Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Eko Oesman

Indahnya berbagi

Masuk Surga dengan 25 Ribu, Mau?

OPINI | 23 May 2013 | 07:13 Dibaca: 284   Komentar: 5   0

“Clink”, jangan lupa ya bi, besok Umi ke kelas abang, terus Abi ke kelas adek pesan si Umi lewat bb. Sabtu besok rapat komite sekolah digelar lagi. Bagi sebagian wali murid pertemuan ortu dan guru tidaklah penting. Buktinya tidak semua bisa hadir. Bisa jadi waktunya berbenturan dengan acara arisan keluarga, kondangan, family gathering kantor dan lain-lain. Rapat biasanya diawali dengan pemaparan rencana kerja tim guru selama 1 semester ke depan. Isinya tentang materi pelajaran, jadwal ujian dan beberapa catatan tentang kelakuan anak-anak. Selesai presentasi dilanjutkan tanya jawab. Orangtua bertanya, guru berusaha menjelaskan. Kadang muncul perbedaan pandangan.

Di tempat lain, di sebuah masjid juga berlangsung pertemuan orang tua wali santri dengan para guru. Kali ini pertemuan pembagian rapor. Setelah penjelasan panjang lebar oleh para guru dan pengurus TPA, orang tua bertanya dan guru berusaha menjelaskan. Kadang muncul perbedaan persepsi.

Kenapa timbul perbedaan pandangan dan persepsi? Jujur saja, ketika saya memasukkan Alif mengaji di masjid dekat rumah saya sangat berharap dia bisa mengaji dan menjadi anak sholeh. Keinginan standar nan luhur dari orang tua seperti saya. Lalu apa yang terjadi? Alhamdulillah, berkat bimbingan, kesabaran, pengorbanan para guru, kepedulian dan dukungan penuh dari kami, doa yang selalu kami panjatkan serta contoh dan tauladan yang kami berikan, Insya Allah Alif hingga hari ini sudah bisa mengaji. Di sisi lain ada yang protes kok udah mengaji sekian tahun belum bisa juga sich? kok beda? Masalahnya di mana? Masalahnya adalah, seringkali kita hanya menyerahkan si buah hati ke sekolah atau ke TPA, terus menuntut hasil tanpa melakukan apa yang disebut dukungan, kepeduliaan, contoh bahkan doa yang tulus. Secara berkelakar pernah saya sampaikan kepada para orang tua dalam pertemuan tersebut “buat SPP mengaji 25 ribu saja kita kadang perhitungan, kok mahal sich? padahal kita pingin banget anak kita bisa mengaji, sholat dengan baik dan masuk surga”, sementara tiket nonton Justin Beiber seharga Rp. 1 juta kita bela-belain.

Sekolah atau TPA bukannya tidak butuh kritik, tetapi kritik dengan solusi, pertanyaan diikuti jalan keluar dan saran yang menyelesaikan masalah lebih dibutuhkan. Seringkali kita terbuai dengan retorika, pencitraan dan obsesi masa kecil yang membabi buta, menyebabkan orang tua tidak peduli, hanya bisa menuntut hasil tapi cuek dengan proses. Percuma dong bayar SPP mahal kalo sekolah nggak bisa mengajar dengan baik?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 12 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 13 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 14 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: