Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pejalan Kaki

Menulis adalah bagaimana cara memecah kebekuan berfikir

Kesalahan Dikotomi Ilmu

OPINI | 25 May 2013 | 08:29    Dibaca: 301   Komentar: 2   0

Ilmu pengetahuan hakikatnya untuk memberi kemudahan dan kebahagiaan bagi kehidupan umat manusia. Dengan ilmu pengetahuan diharapkan semua persoalan mudah untuk dituntaskan. Ilmu pengetahuan berawal dari berbagai pengalaman manusia atas persoalan-persoalan di sekitarnya dengan menggunakan berbagai pendekatan sehingga tercipta sebuah pengetahuan.

Pengetahuan terbagi dalam dua kelompok, yaitu pengetahuan biasa (common sense) dan pengetahuan ilmiah (science). Pengetahuan biasa diperoleh dari pengalaman sehari-hari yang sederhana, semisal mandi menghilangkan bau badan, lampu dapat menerangi jalan, dan sebagainya. Pengetahuan biasa ini merupakan sesuatu yang diyakini oleh semua orang.

Berbeda dengan pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah lebih sistematis, memiliki metode yang jelas, dan megupas berbagai penyebab sampai tuntas. Meskipun berbeda, pada intinya semua pengetahuan mengarah pada tujuan mencari kebenaran. Dari klasifikasi tersebut sebenarnya pengetahuan ilmiah atau yang lebih populer disebut ilmu pengetahuan merupakan pengembangan dari pengetahuan biasa atau common sense.

Ilmu pengetahuan memiliki dua macam objek, yaitu material dan formal. Objek material adalah sasaran penyelidikannya, seperti tubuh manusia yang menjadi obyek material ilmu kedokteran. Sedangkan obyek formal adalah metode memahami objek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif (Bakhtiar, 2004:1).  Ilmu pengetahuan dikelompokkan dalam beberapa macam, menurut Randall dalam buku karya Drs. Burhanudin Salam, ilmu terbagi dua yaitu ilmu formal, yang meliputi matematika dan logika formal, dan ilmu empiris, yang mencakup dua cabang, yaitu (1) Physical Science, sperti: kimia, biologi, dan fisika. (2) Social Science, seperti : sosiologi, psikologi, antropologi, psikologi sosial, dan lain-lain.

Sedangkan dalam dunia pendidikan kita, pembagian ilmu juga dibagi dua, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tetapi ketika masa orde baru, anak-anak IPA dianggap pintar sedangkan IPS dianggap “kurang pintar”. Meskipun sekarang persepsi tersebut sudah ditinggalkan.

Sekarang ini banyak orang menganggap praktik lebih penting ketimbang teori. Seringkali yang teori dianggap kurang menekankan aksi sedangkan praktik lebih memerankan dirinya dalam bentuk aksi (Freire, 1999:41), atau lebih mudahnya teori lebih sering dianggap “banyak omong”. Sebenarnya teori dan praktik saling mendukung, jelas bahwa praktik tidak akan jalan tanpa teori, seorang dokter tidak bisa mengoperasi pasiennya jika teorinya belum paham.

Pada akhirnya menurut Paulo Freire, yang menjadi lawan dari praktik bukanlah teori (yang tidak dapat dipisahkan dari praktik), tetapi pemikiran-pemikiran kosong dan imitatif.

Referensi

Salam, Burhanudin. 2003. Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara

Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Freire, Paulo.1999. Politik Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sudut Perempuan Dalam Iklan Rokok …

Bai Ruindra | | 25 May 2015 | 15:54

Suksesnya Pagelaran Malang Youth Day 2015 …

Mbah Ukik | | 25 May 2015 | 18:28

[Nangkring] Bedah Copa América 2015 Bersama …

Kompasiana | | 25 May 2015 | 18:23

Menjaring Ide ala Cita Citata, Deep Purple …

Rumahkayu | | 25 May 2015 | 18:59

[Blog Competition] Selfie Moment …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 17:04


TRENDING ARTICLES

Meluruskan Opini Publik yang Keliru: Wakil …

Himam Miladi | 5 jam lalu

Wibawa Bupati Subang Ojang Sohandi, Jeblok! …

Jadiah Upati | 7 jam lalu

Saat Timnas Menanti Deadline FIFA, Thailand …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Terobsesi Menulis Hingga Lupa Anak Istri …

Tjiptadinata Effend... | 17 jam lalu

Wacana Menristek Opsionalkan Skripsi, Kabar …

Liafit Nadia Yuniar | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: