Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Membaca Adalah = …?

OPINI | 12 May 2013 | 20:18 Dibaca: 99   Komentar: 0   0

13683645721135333758“AL-Quran kodim… Wahyu minulyo

Tanpo dinulis iso diwoco

Iku wejangan guru waskito

Ang tancepake ing jero dodo…”

Bacaan ini (Al-Quran) adalah wahyu Yang Maha Mulia, tanpa di tulis bisa di baca

Itu adalah petuah guru yang tajam mata hatinya, maka tancapkanlah di dalam dada”

demikianlah kutipan Syiir tanpo waton karangan syech Nadzim yang syiirnya begitu populer dikalangan masyarakat islam jawa terlebih setelah di bawakan oleh Kh.Abdurahman Wahid. Potongan syair diatas bermakna sangat dalam dimana secara singkat mencoba memberikan pencerahan kepada kita tentang filosofi Membaca. para pembaca sekalian sebagian besar dari kita mungkin sudah tahu dan faham betul bahwa Ayat pertama sekaligus Perintah pertama yang turun adalah Bacalah. Coba kita telaah lagi bacaan seperti apa yang kiranya dapat di baca oleh si penerima wahyu (Nabi Muhammad S.A.W) yang pada saat itu adalah seorang yang buta huruf….?. Benar sekali membaca yang dimaksudkan tidak terkungkung pada membaca huruf, karena terbukti dikemudian hari Nabi S.A.W yang buta huruf ditulis dalam sejarah sebagai pemimpin dan orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Tidak perlu ada teks berjalan di langit yang bertuliskan “akan segera hujan ” pada saat awan mendung sudah bergumul dengan angin, tidak perlu ada tulisan yang muncul diperut anda yang menerangkan bahwa anda harus segera makan saat perut anda mulai terasa keroncongan dan tubuh anda melemas, Isac Newton pun tidak menyalin huruf yang keluar dari apel yang jatuh ketanah dari pohon yang dia sandari lalu kemudian menamainya teori gravitasi.

Membaca sendiri adalah alat yang kita gunakan untuk menjadi tahu, adalah instrumen yang memudahkan kita untuk mengerti,adalah jalan yang menuntun kita kepada kefahaman.Dan tujuan dari membaca itu sendiri adalah penemuan MAKNA. seberapa baik kualitas pemaknaan Anda tergantung pada seberapa tinggi tingkat kemampuan anda membaca.

Ada 3 tingkatan pembaca:

Yang pertama pembaca yang membaca dengan mata, pada saat seorang anak kecil menatap langit pada malam hari dan melihat bintang maka dia kan berkata bahwa bintang itu kecil.Pembaca pada tingkatan ini menyimpulkan segala sesuatu berdasarkan kesan pertama yang menghampiri panca indra.

Yang kedua pembaca yang membaca dengan akal, tidak separti anak kecil diatas sebagian orang sudah tahu bahwa faktanya bintang yang terlihat kecil itu sebenarnya besar dah bahkan ada yang besarnya berkalilipat dari bumi namun karena jaraknya yang jauh membuat bintang itu terlihat kecil.Jenis pembaca ini membuat kesimpulan dengan pintar menggunakan hukum kausalitas (sebab-akibat) dalam setiap penilaianya.

Yang ketiga adalah para pembaca yang membaca dengan hati, Pembaca jenis ini tahu betul bahwa bintang dilangit itu besar tetapi dia akan mengatakan bahwa bintang itu kecil, bukan karena kurangnya pengetahuan bahwa bintang itu besar melainkan karena kesadaranya pada penyaksianya bahwa sesuatu yang besar itu (bintang) diciptakan oleh Yang Maha Besar. Para pembaca jenis ini memiliki sudut pandang yang luasnya tak tebatas, para pembaca jenis ini mampu menyingkap Makna dibalik Makna dan membuat kesimpulan yang adil, adil dalam arti menempatkan sesuatu pada tempatnya atau Proporsional dan tentu saja bijaksana.

Pertanyaanya sekarang sudah sampai manakah kemampuan membaca Anda saat ini…?!?!?!

Apakah anda jenis pembaca pertama, kedua, ketiga, atau pembaca yang kadang freelance jadi jenis pembaca pertama, kadang kedua, atau mungkin sesekali jadi pembaca ketiga. Terlepas dari berada pada tingkatan manakah kemampuan membaca Anda Teruslah belajar, dengan demikian kemampuan membaca anda semakin meningkat dan terbaiki, dan dengan demikian juga anda telah berpartisipasi dalam sifat alami peradaban manusia yaitu peningkatan dan perbaikan.

” jangan remehkan sebuah huruf karena ia mampu membuat sepatah kata, jangan remehkan sepatah kata karena ia bisa menyusun sepotong kalimat, jangan remehkan sepotong kalimat karena ia berdaya menjadi sebuah karya, jangan terburu-buru menilai sebuah karya karena mungkin yang kau tangkap belumlah RUHnya “

Semoga bermanfaat


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | | 25 October 2014 | 06:48

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 12 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sejarah Munculnya Lagu Bunuh Diri Dari …

Raditya Rizky | 8 jam lalu

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 9 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: