Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Syaiful W. Harahap

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

60 Suami di Sulawesi Utara Tularkan HIV/AIDS ke Istri

OPINI | 09 May 2013 | 19:19 Dibaca: 217   Komentar: 0   0

Tanggapan Berita (8/5-2013) – “Terus meningkatnya jumlah bayi dan balita yang mengidap penyakit HIV dan AIDS, ada korelasi dengan terus meningkatnya jumlah ibu rumah tangga yang mengidap penyakit ini.” Ini pernyataan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Tangel-Kairupan, dalam berita “60 Balita di Sulawesi Utara Idap HIV/AIDS” di republika.co.id (6/5-2013).

Pertanyaannya adalah: Mengapa jumlah ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS di Sulut meningkat

Sayang, dalam berita tidak ada penjelasan tentang penyebab jumlah ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS meningkat.

Berita ini menunjukkan penggelapan fakta yaitu tentang orang yang menularkan HIV kepada ibu-ibu rumah tangga. Karena dalam berita disebut ibu rumah tangga tentulah mereka mempunyai suami. Itu artinya mereka tertular HIV dari suami.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Mengapa suami mereka tertular HIV?

Dalam berita juga tidak ada penjelasan tentang penyebab suami-suami itu tertular HIV.

Lagi-lagi berita ini mengabaikan fakta yaitu terkait dengan penyebab suami-suami tsb. tertular HIV.

Jika dirunut ke belakang, maka faktor yang memungkinkan suami-suami itu tertular HIV, al. adalah melalui hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan yaitu pekerja seks komersial (PSK).

Persoalannya adalah Pemprov Sulut akan menampik kalau dikatakan di daerah itu ada pelacuran.

Pemprov Sulut benar, tapi tunggu dulu. Soalnya, yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran yang ditangani oleh instansi terkait di pemerintah provinsi, seperti dinas sosial.

Sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Celakanya, laki-laki, dalam hal ini suami-suami yang menularkan HIV kepada istrinya, yang melakukan hubungan seksual dengan PSK tidak memakai kondom sehingga mereka berisiko tertular HIV.

Kondisinya kian runyam karena Pemprov Sulut, melalui Dinkes Sulut dan KPA Sulut, tidak mempunyai program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan PSK.

Pertanyaannya adalah: Apakah 60 suami itu sudah dijangkau untuk menjalani tes HIV?

Kalau jawabannya tidak dijangkau dan tidak menjalani tes HIV, maka 60 suami itu akan menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Disebutkan bahwa KPA Sulut terus melakukan pendekatan dengan populasi kunci agar melakukan langkah pencegahan melalui program Prevention Mother to Child Transmission (PMTCT) atau program pencegahan penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya.

Pertanyannya adalah: Apakah ibu-ibu rumah tangga termasuk dalam populasi kunci?

Tentu saja tidak karena ibu-ibu rumah tangga tidak melakukan perilaku yang berisiko tertular HIV.

Yang masuk populasi kunci adalah laki-laki, dalam hal ini suami, yang perilakunya sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK.

Persoalannya adalah tidak ada program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK. Bahkan, dalam Perda AIDS Prov Sulut pun sama sekali tidak ada langkah atau program yang konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV dan menurunkan insiden infeksi HIV baru melalui pelacuran (Lihat: Menguji Peran Perda HIV/AIDS Prov Sulawesi Utara* - http://www.aidsindonesia.com/2012/10/menguji-peran-perda-hivaids-prov.html).

Tangel-Kairupan menyarankan agar “Ketika seorang ibu sudah dideteksi tertular HIV maka dia harus mengikuti program ini. Ibu minum obat khusus agar tidak menularkannya kepada bayi.”

Persoalan yang sangat mendasar adalah: Pemprov Sulut tidak mempunyai program yang konkret dan sistematis untuk mendeteksi HIV/AIDS pada perempuan hamil. Akibatnya, penemuan HIV/AIDS ada perempuan hamil hanya insidentil dan sporadis.

Untuk itulah Pemprov Sulut, dalam hal ini Dinkes Sulut dan KPA Sulut, membuat program yang konkret dan sistematis untuk:

(1) Menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK, dan

(2) Mendeteksi HIV/ADIS pada perempuan hamil.

Jika tidak ada program yang konkret untuk (1) dan (2), maka penyebaran HIV/AIDS di Sulut akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ’ledakan AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

[Sumber: http://www.aidsindonesia.com/2013/05/60-suami-di-sulawesi-utara-tularkan.html]


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 9 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 11 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 12 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 13 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: