Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Anggi Afriansyah

Guru PKn dan masih terus belajar. Silahkan kunjungi blog saya: http://anggiafriansyah.wordpress.com/

Berani Jujur, Hebat!

OPINI | 10 May 2013 | 12:49 Dibaca: 380   Komentar: 4   2

Kata orang, kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Saya meyakini itu, dan saya yakin masih banyak yang meyakini itu. Tapi realitas yang ada di masyarakat seperti tidak mengamini pernyataan itu. Ketidakjujuran seolah sesuatu yang biasa saja yang terjadi di masyarakat. Mulai dari menyonteknya siswa ketika ulangan sekolah, kebocoran soal Ujian Nasional dan banyaknya kunci jawaban yang tersebar di siswa, kasus korupsi yang terjadi di lembaga pemerintahan sudah mengindikasikan bahwa jujur itu semakin langka dan tidak laku dalam kegiatan keseharian.

Sebagai seorang guru, saya selalu mengharapkan agar para peserta didik yang saya ajar akan selalu menjadi orang-orang yang jujur dalam keseharian mereka. Tentu saja harapan saya dan para guru di seluruh Indonesia bahwa generasi yang sekarang adalah menjadi pribadi hebat dan salah satu karakter yang ada dalam diri mereka adalah kejujuran. Mereka bisa mandiri, kreatif, cerdas, tetapi kalau mereka tidak jujur terutama pada diri sendiri maka itu adalah hal terburuk bagi tumbuh kembang mereka. Bohong pada Tuhan dan orang lain adalah perkara yang mungkin sering dilakukan. Tetapi ketika seseorang sudah berani membohongi dirinya sendiri maka kemanusiaannya sudah sama sekali tidak ada harganya.

Sekolah adalah sarana untuk pembentukan karakter dan tentu hanya menjadi salah satu sarana saja. Kementerian punya program pendidikan karakter yang secara massif disosialisasikan ke sekolah sekolah. Kurang lebih ada 18 karakter yang disosialisasikan oleh pemerintah antara lain yaitu religius, jujur, toleran, kerja keras, disiplin, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Tentu 18 karakter yang disampaikan tersebut akan sangat hebat jika pengimplementasiannya juga hebat. Sayangnya karakter ideal tersebut masih berat sekali untuk dilaksanakan dengan baik. Dalam konteks pendidikan di sekolah misalnya, nilai pelajaran masih jadi acuan utama, sehingga tindakan curang terkadang masih menjadi sesuatu yang dianggap halal. Sehingga bagaimanapun cara yang dilakukan untuk mendapatkan nilai yang bagus itu akan dilakukan dan mengabaikan nilai kejujuran. Jujur memang mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan.

Saya juga mungkin dalam keseharian belum mampu menjadi bagian dari warga negara Indonesia yang baik, atau bagian dari umat yang baik. Juga tak abai dari perilaku yang mungkin tidak sesuai dengan aturan negara dan aturan Tuhan. Implementasi dari sikap Rasullah yang saya agungkan bahwa dari aspek sifatnya sidiq, amanah, tablig dan fathonah, tentu masih jauh dari keseharian saya pribadi. Tapi saya sangat berharap para peserta didik yang saya ajar dapat menjadi pribadi yang lebih hebat di masa depan. Tidak mengejar nilai menjadi satu-satunya hal yang ingin dicapai. Pribadi yang jujur dengan dirinya sendiri. Kemudian saya teringat kata-kata salah satu Dosen yaitu Prof. Klopper pada Bung Karno ketika ia lulus kuliah, “ Ir. Soekarno, ijazah ini dapat robek dan hancur menjadi abu pada suatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah satu-satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter seseorang. Ia akan hidup dalam hati rakyat, sekalipun sesuah mati.” Dan terbukti, bahwa yang akan hidup dalam hati rakyat adalah karakter Bung Karno, seseorang yang memiliki karakter berani, memiliki leadership dan sangat mencintai bangsanya. Orang jarang yang ingat bahwa Bung Karno adalah seorang Insinyur Teknil Sipil (aspek akademik). Karakterlah yang membuat seseorang diingat oleh orang lain, bukan lembaran ijazah yang suatu saat akan hilang dan tak berarti.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiprah Ibu-ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | | 27 November 2014 | 07:38

Jakarta Street Food Festival: Ketika Kuliner …

Sutiono | | 27 November 2014 | 11:06

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 6 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Lawan Laos: Antara Kebanggaan dan Harga …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

[Cerbung] Green Corvus #11 …

Dyah Rina | 8 jam lalu

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Pengabaian Arbitrase di Kasus TPI dan …

Dewi Mayaratih | 8 jam lalu

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: