Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ikhsan Bawa

Seorang karyawan Toko Buku Follow Twitt: @Ikhsan_Bawa

Ketika Seks Bebas Semakin Bebas

REP | 09 May 2013 | 16:12 Dibaca: 1278   Komentar: 7   1

Oleh: Ikhsan Bawa

Penting dan tidak pentingnya pendidikan seks di Indonesia masih menjadi perdebatan, ada yang mengatakan pendidikan seks itu tidak penting, ada juga yang mengatakan penting. Memang, selama ini pendidikan seks masih dianggap tabu (khsususnya Indonesia menganut paham Timur). Sehingga banyak mengira ketika seseorang memberikan pengertian pendidikan seks, maka terbesit dalam benak mereka adalah hubungan seks. Padahal secara bahasa seks (sex) sendiri berarti jenis kelamin.

Saat ini, kebebasan seks—suatu gejala yang merata sedunia, meskipun terutama menonjol di Eropa. Amerika dan Jepang—menyebar dengan kecepatan dan kekuatan sedemikian rupa sehingga dikuatirkan menggoyahkan dasar asasi masyarakat modern. Apa yang dulu dianggap memalukan sekarang menjadi biasa saja.

Seks bebas di Indonesia sendiri sudah sangat mengkhawatirkan, budaya barat telah banyak meracuni anak muda Indonesia saat ini. Menurut data yang ada, hampir sebagian remaja Indonesia pernah melakukan hubungan seks, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sebanyak 32% remaja usia 14 – 18 tahun di kota-kota besar pernah melakukan hubungan seks. Kota-kota besar yang dimaksud tersebut antara lain; Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Parahnya lagi, sekitar 21,2% remaja putri di Indonesia pernah melakukan aborsi. Selebihnya, separuh remaja wanita mengaku pernah bercumbu ataupun melakukan oral seks. Survei yang dilakukan KPAI tersebut juga menyebutkan, 97 % perilaku seks remaja diilhami pornografi di internet.

Berangkat dari itu, tentu saja seks harus dipahami secara wajar oleh semua kalangan. Sebagai pendidik dan orang tua, pengertian tentang pendidikan seks harus dilakukan sejak dini. Agar ketika mereka tumbuh menjadi remaja, mereka sudah paham mengenai bahaya seks bebas. Pendidikan seks bukan berarti memperkenalkan secara luas dan vulgar, melainkan mengarahkan remaja untuk memahami bagaimana hubungan seks yang sehat, dan kapan waktu baik untuk seks itu dilakukan.

Seks Bebas, Tantangan Zaman

Zaman serba bebas membuat banyak peluang para remaja untuk terjerumus dalam kubangan seks bebas. Akses internet menyumbang peran terbesar terjadinya seks bebas. Buktinya, ada sekitar empat juta (4.000.000) situs porno yang bebas di akses di Indonesia. Masalah itu membuat kita susah membendung arus globalisasi negatif masuk ke kalangan remaja. Sehingga, pendidikan seks pun seakan-akan menjadi sia-sia. Seharusnya ada control dari orang tua dan para pendidik untuk lebih terbuka lagi mengenai bahasan seks bebas, bukan menggurui—tetapi mengarahkan kepada hal baik.

Tantangan zaman ini, seharusnya dibarengi dengan giatnya pendidikan seks yang dilakukan oleh pemerintah, bahkan semua kalangan, semua lapisan masyarakat luas. Karena ini tanggung jawab kita bersama. Dan seharusnya para remaja pun lebih paham akan bahaya seks bebas dan tidak terburu-buru dalam mengambil sikap tidak baik. Memang, ini bagian dari kecendurungan nurani terdalam manusia, yang punya hasrat tinggi dalam melakukan hubungan seks. Namun, tidak semerta-merta dilakukan secara arogan. Apalgi sekarang ini, bukan hanya seks bebas yang menjadi kendala terdalam, melainkan kasus pemerkosaan semakin marak dilakukan banyak orang, parahnya dari berbagai kalangan—bukan hanya remaja, atau preman. Melainkan orang tua memporkasa anaknya pun menjadi tren baru. Fenomena seperti ini sangat memalukan dan susah untuk dihentikan. Baru-baru ini, kasus seorang ibu-ibu menggauli banyak remaja. Semakin jelas, seks bebas benar-benar semakin bebas, bahkan bisa dilakukan semua kalangan, orang, dan usia.

Sisi Kesadaran Manusia

Titik lemah manusia adalah bahwa kita belum menemukan jalan lebih baik untuk menjaga martabat kita kecuali secara semu menutupi alat dan fungsi hewani kita. (Toynbee: 1987). Kita belum bisa mengontrol secara baik aktifitas pikiran dan hati kita. Sedangkan untuk menanggulangi seks bebas, nilai-nilai kebaikakan adalah jaminan mutu bagi penjagaan diri.

Namun, penulis curiga—hilangnya moralitas seksual dan tidak adanya kasih sayang dalam seks adalah bagian dari kecenderungan untuk menafsirkan hidup dengan tolok ukur nilai kebendaan saja; seks diubah menjadi bukan apa-apa kecuali sekedar alat memperoleh kenikmatan yang sama sekali lepas dari unsur spiritual. Persoalan ini pastinya akan susah menemukan problem solvingnya, persoalan seks jika terus saja dipahami sebagai sumber kenikamatan sejenak—maka dampak bahaya dari seks pun akan diabaikan.

Kesadaran pribadi akan spritualitas adalah bagian terpenting untuk mencegah seks bebas. Karena jalan untuk menangkal kebebasan seks adalah sifat yang positif. Kebebasan seks perwujudan dari hilangnya iman dan harapan bagi masa depan manusia. Antisipasinya adalah kita harus bisa memberi “wejangan ajaib” pada generasi kedepan berupa suatu tujuan yang luhur tapi tidak bersifat utopis. Dan pendidikan seks harus dilakukan secara aktif oleh semua kalangan dan tanpa menakut-nakuti, tapi harus lebih bersifat menyentuh (membangun iman yang kuat dan spiritualitas yang luhur).

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keputusan KPU Tetapkan Jokowi-JK sebagai …

Yusril Ihza Mahendr... | | 23 July 2014 | 14:21

Kado Hari Anak; Berburu Mainan Tradisional …

Arif L Hakim | | 23 July 2014 | 08:50

Stop! Jadi Orangtua Egois (Mari Selamatkan …

Siska Destiana | | 23 July 2014 | 12:36

Penting Gak Penting Ikut Asuransi Kebakaran …

Find Leilla | | 23 July 2014 | 11:53

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 2 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 3 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 7 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 7 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: