Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Maya Indriyatini

I wanna be a good teacher | PKnH - UNY | Bekasi - Yogyakarta

Makna di Balik Kata “Kelulusan Ujian Nasional”

OPINI | 24 May 2013 | 14:10 Dibaca: 354   Komentar: 2   1

Hari ini seluruh siswa di jenjang pendidikan SMA/SMK dan yang sederajat sedang menantikan sebuah pengumuman yang paling ditunggu-tunggu dalam perjalanan 12 tahun selama menempuh pendidikan di instansi formal. Pengumuman itu adalah “kelulusan UN 2013”.

Tentunya kegembiraan dan kebanggaan menghampiri bagi mereka yang lulus. Biasanya mereka merayakan kelulusan dengan mencoret-coret baju, konvoi tidak jelas di jalan, pesta bakar tembakau dan sebagainya. Perilaku tersebut sama sekali tidak mencerminkan orang-orang yang telah mengecap pendidikan. Sementara itu, anak-anak di pinggiran jalan masih jauh lebih nampak terdidik walaupun mereka buta huruf.

Hal yang tragis, justru dialami oleh mereka yang tidak lulus dalam ujian akhirnya.Karena merasa tertekan akan yang dialaminya itu, ada beberapa diantara mereka yang mencoba bunuh diri. Mereka beranggapan bahwa masa depan mereka sudah hancur dan sudah tidak layak hidup di dunia.

Inilah akibat dari pendidikan yang berorientasi pada nilai. Siswa yang meraih nilai 1000 dianggap pintar, sedang siswa yang meraih nilai 50 dianggap bodoh. Memamng tidak salah jika nilai dijadikan salah satu indicator evaluasi proses belajar. Tetapi yang dilakukan bukan hanya proses belajar saja, tetapi pendidikan. Proses belajar dapat menyebabkan orang yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, sedangkan pendidikan membangun nilai-nilai yan baik pada diri seseorang. Namun, jika kelakuan para siswa yang lulus itu seperti contoh diatas apa mereka lauak dikatakan “lulus” dari pendidikannya dan dianggap sebagai orang terdidik.

Lulus bukanlah persoalan waktu saja. Jika sudah mengikuti proses pendidikan menengah atas selama 3 tahun maka siswa akan lulus. Tetapi harus diadakan proses penilaian dan jika belum layak maka biarkan siswa tersebut berjuang untuk mengikuti proses pendidikannya dengan lebih baik lagi.

Begitulah seharusnya pendidikan, menghasilakn padi yang banyak bijinya namun semakin merunduk dan mengerti akan arti kehidupan. Bangsa ini memang memerlukan orang-orang pintar, tetapi mereka akan sama saja dengan kera jika tidak terdidik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 8 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 9 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 10 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Photo-Photo: “Manusia Berebut Makan …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kisruh di DPR: Jangan Hanya Menyalahkan, …

Kawar Brahmana | 8 jam lalu

Saran Prof Yusril Ihza Mahendra Kepada …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Korupsi yang Meracuni Indonesia …

Cynthia Yulistin | 8 jam lalu

MA Pasti Segera Bebas, Karena Kemuliaan …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: