Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Eko Oesman

Indahnya berbagi

Masuk Surga dengan 25 Ribu, Mau?

OPINI | 23 May 2013 | 07:13 Dibaca: 285   Komentar: 5   0

“Clink”, jangan lupa ya bi, besok Umi ke kelas abang, terus Abi ke kelas adek pesan si Umi lewat bb. Sabtu besok rapat komite sekolah digelar lagi. Bagi sebagian wali murid pertemuan ortu dan guru tidaklah penting. Buktinya tidak semua bisa hadir. Bisa jadi waktunya berbenturan dengan acara arisan keluarga, kondangan, family gathering kantor dan lain-lain. Rapat biasanya diawali dengan pemaparan rencana kerja tim guru selama 1 semester ke depan. Isinya tentang materi pelajaran, jadwal ujian dan beberapa catatan tentang kelakuan anak-anak. Selesai presentasi dilanjutkan tanya jawab. Orangtua bertanya, guru berusaha menjelaskan. Kadang muncul perbedaan pandangan.

Di tempat lain, di sebuah masjid juga berlangsung pertemuan orang tua wali santri dengan para guru. Kali ini pertemuan pembagian rapor. Setelah penjelasan panjang lebar oleh para guru dan pengurus TPA, orang tua bertanya dan guru berusaha menjelaskan. Kadang muncul perbedaan persepsi.

Kenapa timbul perbedaan pandangan dan persepsi? Jujur saja, ketika saya memasukkan Alif mengaji di masjid dekat rumah saya sangat berharap dia bisa mengaji dan menjadi anak sholeh. Keinginan standar nan luhur dari orang tua seperti saya. Lalu apa yang terjadi? Alhamdulillah, berkat bimbingan, kesabaran, pengorbanan para guru, kepedulian dan dukungan penuh dari kami, doa yang selalu kami panjatkan serta contoh dan tauladan yang kami berikan, Insya Allah Alif hingga hari ini sudah bisa mengaji. Di sisi lain ada yang protes kok udah mengaji sekian tahun belum bisa juga sich? kok beda? Masalahnya di mana? Masalahnya adalah, seringkali kita hanya menyerahkan si buah hati ke sekolah atau ke TPA, terus menuntut hasil tanpa melakukan apa yang disebut dukungan, kepeduliaan, contoh bahkan doa yang tulus. Secara berkelakar pernah saya sampaikan kepada para orang tua dalam pertemuan tersebut “buat SPP mengaji 25 ribu saja kita kadang perhitungan, kok mahal sich? padahal kita pingin banget anak kita bisa mengaji, sholat dengan baik dan masuk surga”, sementara tiket nonton Justin Beiber seharga Rp. 1 juta kita bela-belain.

Sekolah atau TPA bukannya tidak butuh kritik, tetapi kritik dengan solusi, pertanyaan diikuti jalan keluar dan saran yang menyelesaikan masalah lebih dibutuhkan. Seringkali kita terbuai dengan retorika, pencitraan dan obsesi masa kecil yang membabi buta, menyebabkan orang tua tidak peduli, hanya bisa menuntut hasil tapi cuek dengan proses. Percuma dong bayar SPP mahal kalo sekolah nggak bisa mengajar dengan baik?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47

Ibu Renta Itu Terusir …

Muhammad Armand | | 22 December 2014 | 09:55


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 7 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 9 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 10 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: