Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sohudi Syaputra

tak banyak yang aku tau, tapi belajar adalah mutlak mengetahui sesuatu. belajar adalah proses memahami selengkapnya

Guru Kurikulum dan Guru Inspiratif

OPINI | 08 May 2013 | 09:17 Dibaca: 184   Komentar: 2   0

Aan Bradley dalam Hardly working (1995), memaparkan hasil penelitan terhadap 1.000 siswa di New York City. Sekitar 60% siswa menyatakan malas belajar karena guru yang tidak menarik dan tidak antusias dalam mengajar, serta tidak menguasai materi. Sebagian besar responden menyatakan, sekolah tidak disiplin melaksanakan PBM, sekitar 80% mau belajar keras kalau semua proses belajar berjalan secara tepat, sesuai dengan jadwal. Sebagian siswa mengeluh karena sering melecehkan dan tidak memperlakuannya sebagai anak dewasa (Elin Rosalin, 2008).

Rhenal Kasali (2007) menyebutkan bahwa kita mengenal dua Jenis Guru, yaitu :

a. Guru Kurikulum, mereka mengajar sesuai dengan apa yang diacu atau sesuai dengan standarnya, guru tersebut amat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa apabila tidak dapat mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Ia hanya mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking).

b. Guru Inspiratif, mereka mengajar siswanya dengan sesuatu yang membuat siswanya kreatif dan termotivasi. Tipe ini bukanlah guru yang mengajarkan kurikulum, akan tetapi mengajak murid-muridnya berfikir kreatif (maximum thinking).ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thingking out of the box), mengelola dan meramunya di dalam, lalu membawa kembali keluar ke masyarakat luas.

Kita jarang menemukan guru yang inspiratif ini, kebanyakan guru menjadi guru yang habitual (kebiasaan-tradisi) saja. Untuk menjadi guru yang inspiratif ini memang tidak mudah, karena dirinya harus membawa sesuatu yang biasa menjadi luar biasa dan tidak biasanya, mampu menembus batas-batas tradisi, dan menjadi kreatif. Guru yang inspiratif memang berbeda dengan guru kurikulum, ia selalu ingin perubahan, peka terhadap perubahan, peka terhadap situasi dan konteks hidup siswanya. Menjadi guru inspiratif tentu saja tidak dapat diraih dengan hanya sekadar “berbeda” ia butuh komitmen tinggi terhadap perubahan, memahami, serta mampu membawa siswanya memahami dunia melalui dirinya sendiri.

“Dunia memerlukan keduanya (guru kurikulum dan guru inspiratif), seperti memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif ) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan.

Sayang sistem sekolah kita hanya memberikan tempat bagi guru kurikulum. Keberadaan guru inspiratif akan menentukan berpa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari kegelapan” (Rhenald Kasali, 2007).

Tips Sukses Menjadi Guru Keduanya

Guru memang bukan satu-satunya elemen penentu keberhasilan pendidikan, akan tetapi tidak berlebih apabila dikatakan guru adalah kunci utama pendidikan. Perubahan kurikulum yang setiap saat dengan beragam julukannya “CBSA, KBK, KTSP, Kurikulum 2013 yang hingga saat ini tahap sosialisasi untuk di realisasikan pada tahun ajaran baru 2013/2014, atau apapun sebutannya. Tidak akan membawa perbaikan yang signifikan manakala manusia dewasa yang bernama guru itu tidak memahami dan menjalankan profesinya secara kreatif dan bertanggung jawab.

Pada dasarnya kurikulum ini menuntut guru bertindak aktif-kreatif, bukan sekedar menjadi robot birokrasi. Guru dituntut dapat mendorong peserta didik untuk sadar akan potensi yang dibawanya, kemudian menemukan pengetahuan dan menguasai kompetensi-kompetensi tertentu sesuai potensi-potensi tersebut baik diranah kognitif, afektif maupun psikomotor.

Guru adalah ujung tombak pendidikan, sementara birokrasi pendidikan hanyalah motivator untuk melejitkan kecerdasan dan kreativitas mereka. Guru yang cerdas dan kreatif tentu paham tentang hak kebebasannya berekspresi, sehingga tidak selalu dalam bayang-bayang kekhwatiran persoalan prosedur atau menyalahi standar birokrasi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Ga Pengen Gundul? Rawat Rambutmu??? …

Kang Isrodin | | 29 November 2014 | 12:00

Sentilan-sentilun SBY dan Jokowi …

Gunawan | | 29 November 2014 | 09:00

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Festival Payung Indonesia Pertama, …

Indria Salim | | 29 November 2014 | 13:31

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 11 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Seperti Apa Mas Kawin di Zaman Rasulullah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kontraversi Aborsi …

Jahrianti Nur Tahir | 8 jam lalu

Remang-remang Kunang-kunang …

Harry Ramdhani | 8 jam lalu

Panggung Rising Star Indonesia Gagal …

Sakinah Fitri | 9 jam lalu

Terpidana Pembunuh Munir Itu Telah Bebas …

Agusman | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: