Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Syaefudin Marzuki

belajar mencari keadilan

Kenang-kenangan Soal 20 Paket

OPINI | 15 May 2013 | 14:43 Dibaca: 166   Komentar: 0   0

13686037451397662990

Kenang-kenangan Soal 20 Paket

Ujian Nasional untuk tingkat SMA telah berakhir beberapa waktu yang lalu sebagai penanda selangkah lagi habisnya masa belajar di tingkat menengah atas ini bagi para siswa-siswi kelas XII. Sebuah system evaluasi pendidikan yang seolah-olah menjadi penentu hidup dan matinya para pelajar di Indonesia. Sebuah drama pendidikan yang menjadi suar tenggelamnya romantisme masa sekolah bagi para siswa. Sebuah evaluasi belajar yang menjadi mitos yang sangat menakutkan bagi sebagian siswa yang menjalankanya.

Undang-undang sisdiknas memang mengamanatkan bahwa didalam system pendidikan nasional harus dilakukan evaluasi untuk mengetahui mutu dan kualitas pendidikan nasional. Atas dasar pesan undang-undang ini kemudian pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengejawantahkanya dalam sebuah evaluasi belajar yang disebut Ujian Nasional yang dipayungi dengan sebuah peraturan pemerintah. Setiap tahunya Ujian Nasional telah dievaluasi dalam setiap proses pelaksanaanya. Pro kontra keberadaan UN terus bermunculan. Dan sebagai puncaknya adalah pelaksanaan UN tahun 2013 ini untuk tingkat SMA. Media massa mengekspose kegagalan UN ini dari segala arah, terutama masalah teknis dalam pelaksanaanya yaitu keterlambatan distribusi soal di 11 provinsi di Indonesia tengah yang mengakibatkan ditundanya pelaksanaan UN untuk daerah tersebut dalam beberapa hari.

Hal ini merupakan sebuah pukulan yang sangat keras bagi pemerintah ditengah pro kontra keberadaan UN. Bagaimana mungkin Ujian Nasional yang berskala nasional bisa terlambat dalam pendistribusian naskah soal sementara hajatan ini hanya digelar 1 tahun sekali. Itu berarti pemerintah mempunyai waktu persiapan 1 tahun untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Tetapi yang sangat disayangkan, tidak ada yang bersikap kesatria dalam masalah ini. Baik pihak pemerintah maupun perusahaan mitra pemerintah yang bertugas mencetak dan mendistribusikan naskah soal tidak ada yang berjiwa besar untuk mengaku salah. Justru mereka saling menyalahkan satu sama lain. Pemerintah menyalahkan perusahaan percetakan yang lamban sementara perusahaan percetakan menyalahkan pemerintah yang terlambat memberi master soal yang akan dicetak. Maka kita sudah selayaknya kritis dalam kasus ini dengan memunculkan pertanyaan “adakah sesuatu dibalik semua ini?.”

Dan akhirnya beberapa waktu yang lalu Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan siap memanggil pihak pihak terkait untuk dimintai keterangan atas kemungkinan adanya praktek korupsi di Ujian Nasional 2013 ini. Memang sangat mungkin praktek korupsi terjadi di wilayah seperti ini.dari data yang ada menunjukan bahwa sebagain besar korupsi terjadi di dalam proses pengadaan barang dan jasa, yaitu korupsi berupa suap menyuap ataupun gratifikasi. Patut dipertanyakan bagaimana proses lelang tender percetakan naskah soal UN, adakah suap menyuap dalam proses ini sehingga memenangkan perusahaan yang kemudian secara teknis saja gagal mengemban amanat tersebut yang kemudian kita bisa menarik sebuah hipotesa awal bahwasanya sebenarnya perusahaan tersebut tidak kompeten dan tidak layak menang. Jika memang semua dugaan itu terbukti, kemudian kepada siapa kita akan berharap untuk Indonesia ini? Ketika sebuah system pendidikan nasional yang digadang-gadang melahirkan generasi cerdas yang siap mengabdi untuk bangsa, ternyata dimasuki oleh tangan-tangan kotor dan hanya digunakan sebagai alat pengeruk emas dan berlian bagi para penguasa. Biarkan KPK yang menyeledikinya dan kita hanya berharap dan selalu berprasangka baik semoga semua dugaan kita salah dan tidak terjadi korupsi di pelaksanaan UN 2013 ini.

Terlepas dari masalah teknis dan hukum dari pelaksanaan Ujian Nasional di Indonesia tersebut, UN ini memunculkan banyak sekali sisi menarik. Ujian Nasional memiliki kekuatan magis yang cukup tinggi bagi siswa yang akan melaksanakanya. Bagaimana mungkin seorang siswa yang dalam keseharianya tergolong siswa nakal di sekolahan kemudian tiba tiba sesaat menjelang UN menangis termehek mehek dihadapan gurunya dan meminta maaf sambil membersihkan kaki dan mencium tangan para bapak ibu guru. Para siswa siswi yang pada keseharianya sangat jarang membaca Al-Qur’an kemudian berubah menjadi sangat rajin untuk mengaji bersama di sekolahan menjelang Ujian Nasional. Anak-anak yang biasanya jarang sekali ke mushola sekolah tiba-tiba setiap istirahat pergi ke mushola untuk solat sunat dhuha. Memang itu semua bukan sesuatu yang buruk, justru sangatlah bagus. Tetapi mengingat hal itu semua dilakukan hanya pada saat akan melaksanakan Ujian Nasional itu yang cukup seksi untuk dibahas. Belum lagi sampai pada hal-hal negative yang dilakukan oleh para siswa menjelang ujian nasional. Pergi ke makam yang dianggap keramat kemudian berdo’a semoga lulus, mengunjungi paranormal untuk meminta jimat agar dapat mengerjakan soal ujian nasional, atau bahkan mencari cari penjual kunci jawaban Ujian Nasional untuk dipakai pada keesokan harinya saat ujian. Masih banyak lagi sebenarnya hal hal lucu dan unik yang ditimbulkan oleh ujian nasional ini. Tetapi dari semua itu jelas terlihat bahwasanya Ujian Nasional memberikan beban yang terlalu berat bagi peserta didik terutama beban psikologis sehingga mereka sampai melakukan hal hal semacam itu. Hal inilah yang seharusnya juga dipertimbangkan dalam penentuan keputusan kelanjutan ujian nasional tahun berikutnya.

Terlepas dari pelaksanaan UN SMA tahun 2013 yang dianggap amburadul,para siswa tidak boleh terlena dalam kenyamanan karena telah melewati Ujian Nasional ini. Sesungguhnya UN adalah gerbang bagi pertarungan dan perjuangan baru. Pertarungan menuju seleksi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi, pertarungan untuk langsung terjun ke dunia kerja. Sebagai pelajar yang visioner, UN bukanlah dianggap sebagai akhir perjuangan, tetapi menjadikanya awal dari ikhtiar ikhtiar berikutnya untuk mencapai masa depan yang diinginkan. Untuk bersiap mengabdi kepada ibu pertiwi, seperi apapun keadaan negeri ini, jadilah penyelamat bagi tanah air kita. Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Syaefudin Marzuki

Fakultas Hukum Universitas GadjahMada

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 7 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 10 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 12 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Nenek Ingin Sendiri …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

Menelusuri Alam Pemikiran Mahatma Gandhi …

Kukuh Fany Fatkhulo... | 7 jam lalu

Surat Terbuka Kepada Kahyang Ayu Anak …

Abest | 7 jam lalu

Ada Apa di Ternate..? …

Teberatu | 7 jam lalu

Hanya Evan Dimas, Apa Paulo Belum Pantas ? …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: