Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Afif Fajar Zakariya

Afif Fajar Zakariya Pelajar di Arsitektur UB. Blog: http://ubahlahdunia.blogspot.com Vlog: http://www.youtube.com/afifariya selengkapnya

Transkrip Video ‘Rebutan Pacar’ Pelajar SMA di Pasuruan

REP | 22 May 2013 | 17:23 Dibaca: 1036   Komentar: 3   1

Masih teringat dengan beredarnya video penistaan agama beberapa waktu yang lalu oleh pelajar SMA, kini dunia internet kembali dihebohkan dengan adanya video bejudul “Rebutan Pacar” yang terbagi atas menjadi dua bagian, yang dilakukan oleh pelajar SMA di Pasuruan. Jika kita melihat sekilas video tersebut, maka yang kita lihat hanyalah kekerasan dan bullying yang dilakukan oleh segerombolan anak SMA kepada salah seorang anak SMA lainnya.

13692186411012003072

Tapi jika disimak baik-baik percakapan mereka, alasan atas perbuatan bullying ini sungguh konyol. Bahkan beberapa bagian percakapan mereka membuat saya tertawa. Duh! Menggelikan. Saya sendiri heran dan sempat melongo karena belum pernah menonton perempuan yang bertengkar seperti ini, kecuali adegan Jupe dan Depe yang cakar-cakaran pada adegan sebuah film.

Bagi Anda yang mengerti bahasa Jawa bisa langsung memahami kekonyolan ini, bagi yang tidak saya coba tuliskan transkrip percakapan video “Rebutan Pacar” ini.

–oOo—

Keterangan:
SMK-x    = Perempuan yang menjadi korban bullying
SMA-y    = Perempuan berbaju biru

Teman  = Teman-teman perempuan berbaju biru yang selalu menyahut, berkomentar dan memprovokasi.

–oOo—

PART 1

SMK-x    : “Sepurane mbak (maaf mbak)”

SMA-z    :  “Gelem ta aku nyepurani koen? (Emang mau kah saya memaafkan kamu?)”

Teman  : ”Lek aku yo langsung tak krawuk. (Kalau saya ya langsung saya cakar saja)”

“Loh, mari, mari (Loh, sudah selesai, sudah selesai tadi)”

“Nggak kesuwen koyok Nanda (Tidak kelamaan seperti Nanda)”

“Cium kaki! Cium kaki!”

“Jupukno garpu wes, ben gak dowo (Ambilkan garpu deh saja biar tidak panjang)”

“Ojok, ojok, ojok (Jangan, jangan, jangan)”

SMA-y    : [menampar wajah]
Teman  : “Aduh kenek akuuu!” (aduh kena sayaaa!)

SMA-y    : [mulai memegang kepala, mencakar dan menjambak-jambak]

SMK-x    : “Mbak, mbak Nanda..”  [berteriak]

Teman  : “Nan, ojok (Nan, jangan)”

“Huh, cakaren wes (cakar saja, sudah)” [memprovokasi]

SMA-y    : “Heh ndelok aku, raimu (heh lihat saya, mukamu)”

SMK-x    : “Ya sepurane mbak (ya maafkan saya mbak)”

SMA-y    : [Menjambak rambur sambil mencakar bagian wajah]
Teman  : “Nan! Nan!” [mencoba menyudahi]

“Mangkane ojok wani-wani dek (makannya jangan berani-berani, dik)”

SMK-x   : ”Sepurane mbak (maafkan saya mbak)” [memohon-mohon]
Teman  : “Uwes-uwes, gak usah nambah-nambah (sudah-sudah tidak perlu menambah-nambahi)”

SMK-x    : “Aku pengen njauk sepurane karo mbak Nanda ancene (Saya ingin meminta maaf kepada mbak Nanda, sebenarnya)”

SMA-y    : [menendang lalu memukul kepala]

“Raimu gak onok ayu-ayune! (mukamu tidak ada cantik-cantiknya!)”

PART 2

Teman  : “Iku loh beb, beb. Ya Allah, Nan.” [mengambilkan tisu, sepertinya pipi SMK-x berdarah]

“Gak popo beb, salahe dewe (tidak apa-apa beb, salahnya sendiri)”

SMK-x    : [memegang pipi sambil kesakitan]

SMA-y    : “Lek gak terimo ajokno kabeh bolomu (kalau tidak terima, datangkan semua temanmu)”

SMK-x    : “Endak wes mbak (tidak deh mbak)”

Teman  : “Bersihono (bersihkan saja)” [sambil memberikan tisu]

SMA-y   : “Celukno kabeh bolomu lek kon gak terimo (panggil saja semua temanmu kalau kamu tidak terima)”

Teman  : “Mangkane koen ojok wani-wani  (makannya jangan berani-berani)”

“Wes eroh arek iku wes nduwe pacar (sudah tau anak itu sudah punya pacar)”

SMA-y    : “Kon wes eroh Aji mbek aku (Kamu sudah tau Aji sama saya)” [menampar wajah]

“Eroh se raimu? (tau kan, mukamu?)”

“Lapo koen? (ngapain kamu?)” [menampar wajah, menampar lagi, lalu menjambak]

Teman  : “Kenek koen! (kena kamu)”

“Wes beb, beb, beb, beb (sudah beb, beb, beb, beb)” [Mencoba mengajak pergi]

SMK-x    : “Iyo mbak, sepurane mbak (iya mbak, maaf mbak)”

“Aku pulang yo (saya pulang ya)” [setelah tau SMA2 sudah pergi]

Teman  : “Loh gak iso (oh tidak bisa)” [ketawa]

SMK-x    : “Aku pasti digoleki mbak (saya pasti dicari, mbak)”

“Ngkuk aku digepuki maneh (nanti saya dipukuli lagi)”

Teman  : “Gak popo iku urusanmu (tidak apa-apa itu urusanmu)”

“Mesisan loro (sekalian sakit)”

“Salah raine nggawe pemutih, tipis, langsung kreek, ngene wes (sudah mukanya pakai pemutih, tipis, langsung krek, gitu deh)”

“Iyo iku kulite kakean- (iya itu kulitnya kebanyakan-)” [tiba-tiba ada tangan memukul lagi]

SMK-x    : [menangis]

Teman  : “Menengo lambemu. (diam mulutmu)”

“He lambemu ojok -gak usah anu- (he, mulutmu jangan-nggak perlu anu-)”

“Cek ramene (rame sekali sih)” [pukulan terakhir]

SMA-y    : [tidak peduli sambil mengambil tas]

–oOo—

Dalam video bagian kedua saya benar-benar heran karena terlihat ibu-ibu yang sedang menyusui dan seorang laki-laki yang bersikap cuek-cuek saja saat bullying ini terjadi. Mengapa mereka tidak mencoba menghentikan? Apakah mungkin karena budaya dalam menyelesaikan permasalahan mereka, berbeda dengan kita, terutama saya? Kalau saya ada di sana akan saya coba hentikan sih, karena dari informasi yang akhir-akhir ini saya baca, perempuan yang sedah marah karena patah hati, cemburu atau karena mempermasalahkan laki-laki, mereka bisa saja gelap mata dan melakukan hal-hal tidak pernah bisa saya bayangkan sebelumnya, seperti memotong alat kelamin sang laki-laki. Kenapa bisa seperti itu? Mengapa wanita yang seharusnya santun dan terhormat pada masa ini bisa menjadi mengerikan?

Bagaimana pendapat Anda tentang video ini, melihat pelajar, generasi muda, wanita pula, melakukan hal-hal demikian?

Salam Kompasiana.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melukis Malam di Bawah Lansekap Cakrawala …

Dhanang Dhave | | 21 October 2014 | 13:50

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | | 21 October 2014 | 11:59

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | | 21 October 2014 | 10:02

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 5 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 8 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 11 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Angin Kencang, Ini Teknik Menyetir …

Sultan As-sidiq | 7 jam lalu

Golkar Jeli Memilih Komisi di DPR …

Hendra Budiman | 8 jam lalu

Rekor MURI Jokowi …

Agus Oloan | 8 jam lalu

Cerpenku: Perempuan Berkerudung Jingga …

Dewi Sumardi | 8 jam lalu

Kecurangan Pihak Bank dan Airline Dalam …

Octavia Eka | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: