terbiasa untuk bangun di pagi hari atau pada saat adzan shubuh, ‘dan saya mencoba untuk merubahnya dengan membuat alarm agar saya dapat bangun tepat pada waktu shubuh,karena secara terus-menerus hal itu saya lakukan, maka sekarang tanpa alarmpun saya dapat bangun subuh dengan terbiasa.

Sumber:http://indonesiaindonesia.com/f/68893-teori-ivan-petrovich-pavlov-stimulus-respons/

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Akun Dinda Tidak Takut Komen Pedasnya Pada …

Febrialdi | 8 jam lalu

Prabowo Terancam Tidak Bisa Bertarung di …

Rullysyah | 8 jam lalu

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 17 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 18 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: