Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Tri Budhi Sastrio

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Bahasa Melayu itu Bahasa Daerah

REP | 08 May 2013 | 20:21 Dibaca: 279   Komentar: 0   0

Bahasa Melayu itu Bahasa Daerah

Ada tiga kelompok bahasa yang menurut undang-undang diwajibkan untuk dibina dan dikembangkan oleh negara bersama-sama dengan instansi terkait, pemerintah daerah dan masyarakat. Kelompok yang pertama anggotanya cuma satu. Bahasa Nasional, bahasa Indonesia. Kelompok kedua jumlahnya ratusan, bahkan dulu jumlahnya pernah mencapai ribuan. Bahasa daerah namanya. Kelompok ketiga jumlahnya juga sangat banyak. Ratusan. Bahasa asing namanya.

UU no. 24/2009 yang ditandatangani presiden pada 9 Juli 2009 dan diundangkan pada hari yang sama setelah dimasukkan ke dalam lembaran negara no. 109/2009 oleh menteri sekretaris negara, mengamanatkan banyak hal kepada pemerintah dalam kaitannya dengan pengembangan dan pembinaan bahasa. Di antara banyak hal yang dalam undang-undang ini berupa ketentuan, kewajiban, pelarangan, dan amanat, ada beberapa yang menarik.

Pemerintah diminta meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan yang akan dikoordinasikan oleh lembaga kebahasaan. Pemerintah akan memayungi gerakan ini dengan peraturan pemerintah. Sampai di mana perkembangan usaha ini? Tampaknya masih berjalan di tempat jika pernyataan justru sedang mundur ke belakang dirasakan terlalu keras. Dengan banyaknya pelanggaran terang-terangan, bahkan yang dilakukan oleh kepala negara sendiri berkaitan dengan amanat dan larangan dalam undang-undang ini, tampaknya harapan agar bahasa Indonesia segera mendekati arena bahasa Internasional masih jauh. Kepala negara masih senang sekali menggunakan bahasa asing dalam banyak kesempatan. Tampaknya beliau sama sekali tidak yakin bahwa saat ini bahasa Indonesia mampu mewadahi ungkapan komunikasi yang mana saja. Jadi sebenarnya sama sekali tidak ada kepala negara tidak berani menggunakan bahasa Indonesia secara penuh bahkan dalam pergaulan internasional. Kalau lawan bicara tidak paham, biarkan penerjemahnya yang membantu, atau biarkan lawan bicara memunculkan inisiatif untuk belajar berbicara bahasa nasional ini.

Tentang bahasa daerah yang didefinisikan sebagai bahasa yang digunakan secara
turun-temurun oleh warga negara Indonesia di daerah-daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, kondisinya malah lebih memprihatinkan. Semakin banyak bahasa daerah yang sedang antri untuk bergabung dengan rekannya yang telah lebih dahulu punah karena tidak ada lagi penuturnya. Tidak banyak usaha yang dapat dilakukan kecuali bergegas ‘mengabadikan’ bahasa yang sedang menuju ke liang kuburnya ini. Dengan teknologi digital seperti sekarang, walau tetap tidak mudah, tetapi dapat dilakukan.

Ini untuk bahasa daerah yang kecil dan minor. Untuk bahasa daerah yang yang besar dan mayor masalahnya walau berbeda tetapi bahayanya tidak kalah besarnya. Minat generasi muda untuk belajar bahasa daerah di tingkat perguruan tinggi sudah sejak lama ‘padam’ dan sampai sekarang sama sekali tidak ada tanda-tanda menyala dan ‘berkobar-kobar’. Nyala dan kobaran terang justru datang dari negara lain, dari bangsa lain. Mungkin berlebihan ketika ada yang mengatakan suatu ketika nanti jika seseorang ingin belajar bahasa daerah di Indonesia harus mengundang pakar asing, tetapi sinyalemen bernada khawatir ini tentu saja ada benarnya.

Dulu pernah seorang teman dari prodi Sastra Bali di Universitas Udayana menyampaikan – saat itu saya memberi kuliah di prodi Sastra Inggris – betapa nasib prodinya sangat mengenaskan. Jumlah mahasiswa tidak pernah melebihi jari tangan kanannya. Padahal beasiswa penuh sudah ditawarkan. Tetap saja anak muda Bali ogah belajar sastra dan bahasa Bali. Untuk apa kata mereka. Itu dulu. Bagaimana sekarang? Tentu saja sudah berubah tetapi memang tidak akan pernah sampai pada tataran anak muda Bali berlomba-lomba mendaftar untuk memperdalam kekayaan bahasa dan sastra daerahnya sendiri. Orang asing malah banyak mendaftar. Sebuah ironi. Ironi sejenis mungkin terjadi pada bahasa daerah yang lain.

Kabar terbaru menunjukkan bahwa di Bali sedang terjadi unjuk rasa karena pos anggaran untuk bahasa Bali dihilangkan dari APBD. Yah …

Bagaimana dengan Bahasa Melayu?

Dari sudut pandang undang-undang no. 24/2009, bahasa Melayu menduduki dua posisi berbeda. Pertama sebagai bahasa daerah dan kedua sebagai bahasa asing. Bahasa daerah karena bahasa Melayu digunakan di banyak kawasan di Sumatera dan Kalimantan, dan menjadi bahasa asing karena bahasa ini menjadi bahasa resmi negara tetangga, Malaysia. Bahasa resmi Malaysia bukan bahasa Indonesia melainkan bahasa Melayu.

Pernah ada usulan agar Malaysia berani mengatakan bahwa bahasa resmi mereka adalan bahasa Malaysia. Bukan bahasa Melayu. Tetapi tampaknya usulan ini tidak ditanggapi sebagai buktinya pemerintah secara resmi masih menggunakan istilah bahasa Melayu dalam penerbitan resmi mereka. Buku Tatabahasa Dewan (2010) sebagai buku pegangan resmi bagi pelajaran tatabahasa di seluruh tatatan pendidikan di Malaysia menggunakan istilah bahasa Melayu. Memang sudah ada tanda-tanda bahwa istilah bahasa Malaysia telah digunakan. Sebagai contohnya Kamus Fajar KBSR (2007) telah menggunakan istilah bahasa Malaysia untuk menyebut bahasa resmi Malaysia. Tetapi karena kamus ini bukan terbitan resmi pemerintah, sementara Tatabahasa Dewan adalah terbitan resmi pemerintah Malaysia, maka secara resmi pemerintah Malaysia tetap menggunakan istilah bahasa Melayu sebagai nama bahasa nasional.

Apakah bahasa Melayu berbeda jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia? Seberapa besar perbedaannya jika memang berbeda? Dan apakah perbedaan itu menyangkut hal yang sangat krusial dan esensial sehingga tidak mungkin disatukan karena memang berbeda? Ataukah perbedaan yang ada sengaja dikembangkan karena alasan kebanggaan dan harga diri negara dan bangsa?

Secara resmi para ilmuwan bahasa di Malaysia membagi bahasa mereka ke dalam empat ragam bahasa yaitu (1) ragam bahasa Melayu lisan; (2) ragam bahasa Melayu tulisan; (3) bahasa-bahasa daerah; dan (4) laras-laras bahasa Melayu moden.

Ragam bahasa Melayu lisan dikelompokkan menjadi dua yaitu (a) ragam ‘cakap mulut’; dan (b) ragam ‘bahasa pasar’. Ragam cakap mulut digunakan antara bangsa Melayu, dan ragam bahasa pasar digunakan antara bangsa Melayu dengan bangsa lain.

Ragam bahasa Melayu tulisan atau disebut ragam bahasa surat hanya digunakan dalam tulisan, tidak dalam lisan. Jika nekad digunakan maka ‘jika ia orang Melayu dihitungkan dia mengada-ada dan jika ia bukan orang Melayu maka dihitungkan dia orang yang tidak biasa bercampur dengan orang-orang Melayu’. Sebuah penjelasan khas bahasa Melayu.

Ragam bahasa daerah atau ‘loghat’ atau dialek ialah ‘jenis bahasa yang digunakan dalam percakapan di sesuatu daerah atau bahagian negeri yang mempunyai pelat sebutan yang khas bagi daerah itu, yang berbeza pula daripada sebutan-sebutan umum yang digunakan di negara ini.’ Kembali penjelasan khas bahasa Melayu. Kurang ajarnya, dalam penjelasan lanjutan dikatakan bahwa bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa daerah yang setara denga ‘loghat-loghat’ di Pulau Pinang, Kedah, Perlis, Perak, Selangor, Negeri Sembilan, Melaka, Johor, Parang, Terengganu, Kelantan, Serawak, Sabah, dan bahasa Melayu Brunei.

Bahasa Melayu moden digunakan bukan semata-mata untuk bersajak atau berpidato politik sahaja, tetapi juga untuk memperkatakan proses pembedahan jantung, pembinaan jambatan, perlawanan badminton, penghijauan bumi, penjualan saham, dan ribuan perkara lain yang berlaku di dunia. Tugas dan fungsi bahasa Melayu telah berkembang dan melas. Ringkasnya, bahasa Melayu sudah menjadi satu bahasa moden yang mempunyai berbagai-bagai laras. Penjelasan khas Malaysia dan nuansa politiknya kental sekali.

Dari sudut pandang Indonesia penjelasan yang diberikan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur tentu saja ada benarnya walau banyak juga yang ngawur dan asbun. Bahasa Indonesia jelas bukan ragam bahasa daerah. Bahasa Melayu-lah yang jelas-jelas bahasa daerah yang kemudian diadaptasi menjadi bahasa nasional dan dikembangan menjadi bahasa – yang katanya – bahasa ‘moden’ tetapi sebenarnya hanyalah merupakan versi ‘terjelek dan terburuk’ dari bahasa Indonesia.

Ambit saja contoh kata ‘modern’ dalam bahasa Inggris. Kata ini fonemik transkripsinya adalah adalah /mo-dən/ dengan bunyi ‘ə’ dibaca seperti ‘e’ dalam ‘beras’ dan bukan ‘e’ dalam ‘kusen’. Bahasa Indonesia untuk menghormati kata ini ketika diserap dalam bahasa Indonesia tetap ditulis ‘modern’ dan dilafalkan seperti (mo-de-ren) dengan ‘e’ pada ‘de’ seperti ‘e’ pada ‘kusen’ dan ‘e’ pada ‘ren’ seperti ‘e’ pada ‘beras’.

Malaysia menyerapnya menjadi ‘moden’ dengan pelafalan (moden) dan dibaca /moden/. Transkripsi grafik bahasa asli diubah seenaknya, sementara transkripsi fonemik dari bahasa asli juga tidak diikuti dengan konsisten. Lalu bagaimana bisa bahasa yang seperti ini berani mengatakan bahwa bahasa Indonesia adalah salah satu ragam bahasa daerah mereka?

Memang hak masing-masing negara berdaulat untuk mengembangkan bahasa nasionalnya. Untuk ini harus dihormati. Tetapi jika gaya pengembangannya tampak ‘seenaknya’, apakah ini tidak menggambarkan kualitas ‘rasa bahasa mereka’ yang memang sejak lama termasuk golongan kelas bahasa pasaran dari sudut pandang para kaum terdidik dan cerdik pandai di Indonesia? Apalagi jika demi harga diri bangsa maka pengembangan yang dilakukan pokoknya berbeda dan tidak sama dengan bahasa pesaing?

Dr. Tri Budhi Sastrio – tribudhis@yahoo.com – Poznan, Poland

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haru Jokowi-JK di Kapal Phinisi …

Yusran Darmawan | | 25 July 2014 | 10:00

Terimakasih BPJS …

Guntur Cahyono | | 25 July 2014 | 06:54

Anonim atau Pseudonim? …

Nararya | | 25 July 2014 | 01:41

9 Tips Meninggalkan Rumah Saat Mudik …

Dzulfikar | | 24 July 2014 | 22:48

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: