Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bung Robert's

Orang awam yang suka belajar dan belajar....

SK DIRJEN : Kok, Tahu Kamu?

OPINI | 12 May 2013 | 02:40 Dibaca: 338   Komentar: 0   0

SK DIRJEN, selanjutnya saya singkat saja dengan SKD, adalah benda mati yang sangat berharga dan bertuah untuk kurun waktu satu tahun bagi seorang guru yang telah berhasil menjalani tahapan-tahapan yang sangat-sangat melelahkan karena banyak mengeluarkan pikiran dan tenaga untuk mendapatkan tunjangan profesi. Sayangnya, terakhir ini masih banyak guru yang mengeluh bahkan mungkin menangis dalam hati karena hingga tulisan ini dibuat belum menerima copy SKD yang telah dileges dinas terkait di daerah itu. Tidak terbitnya SKD ditenggarai oleh tidak akuratnya DAPODIK yang dikerjakan oleh operator sekolah.

Seperti diceritakan oleh seorang sahabat sebut saja namanya Rudi. Pada awal medio April yang lalu, Rudi bersama sejumlah rekannya di satu unit tugas mengajar hingga saat ini belum mendapatkan SKD, sedangkan rekan seprofesinya dilain sekolah murni kebagian SKD. Bukan main marahnya Rudi kepada operator sekolah yang mengaku sudah memperbaiki DAPODIK secara OL. Tapi, dua minggu kemudian ketika Rudi¬† “mengintip” web P2TK di internet temannya ternyata Info Data PTK-nya belum juga valid. Dia pun langsung menelpon “komandannya”. Apa jawab si komandan?¬† “Loh, kok tahu kamu? Kalau begtu perbaiki aja sendiri!” Astaga!!! Jawaban apa ini? Ga lucu, akh! Di mana tanggung jawab komandan dan operator sekolah? Kalau memang belum paham IT ya, mbok jangan malu dong bertanya kepada operator sekolah yang sudah mapan IT. Kasihan tuh “anak buahnya” kalau sempat gagal mendapatkan SKD sebagai syarat mutlak untuk memperoleh tunjangan guru, apalagi batas waktu perbaikan dapodik sampai akhir Mei tahun ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: