Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mochamad Syafei

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pernah juga mengajar di SMP N 228 Jakarta. Suka Menu selengkapnya

Ubah Guru, Maka Keberhasilan Pendidikan akan Tercapai

OPINI | 03 May 2013 | 10:52 Dibaca: 322   Komentar: 2   4

Kurikulum baru pasti akan hadir di tengah-tengah kita.  Kurikulum baru memang diperlukan karena perubahan konteks pendidikan.  Sehingga, perubahan kurikulum memang sebuah keniscayaan yang tak mungkin dihindarkan.  Terlepas dari persoalan, bagus atau tidaknya kurikulum baru juga penerimaan dan penolakan terhadap kehadiran kurikulum baru.

Kurikulum penting.  Kurikulum akan menjadi penunjuk arah ke mana pendidikan nasional akan diarahkan.  Tanpa kurikulum maka pendidikan akan terjebak pada kebuntuan atau ketakjelasan arah tujuan.  Pentingnya sebuah kurikulum berdampak pada pentingnya perubahan kurikulum sebagai penerjemah akan penajaman arah tujuan pendidikan nasional di saat terjadi perubahan.  Bagaimana pun juga, tak ada yang tak berubah di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri.

Hanya saja, kurikulum hanyalah sebuah dokumen.  Sebuah benda mati.  Padahal pendidikan nasional jelas sebuah praktik.  Praktik yang dimaksud dalam tulisan ini juga bukan praktik di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.  Praktik pendidikan nasional yang dimaksud adalah kegiatan belajar mengajar (KBM) di ruang-ruang kelas.

Mengukur sebuah kurikulum, jangan memeloti Kementerian yang saat ini sedang didera berbagai kesemrawutan itu.  Karena, di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan lebih terlihat aspek-aspek politis pendidikan nasional.  Lihatlah, ukurlah kurikulum dengan melihat ruang-ruang kelas.  Sehingga, dengan demikian, guru akan menjadi makhluk penentu sebuah kurikulum.

Bagaiamana kondisi guru-guru di negeri ini?  Dilihat dari aspek mana pun dan oleh siapa pun, kondisi guru-guru masih memprihatinkan.  Walau mereka sudah memiliki sertifikasi guru dan sudah mendapatkan uang tunjangan profesi.

Kesalahan pemerintah selama ini, jelas pada kurangnya pengembangan kompetensi guru.  Guru sudah cukup lama dibiarkan dan sering dianggap sebagai penghuni kasta kedua.  Peminat untuk menjadi guru pun adalah mereka yang sudah mentok di mana-mana.

Momentum kurikulum baru seharusnya menjadi momentum untuk melakukan pengembangan kompetensi guru. Kompetensi apa yang perlu dikembangkan?  Pertama, kompetensi profesional.  Guru seharusnya tahu betul isi dan arah, bahkan dasar-dasar filosofis sebuah kurikulum.  Selama ini, banyak guru yang tak peduli terhadap kurikulum.  Guru lebih memilih membaca buku pelajaran daripada memahami kurikulumnya.  Sehingga, sering terjadi pengajaran yang dilakukan menjadi kering karena terfokus pada buku pegangan.

Kreativitas seorang guru akan terpicu dan terpacu jika guru memahami dasar filosofi dan arah tujuan pengjaran sebuah materi.  Guru akan menggunakan banyak cara dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut.  Bhkan dengan jalan yang di luar kebiasaan.  Bahkan, guru-guru “mbeling”lah yang menjadi pemicu kemajuan pembelajaran sebagaimana telah dilakuakn oleh Romo Mangun melalui SD Mangunan (maaf, lupa nama jelasnya).  Juga oleh Sabarudin (maaf juga kalau kurang tepat), yang telah mendirikan SMP Qoryah Toyibah.  Mereka adalah pemaham filosofi dan arah dasar kurikulum tanpa terjebak pada buku-buku pegangan.

Ajak guru untuk selalu membuka dan mengkritisi setiap kalimat, bahkan setiap kata yang ada dalam kurikulum.  Bukan malah membuatkan buku pegangan yang akan memperkosanya dan mengkerdilkannya.  Pelatihan yang selama ini dilakukan lebih sering terjebak pada pembuatan RPP.  Padahal, taka akan ada artinya RPP jika dibuat dalam ketidaktahuan dasar dan tujuan sebuah kurikulum.

Kupas tuntas kurikulum.  Itulah yang seharusnya dilakukan guru.  Biasakan guru untuk berpikir mendalam.  Mereka bisa kok jika diberi kesempatan dan diajak untuk itu semua.

Kedua, kompetansi pedagogik.  Kompetensi ini juga sangat terlihat jelas kurang dipahami guru.  Kalau diperhatikan di ruang-ruang kelas, guru ceramah seakan menjadi fenomena yang tak lekang oleh waktu.  Pengembangan kompetensi ini harus dilakukan.  Kurikulum akan berhasil jika guru mampu menjabarkannya dalam metode dan pendekatan yang pas.  Oleh karena itu, pelatihan guru harusnya fokus pada pengembangan metode pembelajaran di kelas.  Jangan selalu dan selalu diceramahi.  Jangan ambil alih hak siswa untuk belajar sesuai dengan kemampuannya dan keunikannya dengan ceramah-ceramah membosankan.

Tampak klise.  Akan tetapi, dua hal inilah yang terlihat jelas akan mempengaruhi keberhasilan atau ketidakberhasilan sebuah kurikulum.  Sudah berapa kurikulum dipakai di neegri ini.  Tapi selalu tak berhasil.  Pergantian atau perubahan kurikulum selama ini lebih sering dilakukan karena alasan-alasan politis.  Bukan alasan rasional kependidikan.

Padahal, ketidakberhasilan kurikulum lebih pada fenomena guru yang tidak memahami secara baik jiwa sebuah kurikulum.  PBM di kelas tak pernah mencerminkan kurikulum.  Kurikulum berganti pun, pembelajaran tetap sama hingga muncul penyataan tanpa landasan penelitian bahwa kurikulum telah gagal dan akan diganti kurikulum baru.

Ubah guru, maka keberhasilan pendidikan akan tercapai.  Bukan hanya itu, jika guru sudah profesional, perubahan kurikulum tak akan menjadi heboh seperti kali ini.  Pergantian kurikulum sudah menjadi kebutuhan bersama.  Dengan alasan yang betul-betul mendasar.

Selamat hari pendidikan nasional!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Ga Pengen Gundul? Rawat Rambutmu??? …

Kang Isrodin | | 29 November 2014 | 12:00

Sentilan-sentilun SBY dan Jokowi …

Gunawan | | 29 November 2014 | 09:00

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Festival Payung Indonesia Pertama, …

Indria Salim | | 29 November 2014 | 13:31

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 11 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Maaf, Tak Ada “Revolusi dari …

Felix | 8 jam lalu

Black Friday, Cyber Monday, dan GDP US …

Dyah | 8 jam lalu

Kekhawatiran Masyarakat Terhadap Bahaya Susu …

Hikmawati . | 8 jam lalu

Seperti Apa Mas Kawin di Zaman Rasulullah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kontraversi Aborsi …

Jahrianti Nur Tahir | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: