Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Deasi Saragih

Pembelajar yg berusaha menjadi seorang pendidik. Pemerhati dan berkontribusi dlm dunia pendidkan (Teacher, Long Life selengkapnya

Wahai Murid (Generasi Digital) Jangan Sakiti Gurumu…

OPINI | 12 May 2013 | 08:00 Dibaca: 301   Komentar: 11   4

Sumber  : http://intisari-online.com/read/manfaat-menangis-bagi-kesehatan-

Hari itu langit  cerah, jam di tangan menunjukkan pukul 5 sore, cuaca terasa teduh, apalagi dengan semangkok bakso pedas nan nikmat sambil menyerumput teh botol dingin. Hari ini saya dan seorang teman berjanji untuk bertemu, alasan pertama karena sudah lama tidak bertemu dan diliputi rasa rindu karena hampir setahun sibuk dengan kegiatan masing-masing, komunikasi hanya sebatas BBM saja , alasan kedua  karena dia mau curhat mengenai pekerjaannya, karena sama-sama guru maka sesi curhat akan terasa lebih nyambung.

“Ada apa? Kok terlihat sedih sekali.. “ saya mencoba masuk ke wilayah percakapan yang lebih serius, setelah bakso yang ada di mangkok tuntas berpindah tempat ke perut.

“Iya, sedih banget, ada masalah di sekolah, kemarin sih masih emosional, tapi hari ini udah bisa mengatasi perasaan dengan lebih baik” ujarnya terasa tanpa semangat.

“Masalah apa ya? Ahh tenang saja, pasti semua bisa dilewati dengan baik, percaya semua perkara akan bisa teratasi kan? Bisa cerita? Saya mencoba untuk menguatkan, meski feeling saya pasti ini masalah yang serius. Sahabat saya ini tergolong tipe plegmatis, artinya orang yang jarang terganggu dengan masalah, lain dengan saya yang emosional. Jadi kalau dia sudah emosional pastilah masalahnya tergolong berat.

Dia menyodorkan kertas-kertas. Print out percakapan di Sosial media. Sekejap darah dan jantung saya terasa mendesir halus.

Terlihat jelas itu adalah percakapan di twitter. Isinya :

@Vania (murid 1) : Anj*** yang ngajar hari ini Si Nana (nama teman saya), aduh tuuh guru males gue liatnya, udah  pelajarannya susah , nilai gue juga masih kurang beberapa poin dari KKM. Parah bisa-bisa gue enggak lulus.

@Vado (murid 2) : Ah, dia baik kalee, lo ajah kali yang yang bermasalah.

@Vania (murid 1) : ah, dia kepo banget, males deh pokoknya, nilai gue rendah terus  di kasih dia, dulu waktu gurunya Pak Asep yang cuek itu kalau ngajar nilai gue lumayan, minimal KKM lah…

@Riris (murid 3)  : Ah,  si rese Nana? Ha ha sok disiplin, sok oke, ngasih pe er banyaak gila…gag pake otak!

@Vania(murid 1) : pokoknys gue benci sebenci-bencinya

Vania(murid 1)     : Trus Si Roro (nama guru yang lain lagi) juga nyebelin gue ! Roro Roro kamp*** lah.

Tak sanggup  rasanya melanjutkan membaca beberapa lembar kertas lainnya.  Kertas saya letakkan kembali. Cukup kaget dengan kata-kata yang tertulis disana.

Dengan suara yang menahan emosi, saya mulai mengeksplorasi cerita di balik tulisan-tulisan di atas kertas ini.

Ternyata ada empat nama guru yang disebut jauh dari rasa hormat dan sopan. Sedih sekali. Memang bukan saya yang mengalami, tapi bagaimanapun dia teman saya, dan kami berdua sama-sama guru! terasa sekali hancur hatinya sebagai seorang pendidik.

Dari ceritanya saya tahu bahwa yang mengejutkannya adalah ketika dia tahu bahwa yang menulis itu ternyata siswa yang kesehariannya tidk bermasalah sama sekali, cenderung santun dan bertutur manis. Terlihat biasa dan tidak pernah terlihat bersebrangan pendapat atau apapun dengan gurunya. Yang mengkhawatirkan ini terjadi bukan hanya satu siswa tapi beberapa siswa! Itulah sumber kesedihannya! Dia melihat muridnya seperti pintar berakting dan jauh dari bayangannya selama ini.

Hatinya sebagai guru hancur, percakapan itu pun dilakukan di sosial media, bisa di akses oleh banyak orang, sudah tidak ada lagi ruang private yang ada hanyalah ruang publik dan terjadi pembunuhan karakter disana, siap dibaca  oleh banyak orang. Pihak sekolahnya sudah tahu, itupun karena ada seorang siswa lain yang melaporkan ke gurunya dengan alasan tidak ada yang salah dengan ibu gurunya yang semua tersebut disana, dan ingin membongkar”kejahatan”teman-temannya.

Saya  dan anda mungkin tidak pernah mengalami hal ini, setidaknya belum pernah ketahuan ada yang melakukan hal seperti ini dalam kaitannya dengan profesi sebagai seorang guru. Namun tentu saja tidak menghalangi rasa empati terdalam sebagai manusia bahwa ini maslah yang cukup menyakitkan.

Beberapa hal yang perlu di garis bawahi adalah :

1. Kegagalan sebuah pelaksanaan pendidikan terjadi bila tidak dapat menciptakan siswa dengan karakter sesuai dengan harapan masyarakat yang menjunjung tinggi sikap sopan santun, tanggung jawab, saling menghormati

2. Perlu di kaji ulang apakah yang kita berikan di kelas kita adalah soal berbagi ilmu dan pengetahuan tanpa diimbagi formulasi keseimbangan dengan rangkaian pembentukan karakter, sehingga siswa bisa berperilaku seperti itu? Sangat menyeramkan buat saya bila siswa yang dijumpai terlihat “sehat” namun ternyata di belakang menuliskan hal-hal yang berlawanan dan cenderung untuk manyakiti gurunya sendiri.

3. Perlunya mengajarkan siswa mengenai tanggung jawab dalam menulis  di sosial media mempertimbangkan apa yang ditulis, terkhusus yang berkaitan dengan pencemaran nama baik dan merugikan orang lain. Untuk hal ini orang tua juga perlu memberi pengarahan ke anak mengenai kode etik menulis di sosial media.

Kesedihan yang dialami oleh teman saya ini mungkin akan segera terlupakan mengingat dia orang plegmatis yang bisa lebih santai dalam menghadapi persoalan, namun bukan berarti penanganan masalah seperti ini menjadi tidak serius dan yang sanksi yang diberikan hanya berkisar mengenai nasihat-nasihat tanpa efek jera. Penanganannya harus melibatkan keseluruhan pihak sekolah, tidak hanya guru tapi seluruh stakeholder.

Selain itu para konselor sekolah perlu dilibatkan juga, agar penanganan terhadap siswa yang seperti ini tetap mempertimbangkan aspek psikologis anak. Semua pihak harus kompak dalam menjalankan visi pembentukkan karakter siswa yang baik. Era digital memang membawa banyak konsekuensi logis yang mengharuskan kita sebagai keseluruhan sistem yang ada di sekolah siap dan sigap memikirkan  usaha preventif (sebelum) dan represif (sesudah) bila hal seperti ini terjadi.

Sebelum pulang saya hanya mampu mengatakan bahwa selain instrospeksi diri yang bisa dilakukan adalah untuk tetap berdoa agar masalah ini cepat selesai. Terdengar klise tetapi selalu terbukti dapat menyelesaikan masalah. Bagaimanapun guru adalah gambaran orangtua yang harus bijak dibanding anaknya, sayabkatakan padanya guru harus tetap punya hati dan jiwa yang besar untuk menerima kekurangan dan kesalahan muridnya, jangan pernah menyerah menjadi seorang GURU.

catatan deskripsi efek negatif penggunaan sosial media yang kurang bijak.

#Salam Peningkatan Kualitas Pendidikan Indonesia

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Apakah Pedofili Patut Dihukum? …

Suzy Yusna Dewi | | 19 April 2014 | 09:33

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 16 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 17 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 19 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 20 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: