Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Rahardi Widodo

karyawan swasta,pecinta musik,bola mania,

Ayahku Jahat, Tega Cabuli Gelis

OPINI | 16 May 2013 | 18:33 Dibaca: 600   Komentar: 2   0

Hari Minggu kemarin saya bertandang ke rumah saudara di kampung sebelah. Ada pemandangan berbeda di rumah seorang kerabat. Beberapa orang berkumpul dan ngobrol tampak begitu serius tak seperti biasanya. Bahkan seorang diantaranya terlihat berbincang lirih setengah berbisik seakan tak ingin pembicaraanya terdengar orang lain. Sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Terselip pertanyaan, ada apakah gerangan ..

Menurut penuturan seorang bapak-bapak, sebut saja pak Belo, warga sedang digemparkan oleh kasus tindak asusila yang menimpa Gelis ( nama samaran ) seorang gadis 15 tahun tetangga seberang jalan. Ironisnya, pelakunya, Pak Dul ( nama samaran ) adalah orang dekat yang dianggap sebagai ayah angkatnya sendiri.

Gelis adalah anak tetangga Pak Dul . Semenjak lahir ia sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Pak Dul. Walaupun tinggal tak serumah ( hanya bertetangga ). kedekatan dan kasih sayang Pak Dul kepada Gelis begitu besar. Ia ikut merawat dan mendidik Gelis sedari kecil hingga kini beranjak remaja. Perhatiannya pun layaknya kepada anaknya sendiri.

Kejadian naas bermula ketika pada suatu sore, Pak Dul mengajak Gelis pergi jalan-jalan ke ladang dengan bersepeda motor. Memang, ayahanda Gelis yang berprofesi sebagai petani mempunyai kebun buah Melon yang siap panen. Berdalih memetik melon, Pak Dul meminta Gelis menemaninya ke ladang yang berjarak hampir 1 km dari rumah.

Tanpa sepengetahuan orangtua Gelis, merekapun berangkat ke ladang…

Hari telah senja dan malam pun tiba. Namun, mereka belum juga kunjung pulang. Orang tua Gelis di rumah tampak begitu Gelisah, sebab buah hati kesayangannya tak kelihatan batang hidungnya. Padahal hari sudah malam.Tak tau kemana dan dengan siapa ia pergi. Kegelisahan orang tua Gelis sekejab sirna sesaat setelah melihat ia pulang diantar Pak Dul. Tak ada yang aneh dan mencurigakan pada saat itu. Semua tampak baik-baik saja.

Selang sehari , Gelis berkeluh kesah kepada sang nenek. Dengan perasaan takut dibarengi isak tangis, ia menceritakan kejadian yang dialami beberapa hari lalu. Ia mengalami pelecehan sexual oleh ayah angkatnya sendiri, Pak Dul. Gelis yang masih lugu di paksa melayani nafsu bejat Pak Dul di sebuah ladang Melon. Memang, Pak Dul tak sampai memperkosa atau menggauli, hanya sebatas meraba payudara, mencium dan mencumbui sekujur tubuh Gelis.

Awalnya Gelis menolak dan meronta-ronta. Namun karena takut, ia tak kuasa melawan keberingasan Pak Dul yang semakin menjadi-jadi. Entah iblis mana yang merasuki pikiran Pak Dul sehingga ia tega melakukan perbuatan keji itu. Otaknya menjadi jahat dan hatinya menjadi buta. Tak heran, ketika melihat tubuh Gelis yang masih munggilpun membuatnya gelap mata. Karena tak bisa mengendalikan nafsu birahinya yang kian meledak-ledak, tubuh mungil gelis yang masih suci terjamah sudah oleh tangan kotor sang ayah angkat.

kejadian itu sungguh pukulan telak bagi keluarga. Terlebih Gelis, truma berat yang ia alami membuatnya sering mengurung diri dikamar. Ia takut dan malu kepada semua orang. Maklum, kabar tak sedap ini sudah menyebar ke penjuru kampung, termasuk teman-teman sekolahnya. Pendidikan yang ia tempuh di bangku SLTP terancam putus di tengah jalan .

Disisi lain, warga sangat menyesalkan terhadap kelakuan Pak Dul. Sosok Guru sekolah dasar yang dikenal alim, santun dan dermawan ini , ternyata seperti kucing garong kelaparan. Tak ada yang menyangka sama sekali. Terlebih, ketokohannya di kalangan masyarakat cukup disegani.

Entah khilaf entah apa, nasi sudah menjadi bubur. Tiada guna meratapi penyesalan. Jika keluarga Gelis tak terima dengan masalah ini dan menempuh jalur hukum, maka sanksi berat menunggu di depan mata Pak Dul. Nyamuk-nyamuk nakal siap menemaninya di tembok penjara .

Pembaca yang budiman, pelajaran penting dari kasus di atas. Kita harus selalu waspada terhadapa kejahatan yang mungkin saja sedang mengintai. Banyak kasus terungkap, pelakunya ternyata orang-orang di sekitar kita saja, bahkan orang terdekat sekalipun. Tengok saja berita di berbagai media : seorang anak bacok ayah, Ibu yang mencekik bayinya, ayah perkosa anaknya, sampai pencurian yang di dalangi si pembantu rumah dan lain sebagainya.

Ini menunjukkan bahwa kejahatan bisa menyerang kita kapan saja, oleh siapa saja dan dimana saja. Selain itu, kata bang Napi bahwa kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan.

Selain selalu waspada, patut kita membentengi rumah dan keluarga agar terhindar dari segala mara bahaya dan kejahatan. Adalah dengan iman dan doa…..

Salam ( Rahardi Widodo )

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: