Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ayati Fa

Muslimah yang sedang belajar menulis di blog http://ayatifadhilah.wordpress.com/

Mengais Hikmah dari Untaian kata Uje Huruf Kecil saja

OPINI | 07 May 2013 | 20:46 Dibaca: 2280   Komentar: 0   0

13679341311079471717

“Nothing is our’s, but Allah” sebuah ungkapan yang telah menemaniku sejak aku tinggal di Kota Hujan beberapa tahun lalu. Iya, apa yang kita punya pada hakikatnya hanyalah titipan dan kelak pasti akan diambil oleh pemiliknya, yaitu Rabb pemilik alam semesta. Sungguh, sejatinya hanya Allah sajalah kepunyaan kita. Namun, apakah kita telah sebenar memilikiNya?

Pagi tadi Tol Jagorawi ramai lancar. Setelah semalam sempat melihat tahlilan tujuh hari kepulangan uje, aku bersama beberapa ibu takziah ke sana. Biasa, memasuki ruas Tol Simatupang Si Hitam seperti merayap. Iya, itulah Jakarta, yang membutuhkan hari libur untuk mengatasi kemacetannya. Justru tidak macet di hari kerja adalah sebuah keanehan. Dan aku masih saja mencintai kemacetan dengan segala candanya.

Mencari alamat rumah almarhum uje tidak sulit. Setelah memasuki komplek perumahannya, karangan bunga begitu meruah. Tidak saja di depan rumah almarhum, tapi juga di depan rumah para tetangga. Banyak yang sudah kering memang, mengingat telah lewat tujuh hari beliau berpulang.

Memasuki pekarangannya, sebuah mushala kecil dengan kolam ikan di bawahnya langsung terlihat. Bertumpuk-tumpuk al-Quran berada pada sebuah sisi dindingnya. Di ruang tamu, sebuah pigura membiangkai foto almarhum uje dengan istrinya yang tersenyum manis. Iya benar ini rumah uje. Aneh memang, meski media memberitakan dengan tiada henti, rangkaian bunga begitu banyak, juga tanda-tanda yang lainnya, terkadang aku berpikir, uje hanya pergi ke suatu tempat, sebentar dan akan kembali lagi. Terkadang, kepergian yang begitu ujug-ujug itu memang membuat kita, yang belum mendapat giliran terkaget-kaget.

Tiba-tiba aku pun teringat hal serupa. Peristiwa lebih dari sepuluh tahun lalu, saat abang berpulang. Bahkan, meski aku telah mengunjungi makamnya, aku masih mengira bahwa abang pergi ke suatu tempat. Sementara saja, benar-benar hanya sementara. Tapi, bukankah setiap yang bernyawa memang akan mengalami mati? “Pergi” sementara dan akan dibangkitkan kembali?

Tamu-tamu masih berdatangan. Kami tidak banyak berbincang dengan Mbak Pipik (istri almarhum). Bahkan seorang wartawati dari tabloid nasional yang berniat mewawancarai Mbak Pipik secara eksklusif pun belum memperoleh jadwal meski telah menantinya berhari-hari. Untung saja, Bu Is, beberapa hari sebelumnya telah takziah lebih dulu dan berbincang banyak hal.

Satu jam-an kami di rumah almarhum. Karena ada agenda selanjutnya kami pun segera pamit. Ahai, ketika hampir masuk ke dalam mobil, seorang ibu, yaitu kakak Mbak Pipik yang kami tadi lebih banyak berbincang mengejar kami. Sebuah buku; Untaian Hikmah Untukku, uje, huruf kecil saja dibagikan kepada kami.

Segera, sesampainya di rumah aku langsung menikmatinya. Agak keanehan memang, beberapa buku, majalah, tabloid dan sejenisnya kecuali yang harus urut. Aku lebih suka menikmatinya dari halaman belakang. Begitu pun saat menikmati “SKETSA” buah karya Dimas Arika Mihardja, antologi “Sepasang Angsa” buah karya Muhammad Rois Rinaldi dan Luluk Andrayani, juga “Peniti” buah karya Windu Mandela dan buku-buku yang lainnya. Hingga saat aku menemukan puisi yang menarik (menurutku) akan kuulang-ulang beberapa kali. Dan akhirnya aku pun membacanya kembali dari halaman depan.

Pipik Dian Irawati (istri alm uje) dalam Seuntai Kata menuliskan bahwa buku “Untaian Hikmah Untukkku uje huruf kecil saja” ini adalah sebuah kumpulan tulisan, puisi dan catatan uje semasa hidupnya yang dikumpulkan Pipik dan hendak dibukukan sebagai kado ulang tahun uje yang ke-40.

Bersyukur, sebelum menghembuskan nafas yang terakhir, uje sempat membaca kumpulan tulisan, puisi dan catatan yang dikumpulkan Pipik ini. Hingga ingin mencetaknya agar bisa dibaca oleh siapapun yang mencintainya. Dan rupanya buku ini adalah kado terakhir untuk uje.

Buku kado terakhir untuk uje ini tidak memiliki daftar isi, namun dikelompokkan dalam beberapa tema, seperti; Ya Robb; Wanita, Cinta & Keluarga; Wahai Diriku; Manusia; Introspeksi Diri dan Nikmatnya Sabar.

Setelah Untaian Kata dari Pipik, dua bait pembuka catatan uje menghentak hatiku;

Selalu saja ada rasa kehilangan dalam diri manusia..

Selalu saja ada rasa kesepian dalam diri manusia..

Ketika hilang dan sepi menyatu..

Yang dibutuhkan hanya satu

ROBB..ku

-uje-

Kita manusia pasti pernah merasakan kehilangan. Baik kehilangan benda-benda yang kita anggap “biasa saja”, kecopetan, terjatuh atau terselip karena lupa. Atau bahkan kehilangan sesuatu yang kita anggap berharga dan istimewa. Dan untuk sesuatu yang berharga dan istimewa ini biasanya kita akan merasa kehilangan yang amat mendalam, berhari-hari bahkan bisa jadi ada yang bertahun-tahun belum sembuh juga.

Pun kesepian, terkadang bukan karena kita berada di tempat yang sunyi dan sepi lalu kita merasa sendiri dan kesepian. Namun bisa jadi kita berada di sebuah keramaian, seperti pasar, mall, atau acara pesta, namun bisa jadi diri kita merasa sepi, sendiri ditengah keramaian itu.

Dan sungguh, sebagaimana yang diungkapkan uje, bahwa ketika hilang dan sepi menyatu, maka yang kita butuhkan hanyalah satu. Yaitu ROBB kita yang senantiasa membolak-balik kalbu. Iya, bukankah kita adalah milik Allah dan hanya Allah jualah milik kita? Lalu, bilakah itu tidak?

Berlembar-lembar, dari halaman belakang ke depan lalu ke belakang lagi. Meskipun ada beberapa kesalahan cara penulisan, juga tidak “serumit” dan “semendayu” sajak-sajak yang beberapa bulan terakhir ini kucintai, aku menikmatinya.

Lukis saja “AKU” dalam hatimu

Maka akan “AKU” lukis keindahan

dalam pandanganmu

Sebut saja “AKU” dalam gerak lisanmu

Maka akan “AKU” perintahkan

para malaikat memujimu

Peluk saja “AKU”

dalam perilaku kasih dan sayangmu

Maka akan “AKU” tundukkan

seluruh isi bumi dan langit bagimu

Itu pun jika engkau mengakui “AKU”

Itu pun jika engkau tempatkan “AKU” dalam hatimu

Meski tidak berjudul, untaian indah bertopik “AKU” ini tiada lain adalah membincangkan Allah, Tuhan Pencipta alam semesta. Tidak saja dalam hati dan lisan kita. namun “AKU” harus senantiasa berada dalam pelukan kita juga tingkah laku kita.

Iya, seorang hamba yang sadar akan hubungannya dengan Allah, maka tidak saja mencukupkan diri meyakini keberadaan Allah dalam hatinya. Namun juga harus dilafadzkan dalam lisannya. Sungguh dalam segala aktivitas kita, kita harus menghadirkan IA. Sehingga kita selalu merasa diawasi dan dikontrol. Juga selalu merasa terikat dan berhubungan denganNya di mana pun kapan pun dalam segala aktivitas kita.

Meletakkan cinta kepada Allah

pada nomor urut satu

bisa mengurangi rasa sakit

Bahkan menyembuhkan luka pada hati

Cinta adalah fitrah, setiap manusia memiliki rasa cinta juga kasih karena ia adalah manivestasi dari gharizah (naluri) yang ada dalam tubuh manusia. Dan cinta tertinggi seorang manusia adalah cinta kepada Tuhannya, yaitu Allah, lalu RasulNya. Sedang cinta terhadap sesamanya haruslah lahir dari kecintaanya kepada Rabbnya. Yaitu, karena kecintaan ia terhadap Tuhannya juga RasulNya.

WAHAI DIRIKU…

Perhatikan baik-baik dirimu..

Ternyata sampai detik ini engkau masih saja tersesat

dalam hutan belantara hatimu…

Sudah berapa lamakah engkau tersesat dan tidak

menemukan jalan keluar?

Padahal…

Saat engkau berada di alam ruh

Sedikit pun engkau tidak memiliki keinginan

Saat engkau berada di alam rahim

Mulai muncul keinginan dalam dirimu

Saat engkau berada di alam dunia

Engkau mengejar segala apa yang menjadi keinginanmu

Saat engkau berada di alam barzah…

Muncul penyesalan atas segala keinginanmu

Saat engkau berada di alam akhirat…

Di sinilah engkau harus mempertanggungjawabkan

segala apa yang telah engkau dapatkan

dari keinginanmu…

Hati –qalbu yang bukan berarti fisik hati– dapat dirasakan keberadaanya namun tak dapat dilihat. Dalam bahasa Arab, qalbu merupakan lafadh musytarak, yaitu bermakna banyak. Secara bahasa, qalbu (qalb) bermakna hati, isi, lubuk hati, jantung, inti (lubb), akal (‘aql), kekuatan, semangat, keberanian, bagian dalam (bathin), pusat, tengah, bagian tengah (wasath), dan yang murni (khalish, mahdh).

Al-Quran sendiri menggunakan kata qalb dalam makna yang beraneka ragam dan tidak keluar dari cakupan makna bahasa tersebut. Makna qalbu berdasarkan AL-Quran antara lain:

Pertama, makna qalbu berkaitan dengan upaya memahami, mengerti, tadabbur, dan berakal. Dengan kata lain, qalbu di sini berkaitan dengan proses berpikir (al-fikr/al-idrak/al-‘aql), yakni proses pemindahan fakta melalui panca indera yang ditransfer ke otak yang dikaitkan dengan adanya informasi yang dimiliki sebelumnya yang ada di otak tadi untuk menilai (menghukumi) fakta tersebut.

Qalbu berarti ‘aqlu, yaitu pemahaman dan pemikiran. Allah Swt berfirman:

“Mereka mempunyai qalbu (qulub) tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (yafqahuna) ayat-ayat Allah.” (QS al-A’raf [7]: 179).

Qalbu juga dimaknai sebagai ilmu, sebagaimana firman Allah Swt:

“Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, sementara qalbu-qalbu mereka telah dikunci mati, sehingga mereka tidak mengetahui (ya’lamun) (kebahagiaan beriman dan berjihad).” (QS at-Taubah [9]: 87).

Al-Quran juga memaknai qalbu dengan berpikir secara mendalam (tadabbur). Tegas sekali Allah Swt. berfirman:

“Mengapa mereka tidak mentadabburi al-Quran ataukah di dalam qalbu-qalbu mereka ada penutupnya?” (QS Muhammad [47]: 24).

Bahkan, secara nyata Allah Swt. memberi makna qalbu dengan akal-pikiran:

“Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati (qulub) yang dengan itu mereka dapat berpikir (memahami)”. (QS al-Hajj [22]: 47).

Kedua, qalbu bermakna tempat perasaan (wijdan/fu’ad), baik yang benar maupun yang salah. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menegaskan hal ini. Misalnya: tempat kekhusyukan (QS al-Hadid [57]: 16), kelembutan dan kasih sayang (QS al-Hadid [57]: 27), perasaan terguncang (QS al-Anfal [8]: 3), takut dan kecut (QS Ali Imran [3]: 151), sombong (QS al-Mukmin [40]: 35), marah (QS at-Taubah [9]: 15), ketenangan dan ketentraman (QS ar-Ra’du [13]: 28), keraguan dan syak (QS at-Taubah [9]: 110), keras dan bandel (QS al-Baqarah [2]: 74).

Qalbu dengan makna ini lebih merupakan ihsas gharizi (perasaan instingtif), yaitu sikap yang muncul dari perasaan yang ada sebagai bentuk penampakan naluri. Qalbu dalam makna ini tidak dapat menetapkan mana yang harus ada dan mana yang tidak. Malahan qalbu menjadi tempat berbaurnya berbagai perasaan baik dan buruk. Masalahnya, bagaimana supaya perasaan yang dominan di dalam qalbu hanyalah yang baik-baik saja dengan hukum syariat sebagai tolok-ukurnya? Sehingga tidak menimbulkan kecemasan apalagi serupa tersesat?

Sungguh, si antara arti penting qalbu sebagai tempat perasaan adalah qalbu sebagai tempat iman dan takwa. Di mana, iman yaitu pembenaran yang tegas tanpa sedikit pun keraguan yang didapatkan melalui qalbu (dalam arti perasaan) yang mengendapkan dan menempelkan pemikiran (fikrah) ke dalamnya, lalu menyatukannya dengan sempurna, sungguh-sungguh penuh keyakinan dan ketenangan disertai kesesuaiannya dengan akal. Syarat dari keyakinan yang tegas tanpa keraguan (tashdiq jazim) adalah kesesuaiannya dengan akal. Sehingga tiada iman apabila dalam qalbu seseorang itu tiada keyakinan yang pasti dan tidak berkesesuaian dengan akal. Sebagaimana Allah Swt berfirman:

“…kecuali orang yang dipaksa, sementara qalbunya tenang dalam keimanan.” (QS an-Nahl [16]: 106).

“Mereka itulah yang dituliskan di dalam qalbu mereka iman.” (QS al-Mujadalah [58]: 22).

“Akan tetapi, katakanlah, “Kami telah tunduk,” karena iman itu belum masuk ke dalam qalbu kalian.” (QS al-Hujurat [49]: 14).

Selanjutnya, selain sebagai tempat iman, qalbu juga merupakan tempat keraguan, syak, bahkan penolakan terhadap kebenaran. Sebagaimana firman Allah Swt:

“Wahai Tuhan kami, janganlah engkau memalingkan qalbu-qalbu kami setelah Engkau menunjuki kami.” (QS Ali Imran [3]: 8).

Sehingga amatlah penting memberikan pemahaman tentang apa-apa perkara yang wajib diimani sebagai sesuatu yang wajib diimani. Agar qalbu tidak keliru mengimani sesuatu yang sebenarnya tidak boleh diimani, atau malah terbalik justru mengingkari sesuatu yang mestinya diimani. Sehingganya penting memberikan pemikiran dan pemahaman Islam sehingga qalbu kita merasa tenang dalam perkara yang benar dan gelisah dalam perkara dosa; bukan sebaliknya.

Bahkan dalam merasai ketenangan dalam perkara kebenaran dan gelisah dalam perkara dosa ini bukan saja memakai standar individu. Karena bila demikian pastilah akan terjadi kesemrawutan karena setiap manusia memiliki standar yang berbeda-beda dalam hal apa-apa yang menyebabkan ketenangan dan apa-apa yang bisa menyebabkan kegelisahan ini. Sungguh untuk itulah kita harus mengembalikan standarnya hanya pada yang SATU yaitu berasal dari Rabb Tuhan Yang Maha Adil.

Selain iman dan syak/keraguan, takwa juga terdapat di dalam qalbu. Sebagaimana dipahami, takwa merupakan sikap takut kepada Allah Swt seraya menjalankan syariatNya. Hal ini dijelaskan dalam al-Quran:

“Demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah (ibadah), sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu.” (QS al-Hajj [22]: 32).

Malam semakin larut, lembar demi lembar masih begitu memikat, kuulang-ulang dan kuulang lagi. Hingga mataku mencengkramai kembali sebuah untaian indah pada halaman 96;

Not just OPEN HOUSE,

but must OPEN HEART too.

OPEN HOUSE bagus

OPEN HEART jauh labih bagus lagi

OPEN HOUSE tanpa OPEN HEART

Apalah artinya

Membaca OPEN HOUSE saya langsung teringat pejabat yang sering mengadakan OPEN HOUSE saat lebaran. “Bu, bila Presiden berpulang apakah akan sebanyak uje yang mengantar kepulangannya?” tanyaku pada Ibu yang duduk di sampingku. “Mungkin banyak juga, tapi berbeda orang-orangnya,” ungkapnya.

Duh, tiba-tiba aku teringat abang. Entah, sudah yang keberapa kalinya ia mengungkapkan sebuah kalimat kepadaku; “Aku lagi pusing, dan aku tak ingin membaginya denganmu.”

Memang tidak semua apa yang kita alami harus kita buka, kita bagi-bagikan. Namun, bukankah dulu abang pernah bilang bahwa pendapat dua orang bisa jadi lebih baik dari pendapat seorang dan pendapat tiga orang bisa jadi lebih baik dari dua orang? Untuk itulah maka kita diperkenankan untuk melakukan musyawarah dalam hal-hal yang mubah.

Tentu bukan rumah kita saja yang menerima begitu banyak tamu. Tapi kita juga bisa menerima orang-orang tertentu untuk memasuki rumah hati kita. Sungguh, bukankah hati tidak saja bermakna pikiran tapi juga berarti perasaan?

Pada akhirnya

Semua akan menemukan yang namanya titik jenuh

Dan pada saat itu

Kembali adalah yang terbaik

Kembali pada siapa?

Kepada “Dia” pastinya

-uje-

Sungguh kehidupan di dunia ini hanyalah fana. Kebahagiaan, kesenangan adalah anugrah yang patut kita syukuri. Sedang kesedihan, kemalangan adalah cobaan yang kita harus bersabar terhadapnya. Hingga berharap saat kita berjalan di muka bumi ini tidak memiliki kesalahan sedikitpun, yaitu bagaikan pohon yang telah menggugurkan daun-daunnya.

“Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan hingga duri yang menusuknya, maka pasti musibah itu akan menjadi penghapus bagi kesalahan-kesalahannya.” (Mutafaq’alaih).

Sungguh kepada Allah lah sebaik-baik tempat kembali.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS ali-Imran [3]: 133)

Sejatinya, Untaian Hikmah Untukku uje huruf kecil saja adalah sebuah untaian yang bisa kita jadikan renungan, muhasabah diri dengan apa yang telah kita lalui selama ini. uje huruf kecil saja (meskipun dalam tatacara penulisan pastilah menyalahi kaidah karena Nama orang harus ditulis dengan awalan huruf besar) adalah tulisan yang sengaja dipilih oleh almarhum sebagai muhasabah diri bahwa seseungguhnya kita adalah mahluk kecil lagi lemah dan mudah berkeluh kesah.

Saat kita menuliskan ALLAH, RABB kita dengan memakai huruf besar yaitu huruf kapital karena memang begitu Maha Besarnya ALLAH. Tiada satu pun yang mampu menandingiNYA, maka kita sebagai mahluknya cukuplah ditulis dengan huruf kecil saja.

Selamat jalan uje semoga Allah melimpahkan RahmatNya kepada kita semua.. aamiin..

kota hujan begitu hareudang, 03 Mei 2013

-fa-

*foto dokumen pribadi..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 9 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 10 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 16 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 12 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 12 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 12 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 12 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: