Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nani Roslinda

Berusaha ceria, bahagia dan hilangkan buruk sangka bisa bikin awet muda

Pendidikan yang Ideal, Bagaimanakah?

OPINI | 15 May 2013 | 22:39 Dibaca: 876   Komentar: 0   1

Banyak para pendidik yang sudah mulai cuek dengan urusan kependidikan yang penting urusan gaji selalu akan dinaikkan oleh pemerintah, sertifikasi selalu lancar dan nominal gaji ditingkatkan, para guru sudah mualai sejahtera, untuk apa lagi peduli anak didik mau berakhlak atau tidak, mau baik atau tidak, mau pintar atau tidak, yang penting mengajar, mengajar dan mengajar.  Sudah mengajar pulang, nilai ala kadarnya, toh sudah ada KKM, anak bodoh dan malas sudah ada standar yang sudah ditentukan oleh sekolah untuk apalagi capek-capek remedial, remedial, guru lelah memeriksa jawaban siswa, setelah di remed nilai tambah parah.

Sungguh pendidikan yang sudah salah kaprah, siswa yang rajin, jujur dan pintar kadang-kadang nilai UN sama dengan nilai siswa yang bodoh, malas dan tak peduli dengan guru, nilai didongkrak-dongkrak agar nanti nilai raport tidak terlalu kecil, siswa dengan mudahnya lulus karena sudah punya modal nilai rapot yang sudah distandar oleh pihak sekolah masing-masing.

Sekolah-sekolah tertentu memasang tarif tinggi untuk bisa diterima di sekolah tersebut, kadang-kadang terdengar ada orang tua yang kaya, memberikan uang besar untuk bisa diterima di sekolah tersebut, mengingat sekolah tersebut banyak mencetak siswa yang berhasil.  Sangat menyedihkan budaya-budaya sogok menyogok untuk menjadi guru, untuk menjadi kepala sekolah, panas di telinga mendengar cerita seperti ini, pasrah dengan pendidikan di Indonesia yang sudah semakin parah ini.

Selalu berharap kapan Indonesia bisa memiliki pendidikan yang ideal, pendidikan yang baik seperti dulu pernah menjadi urutan tertinggi di dunia, sekarang pendidikan ini sudah semakin terpuruk padahal sebagian besar rakyat Indonesia ini masih memiliki orang-orang pintar tapi tersimpan di Luar negeri karena kepintarannya tidak dihargai di Indonesia.  Orang-orang yang menduduki jabatan tertentu adalah orang-orang yang memiliki kedekatan batin, teman, saudara  dan bisa memberikan keuntungan buat panitia yang mengangkatnya, pemilihan pemimpina, pengurus, bukan berdasarkan keahlian dan kepintarannya. Punya berapa uang untuk bisa melicinkan jabatannya.  Yah inilah Pendidikan Indonesia sekarang. Kapan ya mau berubah?

Seorang guru menuturkan cerita bahwa Beliau sangat mendambakan pendidikan yang ideal, bagaimanakah caranya.  Apakah pendidikan ideal itu siswa siwi harus melaksanakan UN,  sehinga pembelajaran dijejali soal-soal dan pembahasan soal-soal saja, tanpa melihat aspek-aspek lain, bagaimanakah pelajaran agama dan budi pekerti sangat diabaikan dan sedikit sekali jam pelajarannya, khususnya sekolah negeri.

Sebagian besar guru kurang menyukai sistem penilaian dengan menggunakan Kriteria Ketuntasan Minimal yang sering dikenal dengan istilah KKM, lebih baik seperti dulu, siswa tampil dengan nilai apa adanya, ada yang nilai 4, 5, 6, 7, dst nanti akan dicari rata-rata kelas, janga sekolah mematok nilai siswa harus sekian, KKM nya sudah ditentukan, ini jelas-jelas pendidikan yang mengarah kepada ketidakjujuran.

Percuma ada UN dengan label jujur kalau toh siswa tidak diajarkan kejujuran dengan contoh dan teladan oleh para guru dan elit-elit pendidikan yang sudah bertahun-tahun menilai kecurangan-kecurangan yang terjadi pada UN.

Satu kelas siswa idealnya 20 atau 30 paling banyak, namum, masih banyak sekolah-sekolah menjadikan satu rombel sebanyak 40 bahkan sampai 50 orang.  Guru dikelas idealnya 2 orang, supaya saling mengkoreksi kesalahan dan memberikan masukan-masukan tentang kelebihan dan kekurangan dalam mengajar.  Yang satu menjelaskan materi secara umum, guru yang satunya lagi dikelas membimbing dibangkunya, sehingga tercipta kekompakan guru dan evaluasi mengajar setiap hari, saling memperbaiki dan saling mencerdasakan siswanya.

Kalau mau dipaparkan satu persatu, banyak sekali harapan kepada semua pihak dalam dunia pendidikan agar bisa menjadikan pendidikan di Indonesia ini ideal, tapi bagaimanakah? Masing-masing harus punya tekad yang kuat, Siswa, guru, tata usaha, orang tua.  dan warga sekolah lainnya.

Masih sebuah pertanyaan yang besar, bagaimanakah pendidikan yang ideal tersebut?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 5 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 9 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: