Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Rengga Muslim

History Educator | Announcer of 107.7 Madani FM | Duta Bahasa Jabar | Translator | selengkapnya

Mengajak Siswa Berfikir Kritis dengan Sejarah

OPINI | 20 May 2013 | 10:22 Dibaca: 421   Komentar: 1   2

Sejarah sebagai sebuah ilmu telah lama mengisi kurikulum pendidikan kita. Dari mulai jenjang pendidikan dasar sampai menengah atas siswa telah akrab dengan mata pelajaran ini. Bahkan, Sejarah tetap diberikan kepada para siswa yang telah dijuruskan sesuai bidang tertentu. Mengingat, banyaknya fungsi dari mata pelajaran ini dari berbagai aspek. Menurut kuntowidjoyo dalam Pengantar Ilmu Sejarah dijelaskan bahwa ‘The new History’ atau sejarah baru yang dipelopori oleh Robinson dan Becker pada abad 20-an menekankan pentingnya pendekatan  ilmu-ilmu sosial. Kalau historiografi klasik lebih menekankan retorik maka historiografi modern lebih menekankan kritik, sejak saat itu ada pendekatan sejarah dengan ilmu – ilmu sosial.

Banyak fungsi dari mata pelajaran sejarah berkaitan dengan dimensi keilmuan dan ideologis, tetapi dalam tulisan ini penulis akan lebih menyoroti dalam fungsi keilmuannya. Melihat masalah yang ada dari komponen pendidikan siswa. Ditandai dengan kurangnya sikap kritis dan daya apresiasi siswa terhadap peristiwa – peristiwa di sekitarnya. Kerena paradigma yang berkembang selama ini, jika sejarah selalu identik dengan sesuatu yang terdahulu dan jauh seperti  Sejarah Kerajaan – Kerajaan, Perang Diponegoro, Proklamasi, dsb. Tetapi peristiwa – peristiwa terkini yang dekat dengan kehidupan siswa seperti Pemilu, GerakanGreenpeace, dsb kurang disikapi. Tentunya tanpa mengenyampingkan kisah-kisah  terdahulu yang masih dapat kita rasakan pengaruhnya hingga kini, dalam rangka peningkatan kepekaan dan sikap kritis siswa peristiwa – peristiwa terkini perlu disampaikan dengan cara yang tepat. Agar mereka dapat membedakan sejarah sebagai kisah dan sejarah sebagai peristiwa.

Sejarah sebagai kisah lebih menekankan pada kejadian – kejadian terdahulu dimana kita tidak ikut terlibat langsung dengan kejadian itu, kita tahu itu dari tulisan – tulisan atau cerita yang disampaikan oleh penulis sejarah atau pelaku sejarah. Sedangkan sejarah sebagai peristiwa menekankan pada kejadian – kejadian terkini yang dekat dengan kehidupan kita, dimana siswa ikut melihat dan mengamati prosesnya. Seperti saat pemilu kemarin, siswa dapat membuat semacam penelitian kecil dengan membuat tulisan tentang peristiwa tersebut dilihat dari berbagai segi. Hal semacam ini dapat medorong siswa untuk berpikir kritis. Yang dimaksud dengan berpikir kritis adalah siswa mempertanyakan kembali berbagai informasi yang didapatnya, menganalisis secara dalam tentang berbagai kisah dan peristiwa. Jadi siswa tidak hanya sekedar tahu tanggal atau nama – nama tokoh sejarah saja.

Biasanya model semacam ini akan dimulai dengan bentuk pertanya ‘kenapa’ atau ‘bagaimana’. Di sini akan dituntut daya analisis siswa dan ini dapat menjadi sebuah petualangan intelektual yang dapat memacu daya kreatifitas siswa. Ada beberapa ciri yang menandakan siswa kurang kritis. Misalnya, saat guru sedang  menerangkan atau saat siswa diberi kesempatan bertanya meraka cenderung pasif. Padahal seharusnya ada banyak pertanyaan yang muncul di benak siswa, terkait konsep-konsep baru yang dikenalnya atau berbagai perbedaan interpretasi dalam sejarah, dsb.  Dalam hal ini, maka yang bertanggung jawab adalah guru sebagai pendidik yang tidak melatih kemampuan tersebut. Bibit kritis sebenarnya sudah ada pada setiap individu tapi hal itu perlu dipupuk dan dilatih agar dapat berkembang dengan baik. Faktor eksternal juga dapat menjadi penyebab siswa tidak kritis, seperti trauma di masa kecil. Saat anak dalam usia 5-7 tahun mereka akan sering bertanya, tapi terkadang orang tua kurang memberikan apresiasi karena menganggap pertanyaan tidak  penting, atau tanpa sengaja guru mengejek pertanyaan siswa di kelas saat ia bertanya. Tanpa disadari sikap penolakan semacam itu akan berpengaruh pada alam bawah sadar siswa yang dapat membunuh bibit – bibit kreatifitas sehingga siswa cenderung enggan bertanya.

Generasi kritis sangat diperlukan oleh negeri ini. Karena dari setiap pertanyaan yang muncul akan dicari jawaban – jawaban dan dari tiap jawaban akan diperoleh solusi – solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang  ada. Mereka adalah tunas – tunas, yang kelak akan tumbuh dan menjadi generasi pengganti. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana memanfaatkan sejarah sebagai media yang dapat mengembangkan sikap kritis siswa. Berikut poin-poin penjelasannya.

Poin pertama, sejarah yang dikenal selama ini lebih banyak menggunakan pendekatan liberal. Sejarah diceritakan secara analitik deskriftif yang banyak menyoroti tokoh-tokoh besar atau kehidupan kenegaraan. Pendekatan semacam ini lebih sering dipilih karena lebih mudah, serta buku-buku paket siswa saat ini kebanyakan ditulis dengan pendekatan ini. Diharapkan guru mau menggunakan pendekatan lain dalam menyampaikan kisah dan peristiwa sejarah seperti dengan menggunakan pendekatan konflik dan pendekatan dekonstruktifistik.

Pendekatan konflik lebih banyak melihat konflik-konflik yang terjadi dalam suatu peristiwa atau kisah sejarah. Seperti konflik psikologis yang dialami Soekarno dalam melakukan konfrontasi terhadap negara-negara barat, atau konflik kelas antar kaum kapitalis dan kaum buruh. Dengan begini, sejarah akan lebih kaya dan akan melibatkan ilmu-ilmu sosial lain seperti sosiologi, antropologi, psikologi, dsb.

Pendekatan dekonstruktifistik melihat sisi lain dari peristiwa dan kisah sejarah. Sejarah di-dekonstruk (dibongkar) melihat sisi ironik dari sejarah. Penulisan sejarah semacam ini juga melibatkan peran partisipator sejarah yang termarginalkan seperti buruh, petani, atau masyarakat kebanyakan yang terabaikan dalam sejarah liberal. Siswa dituntut untuk menggali, mempertanyakan, dan menulis kembali sejarah. Seperti pertanyaan, ‘apakah kejayaan kerajaan Banten pada abad 16-17 juga turut dirasakan oleh kalangan petani’, ‘bagaimana nasib masyarakat baduy (kanekes) pasca kedatangan orang muslim ke sana’, dsb. Dengan begitu akan terjadi transformasi ilmu, khususnya pemahaman personal siswa terhadap suatu peristiwa atau kisah sejarah.

Poin kedua, melakukan pembiasaan terhadap siswa untuk bertanya. Menurut aliran Bihaviorisme bahwa suatu perilaku terbentuk karena adanya pengulangan dari stimulus dan response yang mengalami penguatan. Dengan membiasakan siswa bertanya sedari dini, maka akan terbentuk sebuah pola perilaku. Sehingga saat siswa menerima suatu informasi ia tidak akan menelannya bulat-bulat.

Poin terakhir dan tak kalah pentinnya adalah sikap apresiatif terhadap berbagai prestasi yang diraih oleh siswa sekecil apapun. Ini yang biasanya dipandang sepele, padahal reward berupa pujian dapat mempengaruhi alam bawah sadar siswa. Sehingga terbangun sikap Percaya Diri pada siswa. Sikap apresiatif memang cenderung kurang di negeri ini. Kita lebih mudah mengkritik atau melihat sisi negatif dari orang lain dibanding prestasi-prestasinya.

Hanya sedikit yang dapat saya sampaikan dalam tulisan ini. Tulisan ini tidak bermaksud menggurui dari seorang anak kemaren sore seperti saya. tapi hanya untuk lebih membuka perspektif kita. Agar guru sejarah lebih memaksimalkan tugasnya sebagai pendidik. Tentunya ini bukan hanya sekedar tugas dari sekolah sebagai lembaga resmi pendidikan tapi juga diperlukan dukungan dari orang tua dalam menyediakan lingkungan yang kondusif bagi anak untuk dapat berkembang dengan baik. Mengingat rasio waktu siswa yang lebih banyak dihabiskan di luar sekolah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah Bantuan Sangat Mendesak yang …

Siwi Sang | | 18 December 2014 | 09:08

Seniman, antara Profesi dalam Angan dan …

Christian Kelvianto | | 18 December 2014 | 00:46

Nangkring Parenting bersama Mentari Anakku: …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59

Membangun Bangsa dari Pabrik Fillet Patin …

Indar Wijaya | | 18 December 2014 | 08:53

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Seleb yang Satu Ini Sepertinya Belum Layak …

Adjat R. Sudradjat | 3 jam lalu

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

Menyoal Boleh Tidaknya Ucapkan “Selamat …

Dihar Dakir | 4 jam lalu

Presiden Jokowi Mesti Kita Nasehati …

Thamrin Sonata | 6 jam lalu

Pilot Cantik, Menawan, dan Berhijab …

Axtea 99 | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: