Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ikhsan Bawa

Seorang karyawan Toko Buku Follow Twitt: @Ikhsan_Bawa

(Sesungguhnya) Kemiskinan adalah Keindahan

OPINI | 11 May 2013 | 15:11 Dibaca: 294   Komentar: 0   2

Oleh: Ikhsan Bawa

Apa bedanya kemisikinan dan keindahan? Kemiskinan ialah bentuk keadaan yang dalam pandangan umum bisa dikategorikan kondisi serba kekurangan, khususnya pada kaitan ekonomi, kadangkala mengakibatkan lahirnya tekanan mental. Sedangkan keindahan adalah corak dan tampak yang menunjukan sebuah ekspresi wujud yang enak dilihat, didengar, dan dirasa. Lantas apakah kemiskinan bisa dikatakan hal yang indah? Pasti semua orang akan mengatakan, bahwa kemiskinan adalah kesengsaran. Namun, kenapa dalam hal ini kemiskinan disebut sebagai keindahan? pasti kalian akan bertanya demikian.

Kemiskinan tidak jauh beda dengan Kaya, mereka berdua sama-sama makhluk Tuhan yang menjelma ke dalam identitas wujud manusia, yaitu ada si kaya dan ada si miskin. Tapi kadangkala si kaya lebih berkuasa daripada si miskin, dikarenakan mereka lebih mempunyai banyak modal, kerja mereka lebih santai, sedangkan si miskin seakan-akan menjadi budak mereka. Nah, bagaimana menjadi orang miskin yang bersahaja? orang miskin yang sukses agar tidak dianggap sebagai budak? Kemiskinan memang keburukan, tetapi tidak bisa dipungkiri kemiskinan bisa menjadi sosok yang indah. Akan tetapi jika kita hanya berdiam diri pada posisi miskin, maka keterjeratan kita pada lingkaran kemiskinan berubah bentuknya menjadi kebodohan. Analoginya gini, Tuhan menciptakan batu dengan bentuk yang jelek dan buruk, mungkin batu tidak bisa mempunyai nilai jual tinggi kalau semisal batu hanya masih berbentuk seperti “batu kali”, Tuhan bisa saja menciptakan batu langsung pada bentuk yang indah, sehingga satu batu bisa mempunyai nila jual tinggi ketika manusia menjualnya. Namun Tuhan tidak mau seperti itu, karena percuma saja Tuhan telah memfasilitasi akal kepada manusia kalau tidak difungsikan. Sekarang ini banyak batu yang harganya sangat mahal, itu dikarenakan ada manusia yang sadar akan kepemilikan akalnya, sehingga manusia mampu mengukir batu menjadi patung-patung yang indah, dan akhirnya mempunyai nilai jual tinggi. Batu telah merubah fungsinya menjadi bermanfaat ketika ditangan manusia yang mampu mengeluarkan kekuatan-kekuatan dalam dirinya. Nah, dalam hal ini penulis ibaratkan “batu” itu layaknya “kemiskinan” yang jika didiamkan selalu menjadi bentuk yang buruk, dan tidak menarik. Tetapi ketika kemiskinan jatuh pada tangan kreatif pasti dia mampu mengukir kemiskinan menjadi sesuatu hal yang indah, ia bisa keluar dari kemiskinan itu, walaupun tidak sepenuhnya—setidaknya ia mau mencoba mengukir semua bentuk kemiskinan berubah bentuk lebih bersahaja. Namun, penulis yakin ketika kemiskinan terus diukir pada bentuknya yang indah, maka kemiskinan benar-benar menjelma menjadi keindahan. Tidak begitu susah mengeluarkan diri kita dari jerat kemiskinan, yang paling susah adalah mempertahankan bentuk kemiskinan yang telah menjadi indah. Akan tetapi, itu bagian dari tuntutan Tuhan kepada manusia untuk terus menjaga stabilitas fungsi kekuatan dirinya, agar mampu dipancarkan pada keseimbangan hidup.

Bahkan dapat ditegaskan di sini bahwa intelektualitas dan ilmu pengetahuan objektif dalam sejarah sebenarnya adalah warisan dari semangat orang miskin. Hanya dalam kondisi kontradiksi yang secara material dialami oleh rakyat miskin yang kesulitan menghadapi tekanan, sehingga hiduplah kesadaran akan kontradiksi yang muncul, hal ini mengarah pada aktivitas mempertanyakan segala sesuatu menjadi sebab-sebab permasalahan yang dihadapi. Ideologi kemiskinan adalah ideologi membongkar sebab-sebab kemiskinan; sedangkan ideologi kekuasaan adalah ideologi yang mengarah pada upaya untuk melanggengkan kekuasaan. Hal itu sebenarnya adalah landasan moral, kenapa sastrawan harus berpihak karena dengan berpihak pada orang miskin berarti mereka membongkar dunia ini. Apalagi posisi sosial dan ekonomi kekayaan juga tidak lepas dari hubungan produksi yang dalam tatanan kontradiktif selalu dicirikan dengan hubungan antara kelas tertindas dan kelas penindas. Kelas penindas akan selalu menjaga agar tatanannya (yang menindas dan menghisap kerja-kerja rakyat miskin) stabil. Maka segala upaya untuk memproduksi aparat material dan ideologis juga diarahkan untuk membuat tatanan itu langgeng. Sedangkan rakyat miskin juga membutuhkan keadilan dan dalam epos tertentu juga berjuang melawan penindasan yang dilakukan terhadapnya. Sehingga ketika perlawan melalui ukiran kemiskinan itu bergerak, bersatu padu menjadi satu kesatuan, semua akan berubah bentuk menjadi “miskin yang kaya nan indah”.

Namun masih banyak orang yang kebingungan untuk mengukir kemiskinan menjadi lebih indah? mereka bilang, kami sudah berusaha, tapi tetap saja posisi kami sebagai orang miskin masih melekat. Ya memang untuk melakukan revolusi diri itu “susah-susah gampang”, perlu kecakapan khusus untuk melatih semuanya. Banyak kisah orang-orang miskin di daerah, awal mulanya dia hanya sebagai supir, sebagai kuli panggul, dan sebagainya, mereka bisa keluar dari itu semua, merubah identitasnya menjadi orang yang kaya. Yang jadi pertanyaan, mengapa mereka bisa merubah nasib mereka menjadi kaya? Orang miskin yang menjadi buruh pada mulanya hanya sebagai pengikut orang-orang kaya, pasti mereka menggunakan otak dan pikirannya secara jeli, terus mengamati bagaimana cara orang kaya membangun usahanya sehingga bisa besar, bagaimana cara si kaya itu mempertahankannya, dan bagaimana ia mempolses semuanya menjadi indah pada saat mengukir kemiskinan di awal karirnya. Nah, dengan itu semua akhirnya ia tahu rumus-rumus apa, dan cara seperti apa yang harus kita buat untuk mengukir kemiskinan menjadi indah. Kalau semisal kita hanya bermodalkan nekad asal jadi (asal ukir), tanpa kualitas, insting, strategi, dan tanpa kemauan yang tinggi, maka secara otomatis ukiran kemiskinan itu bukan malah menjadi indah, tetapi malah tambah buruk. Kita tidak usah putus asa, setiap manusia sudah ada kapling-kapling bakat, dan potensi masing-masing, tinggal kita mau mengembangkannya atau tidak. Karena paham penulis, nasib bagi si kaya dan si miskin, tentu saja belum ditetapkan secara mutlak semenjak manusia lahir, karena takdir perkembangan hidup hanya ditangan usaha manusia melalui dorongan pentujuk Tuhan, terkecuali takdir hidup dan mati itu Tuhan lah yang menghandel.

Dalam pada itu, memang banyak yang bertanya mengenai takdir si miskin dan si kaya, katanya; benarkah takdir menjadi miskin dan kaya sudah tercatat di lauhul mahfuzh? apakah itu bisa dirombak ulang, dengan kata lain diinstal ulang agar takdir si miskin dan si kaya bisa berubah? Mungkin bukan hanya penulis yang sering mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang bernada garang seperti itu khususnya hubungan antara kesuksesan dan nasib. Seperti; apakah kesusksesan memang dimiliki oleh mereka yang mempunyai nasib baik sebagai orang sukses (anak raja, anak presiden, anak pengusaha, dan anak-anak konglomerat lainnya)? atau malah mungkin takdir dan nasib antara yang berkuasa tidak berkuasa sudah mutlak dan tidak bisa diganggu-gugat lagi? Masalah ini bukan hanya melekat di kita, tapi dikeseluruhan manusia, kalau semisal manusia ditanya, apakah ia mau menjadi orang miskin? pasti semua serempak mengatakan, “TIDAK”. Dengan demikian, berarti kita semua terlibat dalam kasus ini, tetapi di situlah ukuran Tuhan menguji kesetian manusia kepadaNya—melalui jalan usaha dan takdir yang akan terjadi. Sehingga tidak begitu mudah kita memberikan kecaman khusus kepada Tuhan, sebagai Maha Semaunya sendiri, yang telah menetapkan takdir sebelum kita dilahirkan di muka bumi ini. Pada dasarnya, kesuksesan atau tidak suksesnya seseorang itu dibentuk melalui jalan pikirannya sendiri, identitas yang nangkring dalam kedirian kita menjadi panutan khusus sebagai jembatan awal manusia menentukan sikap, apakah ingin menjadi manusia yang sukses atau tidak. Karena semuanya pun akan berubah ketika manusia mau merubahnya, kitab lauhul mafuzh hanya berisikan kemungkinan-kemungkinan peristiwa yang akan terjadi di dunia, bukan menetapkan secara absolut takdir manusia. Apalagi mengukur jangka-pendek kesuksesan dan kemiskinan seseorang. Keragua-raguan manusia dalam melangkah dan mengambil sikap, sesungguhnya malah akan melahirkan kecemasan-kecemasan baru bagi manusia itu sendiri, sehingga manusia tidak berani untuk melangkah lebih jauh. Sejatinya, rasa syukur kita kepada Tuhan yang dapat mendesain diri kita menjadi sosok yang kreatif, tentunya disongsong dengan rasa sabar, ikhlas, dan tawakal. Karena orang yang tidak mau bersyukur kepada Tuhan, sama saja ia adalah rakus (egosentris) (baca: QS. Ibrahim: 7). Dan tak bisa dipungkiri juga, alur perjalanan kita nanti selalu didampingin oleh orang-orang lain di sekitar kita, yang selalu membantu kita untuk terus bangkit dalam mengukir kemiskinan. Yang disesalkan kadangkala orang akan bahagia, ketika melihat orang disekitarnya lebih menderita, bahkan itu merupakan hiburan yang sangat menyenangkan. Sesungguhnya, disetiap apa yang kita dapat, sebagian adalah milik orang lain (baca: QS. Al-Munafiqun: 9, dan QS. Al-Baqarah: 195).

Dengan demikian, kemiskinan adalah perangkat dasar manusia untuk bangkit menjadi manusia yang sempurna. Dilihat dari bobot timbang orang yang terlahir miskin lalu kaya, dan orang yang sudah terlahir kaya, yaitu orang miskin ketika sudah menjelma menjadi kaya, ia lebih bisa menjadi dan mempunyai kesadaran tinggi tentang perjalanan hidupnya, dan ia akan lebih menghormati hartanya. Sedangkan orang yang sudah dilahirkan menjadi orang kaya, kemungkinan besar—ia tidak cukup bisa mengormati apa yang telah ia miliki (baca. QS. At-Takatsur: 1-8). Beranjak dari itu, kita berkaca untuk kembali ke ideologi kemiskinan, ialah mempunyai guna membongkar-bongkar sendi-sendi kemiskinan, membaca strategi miskin untuk diukir menjadi indah, dan itu semua dilalui pada taraf keberlajutan. Adanya penekanan yang meningkat membuat manusia dipaksa untuk berpikir dan akhirnya membuat sebuah gagasan, yang mempunyai guna untuk mengukir kemiskinan menjadi indah, di situlah manusia akan masuk ke dalam input, lalu berlajut ke dalam proses pengukiran. Siapa saja yang berhati-hati dalam artian jeli, maka akan melahirkan output ukiran yang sempurna, karena setiap perjalanan (proses) pasti dipenuhi dengan pelajaran. Tetapi kalau semisal kita tidak teliti dalam mengamati setiap langkah proses, maka keati-atian kita semakin berkurang, dan itu berdampak pada kemiskinan yang semakin akut. Dalam hal ini penulis ingin memaparkan kisah sukses seorang miskin bernama Fauzi Saleh mantan Petugas Keamanan, yang banyak beredar di situs-situs internet.

Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya. Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota. Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.

Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada diatas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.

Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya. Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu. “Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya. Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman,sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan. Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil. Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah, membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2. Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.

Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan. Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini. “Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi. “Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalau kita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi. Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri. “Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya.

Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial. “Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi. ” Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia”.

Melihat kesuksesan Fauzi yang sangat istimewa itu, kalau kita lihat dari perjalanan sejarahnya, sosok Fauzi memang sangat pantas untuk menjadi orang yang sukses. Karena ia mampu mengukir kemiskinanannya dengan sangat indah dan rapi. Itu semua diawali dari ketekunan dan keyakinannya. Sebab dalam pikirannya tidak ada yang tidak mampu dilakukan oleh manusia, kalau memang manusia menginginkannya. Sikap pasrah dan rasa syukur menjadi alat ukirnya yang matang untuk terus berjibaku melawan kediriannya. Mungkin kisah Fauzi ini mampu memotivasi kita dalam mengukir kemiskinan, sosok yang santun dan dermawan itu pantas dijadikan sebagai cerminan hidup. Karena siapapun orangnya pasti dia akan mampu menanggulangi segala kondisi yang ada, asalkan kita mau, dan terus berusaha membuat kemiskinan pun akan menjadi indah. Intinya, takdir nasib dan sukses kita memang ditangan kita sendiri, bukan ditangan Tuhan, Tuhan hanya mengawal proses kemajuan kita, saat kita mengukir kemiskinan menjadi indah (QS. Ara’ad: 11).

follow twitt: @IkhsanBawa

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sumber Air Bersih di Desa Kami Semakin …

Tarjum | | 19 December 2014 | 21:08

JKN “Mimpi” bagi Masyarakat …

Yosua Panjaitan | | 20 December 2014 | 07:22

Sepinggan, The Best Airport 2014 …

Heru Legowo | | 19 December 2014 | 18:10

Salah Penggunaan, Bubuk Protein Potensi …

Novia Cristi | | 20 December 2014 | 07:13

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 4 jam lalu

Hebat, Pemerintah Sanggup Beli Lumpur …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Mau Lihat Orang Jepang Antri Di Pom Bensin? …

Weedy Koshino | 12 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 13 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: