Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Majawati Oen

Owner dan Guru Bimbingan Belajar Menyukai travelling

Sekolah Terbaik, Belum Tentu Baik untuk Anak Kita

HL | 22 May 2013 | 13:13 Dibaca: 1671   Komentar: 12   7

13692172501793080470

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Dua bulan lagi sudah memasuki tahun ajaran baru. Orang tua sudah mulai berburu sekolah terbaik untuk anaknya. Sebagai orang tua memang kita ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Apalagi saat ada beragam pilihan sekolah yang bisa jadi jujugan, mulai dari SBI, RSBI, Nasional Plus, Sekolah Negeri, Sekolah Swasta dan mungkin ada macam-macam sekolah yang sekarang ditawarkan dengan cara-cara yang lebih menarik. Sebagian besar orang tua memilih sekolah karena faktor pendapat orang dekatnya. Pendapat orang-orang terdekat atau orang yang berpengaruh sering menjadi acuan dalam memilih sekolah. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi tentang pemilihan sekolah yang tepat bagi anak-anak kita, yang dapat membuat nyaman bersekolah, berprestasi dan dapat mengembangkan bakat-bakatnya.

Kenali Anak Kita

Orang tua adalah orang yang terdekat dengan anak (seharusnya begitu ya!!), sehingga merekalah yang semestinya tahu dengan mengenal kelebihan dan kekurangan anaknya secara obyektif. Saya percaya setiap manusia yang lahir di dunia ini diberi karunia oleh Sang Penciptanya. Orang tua perlu bergaul akrab dengan anaknya untuk tahu kemampuan, bakat dan kekurangan anaknya. Bergaul akrab berarti pula memberikan perhatian, bimbingan, bahkan hukuman atas sikap dan perilakunya. Dengan bergaul akrab kita jadi mengenal anak kita dengan lebih detil. Dasar inilah yang seharusnya menjadi pegangan utama orang tua dalam menentukan sekolah yang tepat baginya.

Cari Informasi Sekolah Secara Lengkap

Jauh hari sebelum pendaftaran sekolah, saat ini sudah banyak sekolah yang membuka pendaftaran lebih awal, bahkan setengah tahun sebelum ajaran baru. Carilah informasi sebanyak-banyaknya dari sekolah yang anda inginkan dan beberapa sekolah alternatif. Pencarian informasi yang tepat adalah mendatangi sekolah yang bersangkutan dan melakukan observasi atas sekolah tersebut, jangan hanya sekedar cari info dari orang-orang yang anda kenal saja. Informasi tentang sistem pembelajaran, jam belajar, biaya, guru-guru, tugas-tugas, standar ketuntasan, kegiatan ekstra kurikuler dan lain-lain

Jarak rumah ke sekolah

Memang sebaiknya kita memilih sekolah yang dekat dengan rumah, supaya praktis. Akan tetapi bukan berarti pula bahwa sekolah terdekat akan menjadi sekolah yang terbaik bagi anak kita. Sehingga apabila kita memutuskan memilih sekolah yang jaraknya jauh dari rumah, maka ada hal-hal yang perlu diubah dalam kebiasaan anak. Misalnya membiasakan anak bangun lebih pagi, mengajari anak naik kendaraan umum, mengenalkan mereka untuk ikut antar jemput dan sebagainya.

Faktor Guru

Sampai sekarang saya masih percaya bahwa jam terbang mengajar guru menentukan kualitas  pengajaran. Guru masih sangat menentukan kenyamanan siswa belajar di kelas dan berpengaruh pada pemahaman dan prestasi belajar siswa. Guru dengan jam mengajar yang panjang akan banyak memberi nuansa mengajar. Sekolah-sekolah baru dengan guru yang masih keluar masuk perlu jadi catatan orang tua untuk mempertimbangkan anaknya sekolah di sana. Idealnya adalah guru ganti setiap tahun ajaran. Perlu dicermati pula, bila sekolah sampai asal menancapkan guru tanpa kualifikasi yang tepat. Kepandaian dan gelar seorang guru belum jadi jaminan ia mampu mengajar dengan baik dan menyenangkan. Mengajar adalah seni dan guru ada aktrisnya.

Bijaklah memilih sekolah

Dari pengalaman saya bergaul dengan anak-anak selama bertahun-tahun, saya masih begitu prihatin dengan pertimbangan orang tua dalam memilh sekolah untuk anak-anaknya, terutama untuk anak usia dini. Sekarang banyak sekolah untuk bayi usia 2 tahun, tidaklah salah kalau anda ingin menyekolahkan bayi anda, tetapi menurut saya, di usia sedini itu mereka belum mengerti apa arti sekolah. Juga ada sekolah yang memberikan pelajaran “lebih tinggi” dari rata-rata sekolah lainnya. Untuk anak usia balita mereka cukup mengenal angka, huruf, kata, kalimat pendek dan berhitung sederhana. Pelajaran “lebih tinggi” lebih banyak demi gengsi orang tua karena balitanya jadi luar biasa. Bisa jadi bahan pembicaraan yang luar biasa karena balintanya mampu membaca koran dan berhitung perkalian. Tapi tentu bukan itu tujuannya bukan? Pelajaran yang tidak semestinya akan menuai masalah berupa penyimpangan tingkah laku.

Sementara untuk sekolah dengan bahasa pengantar berbahasa Inggris, tentunya anak di rumah juga menggunakan pengantar bahasa Inggris. Sangat menyulitkan anak beradaptasi karena dia tidak mengerti apa yang disampaikan oleh guru dan pembicaraan dengan teman-temannya juga akan terhambat. Hal ini membuat anak merasa minder kalau tidak dapat segera mengejar ketinggalannya

Tingkat kesulitan dan tugas-tugas setiap sekolah juga berbeda-beda. Ada sekolah yang mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi, harus diperhitungkan kemampuan anak kita seperti apa. Jangan memaksakan anak bersekolah di tempat yang membuatnya menjadi pribadi yang gagal. Tugas-tugas yang berlebihan juga akan membuat anak merasa kewalahan, kelelahan, tidak punya waktu bermain dan bersosialisasi. Ia akan merasa dirinya bodoh, malas belajar, tidak percaya diri dan bakat-bakatnya tidak berkembang.

Sekolah yang baik adalah sekolah yang programnya memberi kesempatan kepada semua anak untuk berkembang. Setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, memang sebagian besar penilaian hasil belajar adalah kemampuan akademis. Tetapi sekolah juga tetap harus memberi porsi pada kemampuan anak di bidang yang lain. Pada kenyataannya di sekolah selalu ada anak yang punya kemampuan lebih di bidang non akademis yang tidak seimbang dengan kemampuan akademisnya. Hal ini akan punya arti bagi mereka, menjadi menghargai dirinya dari sisi lain kemampuannya.

Sekolah yang menjunjung pendidikan moral dan budi pekerti yang baik juga perlu anda pertimbangkan. Anak-anak kita tidak cukup hanya dididik menjadi sosok yang pandai secara akademis saja. Tetapi sekolah dengan pendidikan nilai-nilai moral, keagamaan dan kebiasaan-kebiasaan yang baik akan menjadikan mereka kelak menjadi sosok manusia yang unggul dan luhur. Bagaimanapun nilai-nilai moral itu tidak bisa dipelajari secara instant, ada proses panjang pembiasaan untuk menjadikannya bagian kehidupan yang dijalani tanpa beban lagi. Saya tetap yakin pendidikan kebersihan, kerapian, ketertiban, kedisiplinan, kejujuran dan bertanggung jawab terjadi karena pembiasaan yang bertahun-tahun. Masa-masa di pendidikan dasar seperti SD dan SMP itulah masa yang tepat mereka menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik.

Dengan mengenali putra-putri kita secara obyektif, kita akan lebih bijak memilih sekolah untuk anak kita. Letakkan mereka di sekolah yang terbaik untuknya, walaupun mungkin sekolah itu bukanlah sekolah yang favorit atau terbaik menurut banyak orang. Biarlah mereka tumbuh subur di tanah yang cocok untuknya, dan menjadi pohon yang tinggi dan berbuah banyak. Kita akan bangga padanya, karena kita sebagai orang tua ikut andil dengan pilihan bijak kita dalam memilihkan sekolah untuknya saat mereka masih anak-anak.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Messenger Apps di Android yang Akan …

Kevin Anandhika Leg... | | 22 August 2014 | 20:10

Serial Animasi Lokal Mulai Muncul di …

Pandu Aji Wirawan | | 22 August 2014 | 18:29

Keputusan MK tentang Noken, Bagaimana …

Evha Uaga | | 22 August 2014 | 12:23

Berlian …

Katedrarajawen | | 22 August 2014 | 20:01

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: