Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sardini Ramadhan

Pendiri KPK (Komunitas Pena Khatulistiwa). Seorang pembelajar yang belajar dari siapa saja. Berusaha setiap hari selengkapnya

Pesan Kematian

OPINI | 22 May 2013 | 10:04 Dibaca: 220   Komentar: 0   0

Banyak alasan orang tidak suka dengan datangnya peristiwa kematian. Ada yang takut mati karena terlalu banyak lalai dalam menjalani kehidupan di dunia. Ada yang takut mati karena membayangkan kesulitan yang ditemui setelah kematian. Ada yang takut mati karena berpisah dengan sanak familinya. Ada yang takut mati karena kenyataan pahit harus meninggalkan harta kekayaan yang dikumpulkannya bertahun-tahun. Itulah sebabnya kematian menjadi sesuatu yang luar biasa. Sesuatau yang sangat ditakuti kebanyakan orang.

Kematian memang menyakitkan bagi orang-orang yang kehidupannya terpedaya dengan keindahan semu dunia. Kematian, dan saat-saat menjelang kematian menyingkap banyak kepalsuan dan kebohongan yang terjadi selama manusia hidup. Kematian membongkar kedustaaan dan membuka kemunafikan yang tidak terlihat. Kematian akan membedah satu persatu aib yang matian-matian ditutupi selama ini. Kematian menjadikan orang sombong dan hatinya membatu tersadar dengan kesalahannya. Kematian menjadikan pecinta dunia tersadar dengan belenggunya . Kematian memutus kelezatan dunia yang menyibukkan selama ini. Lihatlah Fir’aun, manusia paling membangkang dimuka bumi yang menganggap dirinya Tuhan. Saat nyawanya akan keluar dari tenggorokannya, ia menyatakan beriman dengan RabbNya Musa AS. Tuhannya yang selama ini didustakannya. Sebuah episode kesadaran yang telah terlambat dan hanya menyisakan penyesalan berkepanjangan. Cukuplah peristiwa kematian Fir’aun menjadi pembelajaran yang melembutkan hati generasi-generasi setelahnya. Menjadi renungan yang mendalam tentang amanah kehidupan yang disia-siakan.

Adakah musibah yang lebih besar daripada kematian tidak dalam keadaan beriman. Kematian dalam keadaan menjadi manusia pembangkang. Kematian dalam keadaan menjadi manusia durhaka.

Ali Bin Abi Thalib berkata,” Siapakah yang mampu lari dari hari kematian? Bukankah hari kematian adalah hari yang telah ditetapkan ? Bila (kematian) sesuatu yang belum ditetapkan tentu aku dapat lari darinya. Namun siapakah yang dapat menghindarkan dari takdir?”.

Siapapun kita tidak bisa terlepas dengan cengkraman kematian. Kita hanya menunggu ajal yang tiada pernah kita tahu kapan datangnya. Bagi orang beriman kematian tidaklah mesti ditakuti. Karena sisi lain diri kematian adalah titik balik meraih kemerdekaan dari penjara dunia. Seindah apapun kehidupan di dunia, bagi seorang muslim dunia tetaplah sebuah penjara yang begitu menyibukkan. Benarlah apa yang dikatakan Abdullah bin Amr Bin Ash “ Dunia itu adalah penjara bagi orang mukmin. Bila ia berpisah dari dunia berarti dia berpisah dari penjara”. Sungguh penjara ini tak pantas membuat kita terbelenggu dari ketaatan kepada Allah. Dunia yang sementara ini tak pantas menjadikan kita terlupa dengan kehidupan yang lebih abadi. Justru kita harus disibukkan dengan upaya penyiapan bekal yang banyak dalam rangka merayakan hari kebebasan kita dari penjara dunia.

Rasulullah dalam hadist riwayat Thabarani dan Al Hakim mengatakan “Al mautu tuhfatul mukmin, kematian adalah hadiah bagi orang beriman. Karena setelah kematian dia akan terbebas dari jeratan-jeratan ujian hidup. Dia akan mendapatkan balasan yang sangat besar dari ketaatan yang telah dilakukannya. Jiwanya terbang meninggi menuju Tuhannya. Kehidupan paska kematian hanya menyediakan lautan nikmat yang tak bertepi untuknya.

Bagi orang beriman, jiwanya tak akan puas jika mati hanya sebagai seorang muslim biasa. Dia pasti menginginkan kematian dalam keadaan beramal sholeh.

(Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.

Hamba yang beriman sangat menyadari bahwa kematian akan menjadi penutup segala kebaikan yang bisa dilakukan selama hidup. Oleh karena itu dia selalu menyibukkan dirinya dengan ketaatan, terus menerus ibadah, sujud dan tunduk kepada Allah SWT. Dia tidak ingin kesempatan hidup dan beribadah yang sementara ini berlalu sia-sia. Dia selalu sadar, dunia adalah tempat menanam sebanyak-banyaknya amal untuk dibawa kehadapan Allah SWT.

Sesungguhnya kematian adalah musibah terbesar yang memutus kelezatan dunia. Sebelum dia datang menghampiri, berazamlah untuk selalu siap dalam kondisi terbaik untuk menyambutnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

Ahokrasi, Tepat dan Harus untuk Jakarta …

Felix | 8 jam lalu

Norman K Jualan Bubur, Tampangnya Lebih Hepi …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Suparto, Penjahit Langganan Jokowi …

Niken Satyawati | 11 jam lalu

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 12 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

“Aku Bukan untuk Si Kaya, Tapi untuk …

Muhammad Samin | 7 jam lalu

Pemandangan di Tepian Sungai Batanghari …

Aryani_yani | 7 jam lalu

Fitur-fitur Wireshark …

Haidar Erdi | 7 jam lalu

Monolog Kebaikan …

Ari Dwi Kasiyanto | 8 jam lalu

Nasib Rakyat Negeri Keledai …

Asmari Rahman | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: