Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hiburan Untuk Orang yang Sedang Berputus Asa

OPINI | 03 May 2013 | 21:01 Dibaca: 453   Komentar: 4   0

Bismillah..

Manusia hidup penuh dengan masalah. Sedikit-sedikit ada masalah dan selalu seperti itu. kalo kata guru SMA-ku dulu, ”Manusia hidup itu buat nyelesain masalah. Kalo hidup kita nggak ada masalah lalu buat apa manusia hidup? Hidup bakal monoton dan itu membosankan!”. kata-kata bijak yang keluar dari mulut beliau saat aku dan teman-teman berkeluh-kesah tentang UAN yang hanya tinggal menghitung hari kala itu.

Teman, sering kita mengeluh dengan masalah-masalah yang mendatangi kita, entah secara sadar atau tidak, kata-kata yang penuh emosi terkadang terdengar dari mulut kita, helaan nafas kekesalan sering kita lakukan, bahkan tanpa sadar.

Lalu apakah sebenarnya lumrah kita mengeluhkan hidup yang kita jalani?

Sebagian besar manusia hidup dengan gaya hidup hedon yang cenderung sekuler. Tuhan seolah tidak memiliki tempat dalam tiap jengkal ruang dalam hidup mereka. Mereka merancau tidak jelas, punya ambisi tidak terarah, mencaci kenyataan karena tak sesuai rencana.. ini adalah alur kebanyakan manusia, sepanjang bumi ini dihuni oleh manusia. Ketika kita kembali kepada hal yang dianut banyak orang kalo mengeluhkan hidup adalah hal lumrah, maka ini akan jadi sebuah kebenaran. Tapi tidakkah kita ingat dan sadar, ketika kita mengeluhkan hidup lalu mencacinya, sesungguhnya kita juga sedang mengeluhkan dan mencaci Tuhan?

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat dalam sebuah dialog ”ringan” dengan seseorang. Dalam dialog itu, saya mengeluhkan rasa ketidakpercaya-dirian saya terhadap diri saya sendiri. Intinya, saya merasa diri saya ini penuh dengan kekurangan (bahkan disaat orang lain memuji saya karena kemampuan saya).

Dalam dialog tersebut, dia mengatakan pada saya sebuah kalimat yang sampai saat ini masih sulit untuk saya ”cerna dan resapi”. Dia mengatakan, ”Dian, sebenarnya Allah itu heran dengan Dian. Kenapa? Allah dah kasih banyak hal buat Dian tapi Dian masih mengeluhkan pemberian Allah dan menganggapnya selalu kurang. Tidakkah Dian sadari, kalo ketika Dian mengeluhkan diri Dian sendiri, sebenarnya Dian sedang mengeluhkan Allah. Ketika Dian merasa tidak percaya pada diri Dian sendiri, sebenarnya Dian sedang tidak percaya pada Allah. Kenapa? Karena Allah-lah yang menciptakan Dian. Allah-lah yang memberikan kemampuan-kemampuan yang Dian miliki sekarang.”

Terdiam lama saya mencerna nasihat itu sampai akhirnya dia menyambung kembali nasihatnya, ”Ketika manusia selalu berusaha membandingkan dirinya dengan orang lain… membandingkan kemampuan-kemampuan hebat mereka yang tidak kita miliki, hal tersebut sama saja dengan mengurung diri sendiri dalam ketidakberdayaan. Yang perlu Dian lakukan adalah fokus pada apa yang Dian bisa dan bukan pada apa yang Dian tidak bisa. Kalo kita hanya melihat hal-hal yang kita tidak bisa dan hanya fokus dengan tidak-bisaan tersebut, kita tidak akan pernah puas dengan diri kita sendiri.”

Kata-kata dari beliau untuk beberapa hari masih membekas dalam benak saya. Seolah dia menjadi pelecut bagi diri saya sendiri untuk tidak berkecil hati dan berusaha untuk ”menerima” diri saya apa adanya. Tapi memang kekuatan kata-kata yang kita simak tidak akan bertahan lama jika bukan diri kita sendiri yang mengusahakan diri untuk bangkit dan mulai melangkah kembali. Mendengar kata-kata motivasi dari orang lain ketika kita jatuh tersungkur adalah suatu aktivitas positif yang perlu kita lakukan setiap waktu. Tapi kata-kata motivasi tersebut tidak akan pernah mampu merubah diri kita kalo kita tidak pernah berusaha meyakinkan diri kita sendiri untuk segera bangkit dari kejauhan dan kembali melangkahkan kaki yang sempat tertahan.

Saya jadi teringat dengan filosofi pedang. Pedang yang tajam dan sanggup mengoyak tubuh lawan sampai bisa memburaikan organ dalam perut manusia, dulunya hanyalah sebongkah besi tanpa bentuk, buruk warna dan bentuknya. Dilirik pun jarang dan sering diacuhkan oleh kebanyakan orang. Tapi ketika besi itu berada di tangan yang tepat… besi tersebut dia ”olah” menjadi suatu barang yang nantinya bisa berguna bagi orang lain, memiliki bentuk yang bagus, tajam, dan sanggup menarik minat banyak orang untuk melihatnya.

Namun sebelum menjadi sesuatu hal yang berguna, besi tadi perlu dipukuli berkali, lalu dibakar di dalam api yang panas membara, lalu dicelupkan ke dalam air yang dingin. Lalu dipukul lagi, dibakar, lalu dimasukkan dalam air dingin. Dan hal ini dilakukan tidak hanya sekali dua kali tapi berkali-kali, sampai besi tersebut memiliki sisi-sisi yang tajam yang sanggup memisahkan bahu dengan lengan dalam sekali tebas.

Merenungi hal di atas, sedikit banyak membuat saya terdiam. Berusaha meresapi perumpamaan yang sebenarnya begitu sederhana namun mengandung suatu nilai yang besar. Hal inilah yang sering dilupakan manusia kebanyakan: memahami arti masalah.

Hidup kita yang penuh dengan ujian, sebenarnya adalah cara Tuhan untuk mengajari dan membentuk kita menjadi seseorang yang berguna. Tempaan dari-Nya yang berkali-kali menimpa kita, bahkan tak jarang membuat kita merasa kepayahan, kesakitan, banjir airmata.. sebenarnya adalah untuk membuat kita lebih ”indah dan berwarna”.

Sebuah masalah yang seharusnya dihadapi dengan kepala dingin, suasana hati yang tenang, pikiran yang jernih dan tertata.. malah tidak disikapi secara seharusnya. Tak jarang banyak orang yang memilih untuk lari dari masalah dengan harapan masalah itu akan berlalu dalam hidupnya. Tak jarang banyak orang malah memilih untuk mengutuki takdir dengan mengatakan bahwa hidupnya tidak berguna dan Tuhan tidak adil! Dia melupakan filisofi pedang dan keramik. Hatinya hanya dipenuhi dengan kemarahan, emosi yang labil, kekecewaan, dan hal-hal lain yang hanya semakin membuat dadanya sesak menghimpit, kepalanya pusing, pandangan matanya tak fokus, dan pikirannya yang menerawang entah ke mana…

Ketidakpercayaan terhadap keadilan Tuhan, sering disalah artikan oleh banyak orang. Kasih sayang Tuhan sering mereka tafsirkan dengan definisi yang keliru.

Banyak yang berpikir, kalo Tuhan sayang padanya maka Dia akan berikan apa yang kita maui. Jika Tuhan itu adil maka Dia akan memberikan kebahagian kita selalu dan tidak pernah mengurangi hal itu. Inilah bentuk kasih sayang dan keadilan Tuhan dalam pandangan orang-orang tua yang bermental ABG alay!

Hidup mereka penuh dengan tuntutan. Hati senantiasa dibaluti dengan ambisi yang berselimut nafsu. Dalam benak mereka, yang ada hanya: kekayaan, jabatan, wanita, dan kesenangan-kesenangan lain yang penuh nafsu. Dan ketika mereka tidak mendapatkan hal tersebut, mereka dengan lantangnya mencaci Tuhan!

Kembali kepada maksud awal saya menulis tulisan ini –karena sepertinya sudah melebar ke mana-mana. ^^. Saya pernah membaca sebuah kalimat yang entah saya temukan di mana, ”Suatu masalah tidak akan memiliki arti apa pun bagi kita, jika kita tidak mengeluhkannya. Keluhan itulah yang membuat kita merasa sulit dan kepayahan”.

Jadi yang perlu kita lakukan ketika kita sedang berhadapan dengan ujian adalah berbaik sangka pada-Nya, bahwa dengan ujian inilah kita akan ”naik tingkat” dan menjadi seseorang yang lebih ”indah”, kuat, tegar, sabar… pokoknya menjadi seseorang yang lebih baik daripada sebelumnya.

Ingatlah, bahwa Allah lebih mengetahui apa yang kita butuhkan terlepas dari kita menginginkannya atau tidak. Karena Allah-lah yang menciptakan dan mengatur kehidupan kita, lebih mengenal kita daripada kita sendiri… maka biarkanlah Dia membuat kita menjadi sesosok makhluk yang lebih, lebih, dan lebih baik lagi. Karena Dia selalu berikan yang TERBAIK untuk kita, jika kita yakin dengan itu.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagimu dan bagi diri saya sendiri. Ambillah yang baik-baik saja dan buang jauh-jauh hal yang membuatmu tidak berkenan.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dan menjadikan kita hamba-Nya senantiasa mensyukuri segala nikmat-Nya (dalam pelbagai bentuk: kesenangan, kesusahan, kekayaan, kemiskinan, kepandaian, kebodohan, dll). Ingatlah bahwa cukup hanya Allah motivator terbaik kita, pelecut semangat kita untuk senantiasa berbenah jadi seseorang yang lebih baik.

Alhamdulillah…

Wallahu a’lam..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung Perjanjian Linggarjati: Saksi …

Topik Irawan | | 26 July 2014 | 16:11

Kompasianer Dalam Kunjungan Khusus ke Light …

Tjiptadinata Effend... | | 26 July 2014 | 18:13

Susah Move On dari Liburan? Ini Tipsnya..! …

Sahroha Lumbanraja | | 26 July 2014 | 18:08

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Saya Juga Ingin Menggugat Kecurangan Bahasa …

Gustaaf Kusno | | 26 July 2014 | 17:05


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 2 jam lalu

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 5 jam lalu

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 5 jam lalu

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 10 jam lalu

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: