Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Poernamasyae

dibilang panasbung sama pasukan nasi bungkus (beneran) yang tak terverifikasi di kompasiana hahahahaha

Apa Sajakah Organisasi Profesi Guru di Indonesia?

REP | 04 May 2013 | 12:52 Dibaca: 1957   Komentar: 0   0

Sekilas tentang organisasi profesi guru, jika jaman dahulu, cuma ada Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang menjadi alat kekuasaan Orde Baru. Saat ini PGRI dipimpin oleh Dr. Sulistiyo, M.Pd. mantan Rektor IKIP PGRI Semarang, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Swasta seluruh Indonesia (ALPTKSI), dan juga menjabat di Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia utusan dari Jawa Tengah periode sekarang. Situs PGRI cukup ramai dengan sponsor dari berbagai lembaga pemerintah maupun swasta. Sekilas terlihat hubungan kesejarahan antara PGRI sebagai organisasi dengan berbagai Perguruan Tinggi Swasta berlabel PGRI yang tersebar di berbagai daerah. Situsnya bisa dilihat di www.pgri.or.id. Soal rangkap jabatan Ketua Umum PGRI plus Senator DPD plus Ketua Umum Asosiasi LPTK Swasta saya ‘no comment’ deeh !!

1367646594767580797

gambar halaman depan http://www.asosiasiguruekonomi.org/

Alternatif lainnya bagi organisasi profesi guru adalah IGI dengan salahsatu pengurusnya adalah Kompasianer “Om Jay” Wijaya Kusumah, Organisasi ini bisa diikuti sepak terjangnya di www.igi.or.id. Tujuan Ikatan Guru Indonesia adalah Ketua Umum IGI adalah Satria Dharma dengan Sekretaris Mohammad Ikhsan. Kongres IGI yang pertama dilaksanakan di Gedung A Kemendiknas Jakarta 21 – 23 Juni 2011.

Federasi Guru Independen Indonesia (FGII). Menurut penelisikan dunia maya, FGII ini memiliki komunitas yang intens dalam milis. Dalam perkenalannya menyatakan “FGII adalah Federasi Guru Independen Indonesia, yang di deklarasikan oleh berbagai guru dan juga organisasi-organisasi guru yang berasal dari seluruh Indonesia pada tanggal 17 Januari 2002. Organisasi ini diharapkan menjadi sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membebaskan guru serta anak didik dari pembodohan secara struktural, keterkungkungan bagi profesinya, maka sudah saatnyalah di era reformasi sekarang guru harus bangkit untuk menjadi “Sang Pembebas” dan menjadikan pendidikan sebagai wahana pencerahan dan pembebasan, sehingga pendidikan tidak lagi menjadi tempat pembodohan dan pengkerdilan ilmu pengetahuan, melainkan sebagai wahana pengembangan diri siswa dan guru secara profesional, mandiri, kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab. Untuk itu adalah penting kehadiran Organisasi Guru yang Independen dan bebas dari campur tangan negara/pemerintah.” FGII sering disuarakan oleh Gino Vanolie selaku Ketua Umum dan Iwan Hermawan sebagai Sekjen.

Forum Komunikasi Guru Honorer (FKGH) dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga eksis, terutama dalam pemberitaan menyikapi isu-isu pendidikan. Forum Komunikasi Guru Honorer. FSGI dalam pernyataannya sering diserukan oleh Retno Listyarti seorang guru di SMAN 13 Jakarta. Mungkin ada lebih banyak lagi organisasi profesi guru lainnya yang tidak sempat saya pantau saat ini.

Organisasi-organisasi tersebut sepertinya jarang berkumpul bersama bersinergi untuk membahas isu-isu pendidikan nasional secara bersama yaa? Terlihat pada berita-berita di media massa, mereka menyikapi isu pendidikan nasional secara sporadis dan sudut pandang yang berbeda (asumsi pribadi).

Selain itu, untuk kredibilitas organisasi guru yang mencetak generasi masa depan. Keberadaan situs organisasi merupakan hal yang wajib karena mempermudah akses dan sangat membantu dalam koordinasi dan berbagi informasi serta berkomunikasi.

Asosiasi guru juga memungkinkan untuk dibentuk sesuai dengan bidang studinya. Misalnya asosiasi guru matematika, asosiasi guru bahasa Indonesia, asosiasi guru IPA, dan sebagainya. Organisasi akan terasa manfaatnya jika mampu mengakomodasi kebutuhan para anggotanya. Salahsatunya yang saya sempat intip adalah Asosiasi Guru Pendidikan Ekonomi dengan situsnya di www.asosiasiguruekonomi.corg.

Ayo guru berorganisasi dan bersinergi untuk kemajuan pendidikan. Bersatu kita teguh!

Wuhan, 2013-05-04

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Malaikat Tuhan Pembawa Warta …

Blasius Mengkaka | | 30 August 2014 | 09:27

Jadi Donor Darah di Amerika …

Bonekpalsu | | 30 August 2014 | 06:25

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 6 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 7 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 12 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 17 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Pendidikan Masa Kini …

Dhita Putri Arining... | 8 jam lalu

Pendidikan Masa Kini …

Muhammad Fikri Insa... | 8 jam lalu

Basah di Mata (Puisi) …

Eko Zetialism | 8 jam lalu

Pasang Surut Seni Jarang Kepang Di Ponorogo …

Nanang Diyanto | 8 jam lalu

Jokowi Butuh Rp 265 Triliun (7) …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: