Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Arif Sadewa

Orang yang berusaha menyelaraskan ucapan dan perbuatan sambil mengajar, belajar menulis di Kompasiana.com. (Lulusan SMT selengkapnya

Belajar Debat Agama dari Persis, Ahmadiyah dan Pemerintah Kolonial Belanda

REP | 20 May 2013 | 04:57 Dibaca: 557   Komentar: 14   2

Sekarang di milenium dan abad baru ini sudah lumrah debat berlangsung panas bahkan berakhir dengan permusuhan.  Apalagi debat itu mengenai agama atau keyakinan. Lebih panas dari debat politik tentunya.  Apalagi jika dibumbui dengan massa yang berteriak-teriak dan intimidasi satu sama lain. Tak terbayang bagaimana dada bergemuruh, kepala panas dan otot pun jadi tegang sehingga butuh pendinginan dan pelemasan.  Baku pukul yang dianggap cocok adakalanya menjadi klimaksnya. Saya yakin kejadian itu hanya sebagian kecil, tentunya di luar sana masih ada debat yang berujung damai.

Di jaman Kolonial Belanda pernah terjadi perdebatan dengan tema agama, bahkan temanya bukan sembarangan yaitu Ahmadiyah. Hebatnya debat tersebut berlangsung khidmat, sejuk dan berakhir dengan penuh kedamaian. Masya Allah, indahnya.   Masa itu yaitu tahun 1930an Ahmadiyah merupakan hal baru di Indonesia yang belum merdeka dan mengundang kontroversi juga seperti sekarang.  Masyarakat Islam gerah juga dengan masuknya ajaran Ahmadiyah.  Tapi tidak rusuh seperti sekarang.

Perdebatan itu layak disebut sebagai satu-satunya debat teragung abad lalu bahkan hingga abad ini saya rasa.  Kenapa saya berani bilang seperti itu.  Islam yang saat itu diwakili oleh A. Hasan Bandung dari Persatuan Islam (saat itu namanya Pembela Islam); pihak Ahmadiyah diwakili oleh Rahmat Ali,  HAOT dan Abu Bakar Ayyub; pihak pemerintah menjadi fasilitator dan pemimpin sidang diwakili Mhd. Muhyiddin, dan peserta yang berjumlah kira-kira 2.000 orang menunjukkan etika dan ketenangan yang luar biasa.  Tidak ada perang urat syaraf dan emosi atau teriakan riuh bahkan cemoohan dari peserta sidang.   Debat pun berakhir dengan damai.

Debat dengan isu panas Ahmadiyah ini sungguh super! Berlangsung selama 3malam berturut-turut dari tanggal28, 29 dan 30 September 1933 bertempat di Gang Kenari Batavia Centrum.  Aturan yang diberlakukan sangat ketat untuk menjaga etika debat dan menghasilkan ilmu.  Pendengar dilarang berteriak atau bersorak-sorak, berbicara, baik dengan isyarat maupun sindiran yang berarti memihak kepada salah satu pihak, mereka hanya dipersilahkan duduk menyimak dengan penuh perhatian dan mengikuti ilmu yang sedang disajikan kedua pihak yang sedang berdebat, ketidaksetujuan disimpan dalam hati.  Kesimpulan di rumah masing-masing.  Jika peserta melanggar etika itu  pemimpin sidang akan mengeluarkannya.  Para pembicara pun tak luput dari aturan mereka harus berbicara keilmuan tidak personal atau yang menghina.  Jika etika itu dilanggar pembicara akan mendapat sangsi dari pimpinan sidang.

Selama tiga malam berturut-turut pimpinan sidang, dua pihak pembicara yang sedang berjuang membela kebenaran keyakinannya masing-masing, dan peserta yang ribuan itu secara konsisten menjunjukkan disiplin, ketenangan dan penghargaan kepada ilmu agama.  Sungguh pertunjukkan akhlak dan moral yang mulia.  Pembicara dari pihak Islam maupun Ahmadiyah kedua-duanya hanya mengemukakan pendapat mereka berdasar Alqur’an dan hadits Nabi s.a.w., jika ada rujukan dari kitab pihak lawan debat maka tak boleh menafsirkan tulisan itu mengikuti keinginan pembicara harus didasarkan pendapat penulis itu sendiri.  Moral yang agung bisa ditunjukkan oleh A. Hasan, Rahmat Ali, Abubakar Ayyub dan Mhd. Muhyiddin.

Di era kita ini jangankan satu malam, baru jam pertama debat pun sudah mulai panas dan kehilangan etika.  Luar biasa debat Ahmadiyah  di masa itu! Tiga malam berturut-turut, saya belum mendengar ada cerita di luar acara tersebut  massa yang mencemooh atau mengintimidasi salah satu pihak. Bahkan pemukulan atau perusakan juga tidak ada.

Kita menganggap bahwa kita sekarang adalah manusia modern yang sudah merdeka penuh.  Selayaknya lah sikap dan etika kita lebih canggih dari manusia kuno yang masih terjajah.  Pendidikan kita tak diragukan lebih tinggi dari pendahulu kita di era 30-an, ketinggian ilmu kita harus ditunjukkan dalam forum-forum debat.  Menjadi pembicara, maupun pendengar sama-sama memerlukan moral dan akhlak.  Ilmu itu nampak dari ucapan dan sikap kita.  Kita bicara moral maka tindakan juga bermoral.  Berbicara akhlak tampilkan juga akhlak mulia.

Saya tetap yakin sebagai manusia modern debat seperti yang dilakukan pendahulu kita pasti bisa dilakukan!  Jika tiap forum kita selalu damai maka indahlah Indonesia, indahlah Islam Indonesia.

Jayalah Indonesia!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

Waspada Komplotan Penipu Mengaku Dari …

Fey Down | | 21 December 2014 | 23:23


TRENDING ARTICLES

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 11 jam lalu

Sensasi Singkong Rebus Menteri Yuddy …

Andi Harianto | 12 jam lalu

Ketika Tulisanmu Dihargai Jutaan Rupiah …

Wijaya Kusumah | 12 jam lalu

Sekilas Wajah Pak Menteri Anies Mirip …

Agus Oloan | 12 jam lalu

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: